
Sampai Ridwan dan dua temannya di gang mawar. lalu ia bertanya pada salah satu orang di mana rumah pak Rt. Orang itu menunjukan ke arah kiri dengan rumah nomer 13. Ridwan dan kedua tamannya sudah sampai di rumah pak Rt.
"Assalamualaikum." ucap salam Ridwan.
"Waalaikumsalam." jawab salam pak Rt yang sedang berada di depan rumahnya.
"Apa bapak Rt di perumahan ini?" tanya Ridwan dengan sopan.
"Iyah betul? Ada apa? silahkan duduk?" titah pak Rt mempersilahkan duduk di kursi yang ada di depan rumahnya.
"Saya mau bertanya pak, boleh tidak?"
"Silahkan?"
"Bapak kenal tidak dengan orang yang bernama agus? Apa ada orang yang tinggal di perumahan ini namanya agus?" tanya Ridwan dengan wajah serius.
"Waduh ... Nama agus banyak di perumahan ini dek, ada yang sudah bapak-bapak, anak kecil dan ada yang berumur tiga puluh tahunan."
"Yang berumur tiga puluh tahun rumah nya di mana pak?" tanya Ridwan semakin penasaran.
"Rumahnya nomer 28 masih di gang mawar. Memangnya ada apa dek?" tanya pak rt.
"Gak apa-apa pak, saya ada perlu aja."
"Apa adik dan teman-temannya ini mau ngasih sumbangan secara langsung."
"Maksud bapak?" tanya Ridwan bingung.
"Orang yang bernama agus yang usianya tiga puluh tahunan itu punya penyakit stroke, dia kini tidak bisa apa-apa, buang air besar dan kecil pun di tempat."
"Sejak kapan agus itu stroke?"
"Dari usia Enam belas tahun, agus stroke karena di tinggal ayahnya mati. ayahnya mati karena di bunuh dengan cara sadis dan di bunuhnya di depan agus." jelas pak rt.
Ridwan terdiam sejenak, dia memikirkan adiknya. Ridwan kurang yakin jika agus yang di ceritakan bukan agus mantan fatimah.
"Apa ada lagi nama agus di perumahan ini pak?"
"Tidak ada, setau saya cuma itu."
"Kalo yang bapak-bapak itu usia berapa?"
"Kira-kira usia 55 tahun dek."
"Tua juga, mana mungkin adikku pacaran dengan bapak-bapak." gumam Ridwan dalam hati.
"Ya sudah pak terima kasih atas waktunya, saya dan teman-teman pamit pulang." ucap Ridwan pamit.
"Iyah." ucap pak rt sambil tersenyum.
Ridwan tidak langsung pulang, ia dan ke dua temannya menemui agus yang usia tiga puluh tahunan. Samapi di rumah agus, Ridwan melihat jelas agus yang di ceritakan pak rt memang benar ia stroke, lalu Ridwan pergi dalam perumahan itu dengan perasaan bingung.
"Aku bingung mencari agus di mana. Apa fatimah bohongin aku." gumam Ridwan dalam hati.
***
Sampai di rumah, Ridwan langsung menghampiri adiknya yang sedang main hp di kasur kamarnya. Ridwan bertanya dengan baik-baik.
"Dek, kakak sudah mencari orang yang bernama agus, tapi kakak tidak menemukannya. dulu pas kamu pacaran sama agus, dia usia berapa?"
"Usia dua puluh lima kak." ucap fatimah santai.
"Berarti bukan agus itu." gumam Ridwan dalam hati."
"Kamu tidak bohong 'kan sama kakak?"
"Tidak kak."
"Tapi, kenapa kakak tidak menemukan orang itu?"
"Ya gak tau kak, mungkin dia sudah pindah. Dulu itu dia kasih alamat itu 'kan palsu. Ngapain kakak cari dia."
"Sebelum nikah ngomong aja kalo aku bukan perawan lagi. gampang 'kan?" ucap fatimah santai.
"Bagaimana jika tidak ada laki-laki yang mau?"
"Banyak lah kak, aku 'kan cantik."
Ridwan hanya terdiam, tidak bertanya lagi. Ia sebagai laki-laki merasa kasian dengan nasib adiknya. Ridwan akan terus mencari agus. Adai Ridwan tau jika fatimah membohonginya pasti ia kecewa.
"Maaf 'kan aku kak, aku telah membohongimu." gumam fatimah dalam hati.
"Kakak akan terus mencarinya?" tanya fatimah.
"Iyah, aku akan mencari agus sampai ketemu."
"Kalo seandainya ketemu kakak mau apa?"
"Aku akan hajar dia, dan akan bawa dia ke sini?"
"Bawa ke rumah ini untuk apa kak?" tanta fatimah.
"Aku akan suruh dia nikahin kamu lah." ucap Ridwan dengan suara keras.
"Kalo dia sudah menikah gimana?"
"Aku akan suruh dia ceraikan istrinya. Enak aja dia mau hidup tenang setelah mengambil kesucian kamu."
"Tapi kalo aku tidak mau gimana kak."
"Kamu harus mau fatimah. Susah nyari pria yang mau terima kamu apa adanya meski kamu cantik, karena keperawanan itu nomer satu. Dan meski kamu di terima apa adanya oleh calon suamimu tapi nanti kamu kurang di hargai. Fatimah menjaga keperawanan itu nomer satu jika itu hilang kamu akan kurang di hargai suamimu." ucap Ridwan tegas.
Fatimah tidak melanjutkan bicara, dia terdiam. Dia mengingat akan masa lalunya yang dengan sengaja bercinta dengan pacarnya. Fatimah sudah melakukan hubungan itu sampai tiga kali.
"Ya allah, aku takut dengar ucapan kakakku. Apa pria seperti itu?" gumam fatimah dalam hati.
"Fatimah mengapa kamu diam saja?" Tanya Ridwan.
"Tidak apa-apa kak. Aku hanya memikirkan ucapan kakak tadi."
"Memang benar pria seperti itu. laki-laki itu meski dia kotor, tapi dia pengen dapet istri yang perawan."
"Terus kak, aku harus bagaimana?" tanya fatimah dengan wajah takut.
"Kamu tenang aja, kakak akan mencari agus sampai ketemu. Kalo sampe ayah tau pasti ayah akan marah besar dan mengantarmu ke pesantren yang lebih ketat bahkan jauh dari rumah. Atau mungkin kamu akan di nikahkan secara paksa dengan pria pilihan ayah itu pun jika pria itu mau menerimamu."
"Kakak, tolong jangan bilang masalahku sama ayah!" titah fatimah dengan wajah takut.
"Kalo aku boleh tau, kenapa kamu tergila-gila sama Dimas?" tanya Ridwan dengan tatapan mencurigai.
"Karena Dimas mantanku yang paling baik."
"Terus? Apa ada lagi?"
"Ya pokoknya dia yang terbaik kak. Kakak bisa 'kan bantu aku untuk dapatkan Dimas lagi?"
"Fatimah, Dimas itu sudah menikah. Buat apa kamu ngejar-ngejar dia? yang ada kamu makin sakit."
"Aku gak bisa lupain dia kak, dia itu lelaki sholeh. kalo aku jadi nikah sama Dimas, dia gak bakal bisa bedakan mana perawan atau bukan." ucap fatimah sambil senyum licik.
"Fatimah, pria itu mau dia pria sholeh atau bejat pasti mereka tau mana yang perawan dan bukan. Apa lagi Dimas sudah menikah jadi dia jelas sudah tau rasa perawan itu seperti apa."
"Aku gak yakin jika istrinya perawan. Istrinya 'kan bukan santri."
"Meski istrinya bukan perawan, Dimas pasti tau."
Karena Ridwan sudah cape bicara dengan adiknya. Dia lapar lalu dia ke luar dari kamar fatimah menuju dapur.
"Ya sudah, kakak mau makan nanti di lanjutkan lagi."
"Iyah kak?"