
Dimas dan mumut berpamitan pulang pada pak kiai ahmad dan murni. Di perjalanan pulang mumut mengajak Dimas untuk mampir di suatu tempat yang indah yaitu taman yang memiliki banyak bunga. Dimas pun mau di ajak oleh mumut menuju taman bunga.
Mumut sengaja mengajak Dimas ke taman bunga itu agar Dimas senang. Mereka kini sudah masuk ke dalam taman bunga itu, mumut yang sangat bahagia melihat bunga-bunga indah, di tambah ia bersama suaminya yang ia cintai, bagi mumut saat itu dunia miliknya. Mumut memegang erat tangan suaminya, sambil menatap wajah sang suami.
"Mas, aku senang dengan taman ini, apa lagi berdua dengamu." Mulut nencoba merayu Dimas agar mau tersenyum.
"Iyah, tamannya indah," ucap Dimas dengan wajah cuek.
"mas, kamu suka bunga apa?" tanya mumut saat ia memegang bunga melati.
"Aku laki-laki, jadi aku tak suka bunga."
"Oh,terus mas sukanya apa?" tanya mumut sambi menatap wajah sang suami
"Aku suka dengan wanita yang suka membaca, karena dengan membaca kita dapat mengetahui pengetahuan, seperti fatimah, wanita yang aku cintai ia suka membaca mangkanya ia cerdas." saat mendengar ucapan Dimas fatimah aga sedikit kesal.
"Oh ... Memangnya fatimah pernah dapat juara di pesantren? kalo benar ia perempuan cerdas pasti dapet juara terus dong!" ucap mumut yang menantang Dimas agar mau bercerita tentang fatimah, karena ia merasa kesal pada suaminya yang tiba-tiba menyebut nama fatimah di saat ia sedang bahagia.
"Ga, sih, ia belum pernah dapet juara lomba apa pun."
"Terus, kenapa kamu bilang dia cerdas?" ucap mumut dengan wajah yang sedikit marah.
"Aku tau dia cerdas dari temannya imas, kata imas fatimah cerdas."
"kamu itu lucu bangat sih mas, bilang fatimah cerdas sementara hanya kata orang, ha ... ha... ha, imas itu kan teman baiknya fatimah, ya jelas ia membaguskan fatimah, pahahal belum tentu si fatimah cerdas, buktinya ia tidak memiliki juara apa pun di pesantren," ucap mumut yang merasa lucu mendengar ucapan Dimas.
"tapi aku suka dia, fatimah itu sangat cantik," ucap dimas yang tidak bisa menjaga perasaan istrinya saat itu.
"Oh ... Memangnya aku jelek banget ya? senyum saja kamu belum pernah padaku."
"Maaf, aku belum bisa tersenyum padamu."
"Oh, tidak apa-apa mas, aku yakin suatu saat nanti kamu akan tergila-gila padaku." ucap mumut percaya diri.
Mereka pulang dari taman itu, mumut tetap merasa bahagia meski tadi sedikit kecewa, karena ia selalu yakin suatu saat nanti Dimas pasti mencintainya.
***
Sampai tiba di rumah, Dimas tiba-tiba sendalnya pegat, Dimas tersenyum lalu tertawa sampai giginya kelihatan semua, gigi Dimas sangat rapih dan bersih sampe buat mumut kagum melihatnya. Baru kali itu mumut melihat suaminya tersenyum.
"Senyummu manis bangat mas, aku kagum melihat gigimu yang rapih dan bersih! baru pertama kali aku lihat senyummu mas." ucap mumut kagum
"Biasa aja," ucap Dimas cuek.
"Maaf, aku belum bisa mut."
"ya, kamu harus bisa dong mas, mau kapan lagi, kita menikah hampir mau satu minggu, tapi kamu belum melaksanakan kewajibanmu." ucap mumut dengan ekspresi wajah serius.
"maaf mut, aku belum bisa." ucap Dimas cuek sambil menundukan kepalanya.
"mau sampe kapan mas? Kamu dosa besar loh." ucap mumut sedikit menakuti Dimas.
"Aku belum bisa." ucap Dimas lalu pergi meninggalkan fatimah.
Harus dengan cara apa lagi agar Dimas mau berhubungan dengannya, semua yang mumut lakukan belum bisa membuat Dimas mau melakukan kewajibannya.
Mumut akhirnya menyerah, ia membiarkan Dimas sendiri, mumut tak melakukan kewajibannya seperti menyiapkan makan, mencuci baju dan tidak mengajak Dimas lagi untuk tidur bersamanya.
"Mut, aku pinjem selimut, malam ini dingin banget." ucap Dimas yang merasa kedinginan.
"Maaf mas, selimutnya cuma ada dua yang satu di pake aku dan yang satunya kotor belum di cuci," ucap mumut yang terpaksa harus bohong, karena merasa kesal pada Dimas.padahal selimut mumut banyak di dalam lemari.
"Memang tidak ada selimut lagi?" tanya Dimas.
"Ga ada," ucap mumut cuek.
"Ya udah, aku tidur ya."
"Iyah."
Mumut tidak menyuruh Dimas tidur bersamanya, ia tidur di kasur yang ada ranjangnya sedangkan Dimas tidur di kasur lantai. Malam itu Dimas kedinginan ingin rasanya ia naik ke ranjang itu, tapi ia malu pada mumut.
'Tumben mumut tak mengajakku tidur bersamanya, biasanya kan, ia selalu mengajakku tidak bersama. Dingin bangat malam ini, apa aku naik aja ya ke ranjang itu? tapi aku malu kalo ga di suruh mumut, ya udah aku tunggu aja sampe mumut ngajak aku tidur bersamanya.' batin Dimas.
Dimas malam itu tak bisa tidur ia merasa kedinginan, sampe satu jam lebih menunggu mumut agar mau mengajaknya tidur bersama dalam satu ranjang, tapi tak ada ajakan dari mumut. Lalu ia keluar dari kamar itu menuju ruang tamu dan tidur di kursi sofa.
Rumah mumut kamarnya tiga, tapi hanya satu kamar yang ada kasurnya. Dua kamar itu tidak di isi apa-apa. Dimas terpaksa tidur di kursi sofa malam itu.
Sebenarnya mumut kasiyan melihat suaminya yang kedinginan, tapi ia tak mau mengajaknya tidur bersama, kerena merasa kesal.
"maaf kan, aku mas, tidak mengajak kamu tidur bersamaku, karena aku kesal padamu." gumam mumut sambil mengintip suaminya di pintu kamar.
Pagi hari biasanya mumut membuat sarapan untuk suaminya sebelum ia berangkat kerja, tapi pagi itu ia tak membuat sarapan, ia langsung berangkat kerja, ia juga tidak berpamitan pada Dimas.
"kenapa mumut tidak berpamitan padaku? biasanya kan, ia selalu pamitan saat ingin berangkat kerja." gumam dimas.
Dimas pagi itu perutnya lapar lalu ia memasuki dapur melihat ada makanan apa di meja makan. Saat ia membuka tutup meja makan tidak ada makanan.
"ko mumut tidak masak, biasanya kan, ia selalu masak untukku, apa kerena ia marah padaku?" gumam Dimas.
Karena Dimas lapar pagi itu, lalu ia membuka lemari es dan melihat banyak stock sayur-sayuran, ikan dan ayam. Lalu Dimas masak sendiri, Dimas masak sayur tumis kangkung, goreng ikan bawal dan sambel terasi. Dimas sudah biasa masak, karena waktu di pesantren pak kiai ahmad,semua para santri suka di jadwalkan piket masak untuk makan para santri oleh pak kiai agar para santri bisa mandiri.
Dalam 45 menit Dimas memasak. Semua masakan sudah di taro pada meja makan, langsung saja ia menyantap makanan itu, tak lupa berdoa dulu sebelum makan.
Usai makan ia juga mencuci baju, kerena mumut juga tidak mencucikan bajunya.