
slurp kini Zea berada di tepi pantai sambil menyeruput es kelapa mudanya. Dia benar benar bosan setelah menghabiskan waktunya tadi di mall setelah jogging.
Drt
drt
drt
Zea menatap malas layar ponselnya yang berkedip, ada pesan singkat masuk dan dia sangat malas untuk membalasnya.
...Om Beruang : Shareloc di mana kamu berada bocah, aku ada perlu denganmu? "...
"Ck buat apa dia meneleponku!
Di surga, memangnya om mau nyusul aku. ●︿●
Cepat katakan, ada apa om! aku enggak suka basa basi!
Zea menghabiskan es kelapa mudanya, setelah itu menatap lurus kearah pantai. Berkali kali dia membuang nafas berat, mengingat pertemuannya dengan Dilla, perempuan yang mirip dengannya.
Gadis konyol, aku perlu bantuanmu dan sekarang katakan di mana lokasimu!
Zea akhirnya menyebutkan alamatnya, tak lama Arshaka datang dan duduk di sebelah gadis itu. Zea menoleh, menatap datar kearah pria dewasa di sebelahnya ini. "Aku ingin kamu menjaga mona, dia lagi sakit. "
"Oh mbak mantan, lagian dia sudah dewasa bukan anak anak yang mesti di jagain. " Arshaka menghela nafas panjang, menghadapi Zea butuh kesabaran extra.
"Ck dasar gadis matre, aku akan membayarmu nanti. " Zea menoleh, berdecak kesal mendengar ucapan Arshaka barusan, namun tak lama kemudian tersenyum miring.
"Terserah om beruang mau ngatain aku apa, tapi di dunia ini harus realistis om, semua orang juga butuh duwit kali dan keputusanku tetap sama, yaitu menolaknya! Zea bersikap acuh tak acuh, lagian mana mau dia merawat orang apalagi orang itu masa lalunya si Beruang.
Zea melirik jam tangannya sekilas, kemudian berbaring di atas tikar yang dia bawa tadi. Tak mempedulikan Arshaka yang terlihat sangat frustrasi saat ini. Arshaka menatap intens kearah Zea kemudian tersenyum licik. "Kenapa kamu menolaknya, apa jangan jangan kamu cemburu melihatku perhatian sama Mona.
Zea hanya tertawa terbahak bahak mendengar ucapan konyol Arshaka. Dia kembali meliriknya dengan semyuman mengejek, tak habis pikir dengan kepercayaan diri dari si beruang. "Cinta memang apaan om, aku masih sekolah belum boleh mikirin cinta cintaan. "
"Lagian memangnya mata aku bilang, aku cinta sama om ya haha narsis banget sih. Dengarin kata kataku ini ya om, lebih baik balikan saja sama mbak mantan daripada kelamaan jomblo, jadi perjaka tua wkwk. "
"Capek ngomong sama gadis udik sepertimu. " Arshaka bangkit dan pergi meninggalkannya, Zea tertawa pelan sambil melambaikan tangannya, dia merasa tak tersinggung dengan panggilan Arshaka padanya.
Zea menghentikan tawanya, melirik jam tangannya lalu bangkit dan menghubungi kakaknya, untuk menjemput. Tak lama Sakti datang dengan motornya, Zea langsung duduk di belakang. Sakti melajukan motornya dengan kencang, kakak beradik itu saling mengobrol.
##
Sampai di rumah Zea mengajak Tiara sahabatnya menuju ke kamarnya, Sakti menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu. Pria tampan itu langsung duduk di sofa bergabung dengan ayah dan ibu.
"Ra, aku ingin bicara sesuatu nih? "
"Katakan saja Ze, aku siap kok buat mendengarkannya! Zeapun menghela nafas panjang kemudian mengalirlah ceritanya. Setelah selesai Tiara sangat syok dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya ini.
"Ini dia masalahnya Ra, aku enggak berani bertanya, takut melukai perasaaan Ayah dan Ibu. " Zeapun menunduk sedih, dia penasaran apakah dirinya memiliki saudara yang lain selain kakaknya. Tiara merasa kasihan pada sahabatnya, dia memeluknya sekilas lalu melepaskannya.
"Ya sudah aku ke luar ya, sebaiknya kamu bersih bersih, bau tahu. "ujar Tiara sambil menutup hidungnya. Zea langsung mencium ketiaknya kemudian berdecak kesal, Tiara bangkit dan ke luar dari kamar Zea sambil tertawa.
"Calon kakak ipar menyebalkan. " sungutnya. Zeapun berbalik dan pergi ke kamar mandi. Setelah satu jam gadis tomboy itu baru ke luar dan segera memakai pakaiannya sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
**
Di mansion keluarga Malik
"Om Shaka, kakak cantiknya mana! kok enggak pulang sama om. " ucap Khanza dengan polos.
Arshaka membuang nafas kasar, lalu melirik kearah keponakan cantiknya. "Za dengerin om, kakak cantik itu bukan siapa siapa jadi jangan cariin dia lagi. " tegas Arshaka.
"Shaka. " bentak mommy Jingga emosi.
Mata Khanza berkaca kaca mendengar ucapan omnya, oma Jingga segera meraih cucunya itu kemudian memangkunya. Khanza langsung menangis dalam pelukan omanya, Arshilla menatap tajam kearah kakaknya itu.
"Khanza masih kecil kak, seharusnya kakak enggak bicara seperti tadi. " geram Arshilla kecewa dengan sikap Arshaka.
"Zea bukan siapa siapa di sini, bisa besar kepala gadis udik itu. " Setelah mengatakan hal itu Arshaka langsung pergi begitu saja.
"Hiks Oma om shaka jahat, om Shaka enggak sayang Za hiks. " Oma Jingga berusaha menenangkan cucu kesayangannya itu dengan nada lembut. Oma bangkit dan membawa Khanza menuju ke kamarnya, daddy Mike menoleh kearah menantu dan puterinya.
"Dad, kak Shaka sangat keterlaluan. Sebaiknya Daddy nasihatin dia, kasihan khanza Daddy. " ujar Arshilla pada daddynya. Daddy meghela nafas berat, dia mengangguk mengiyakan ucapan puterinya. Arshillapun bangkit di bantu Alvaro, keduanya pamit pada Daddy menuju ke kamar mereka.
Di dalam kamar mereka, Alvaro berusaha menenangkan emosi istrinya. Dia usap punggung Shilla dengan lembut kemudian membantunya bersandar di kepala ranjang. "Sayang, jaga emosi kamu. Kamu sedang hamil besar saat ini. " tegurnya.
"Kak Shaka benar benar keterlaluan mas, aku kasihan sama puteri kita. " balas Arshilla dengan sorot mata kecewanya. Alvaro menghela nafas panjang, sangat sulit menegur istrinya yang tengah emosi seperti ini dan dia perlu extra sabar. Alvaro meraih tangan istrinya kemudian mengecupnya singkat, tak lupa mengusap perutnya yang besar dengan lembut.
"Biar Daddy yang mengurusnya sayang, kamu tenang ya dan ingat kamu sedang hamil Yank. Aku enggak mau kamu dan calon baby kenapa napa! Arshilla terdiam, apa yang dikatakan suaminya benar. Dia tak boleh terlalu emosi, bisa bisa berdampak pada calon bayi dalam kandungannya. Alvaro bernafas lega, dia tersenyum lembut kearah istrinya yang sangat dicintainya.
Arshilla mengusap perutnya yang besar, selama kehamilannya perasaannya memang sensitif dan muda marah. Alvaro tersenyum hangat, memperhatikan apa yang di lakukan istrinya.
Cklek pintu terbuka, Arshilla dan Alvaro menoleh dan keduanya tersenyum kala puteri mereka masuk. "Sini sayang, mau cium calon adik bayi enggak. "
"Mau mommy. " Khanza menghampirinya, Alvaro membantu puterinya naik ke atas ranjang setelah itu menciumi perut sang mommy dan mengajak bicara calon adiknya.
"Za sayang, Za pengin adik perempuan apa laki laki hemm? " tanya Arshilla pada puterinya.
"Perempuan saja mommy, laki laki pasti nakal kayak Om Shaka, Za enggak mau. " sungutnya. Alvaro dan Arshilla saling melirik satu sama lain kemudian tertawa kecil, kembali menatap puteri mereka itu.
bersambung
JANGAN LUPA LEMPAR KOPI DAN BUNGA