PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Memendam Rasa


Prak ... Prak. jatuh kitab dan buku imas di atas lemari kecil tempat menaruh bajunya. Tak ada angin tak ada gempa, tiba- tiba kitab dan buku imas jatuh.


Imas tak ada di kamarnya, hanya fatimah yang ada di kamar, karena mendengar suara, fatimah kaget dan langsung bangun dari tidurnya. dan ia melihat kitab dan buku imas jatuh.


Fatimah membereskan semua kitab dan buku itu yang jatuh.


"Imas ke mana sih, ko ga ada di kamar, tadi kan lagi tidur denganku." gumam fatimah.


Saat fatimah membereskan kitab dan buku imas, tak sengaja buku imas jatuh dan terbuka. Fatimah kaget ketika melihat ada tulisan di buku itu ( "aku sangat mencintaimu ka Rian, sudah lama aku memendam rasa ini, andai ka Rian tau kalo aku mencintaimu. Jujur aku pesantren di dini betah karena ada ka Rian.")


"Hah ... Imas cinta sama Ka Rian, kenapa dia diem aja ya? Kenapa ga cerita ke aku? Kalo cerita kan nanti aku bantu buat deketin." gumam fatimah.


Fatimah buru-buru membereskan kitab dan buku itu, karena takut imas segera datang. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki menuju kamar mereka.


Fatimah pura-pura tidur agar tak di ketahui apa yang terjadi.


"Fat, bangun! bentar lagi ashar, abis sholat ashar kan ada ngaji kitab!" titah imas membangunkan fatimah.



"Uuh ... Uuh." fatimah bangun dan menguap mulutnya agar tudak di ketahui imas kalo ia hanya pura-pura tidur.


"Fat, aku tadi ke warung, ini ada makanan buatmu, mau ga?" tanya imas sambil menyerahkan makanan itu.


"Apa sih mas? tanya fatimah sambil membuka plastik hitam.


"Roti." ucap imas.


"Ini buat aku?"



"Iyah."



"Makasih ya imas temenku yang baik." ucap fatimah sambil tersenyum.



"Sama-sama."



"Mas, kamu tipe cowok kamu kayak gimana sih?" tanya fatimah sambil tersenyum.


"Ko, tiba-tiba tanya itu sih? ade deh." pertanyaaan fatimah membuat imas berhenti makan roti.


"Ga apa-apa, kau kan cuma pengen tau aja tipe cowok idaman kamu, kan kamu temen aku, masa ga mau cerita sih." ucap fatimah sambil tersenyum.


"Tipe cowok aku yang penting baik orangnya." jawab imas sambil menunduk.


Imas orangnya tak banyak bicara, ia juga mempunyai sipat pemalu, ia tak pernah cerita masalah pribadinya pada fatimah meski fatimah adalah teman baik nya di pesantren. Ia sudah lama mencintai Rian, semenjak masuk pesantren, di pesantren pak kiai ahmad ia mengenal Rian beberapa minggu, imas suka padanya, karena Rian memiliki sifat yang tegas, rajin dan baik hati.


Mereka berdua berangkat ngaji sesudah melaksanakan sholat ashar berjamaah bersama para santri. Saat di mereka ngaji menuju majelis, tak sengaja bertemu Rian di depan mesjid.


"Eh ... Ka Rian, mau ke mana ka?" tanya fatimah.


"Mau ambil sapu, itu di majelis tempat santri cowo kurang bersih, jadi mau aku sapu dulu." ucap Rian.


"Oh ... Rajin banget ka Rian." ucap fatimah sambil tersenyum.


"Nanti, abis ngaji ka Rian sibuk ga." tanya Fatimah.


"Memangnya kenapa?"


"Imas kan lagi ulang tahun, dia mau traktir kita." fatimah mulai cari-cari alasan agar imas dan Rian bisa bersatu.



"Ih ... apa sih fat." sahut imas dengan wajah merah, lalu imas pergi meninggalkan fatimah dan Rian, karena ia malu pada Rian.


"Kenapa dia fat?" tanya Rian bingung.


"Ga tau, mungkin malu sama kaka. Ya udah nanti abis ngaji kita tunggu ya,di warung mie ayam." ucap fatimah sambil tersenyum.


"Insya allah." ucap Dimas.


Usai ngaji, imas di rayu fatimah agar mau makan di warung mie ayam bersamanya dan Rian.


"Fat, kali-kali makan bareng cowok di tempat mie ayam." ucap fatimah.


"Ga ah, nanti banyak fitnah."


"Beset deh, fat kan ada aku yang temenin kamu, jadi kamu ga cuma berdua. Kalo berdua baru bisa menimbulkan fitnah."


"Ayo mas!" ajak fatimah.


"Ga fat, aku ga mau." tolak imas dengan wajah kesal.


"Ya udah, gini aja, karena tadi aku udah bilang ka Rian mau traktir, jadi aku liat dulu ya ke belakang pesantren, apa ka Rian udah ada belum di warung mie ayam itu." ucap fatimah lalu pergi.


Fatimah pun pergi melihat Rian, sampai di belakang pesantren.


"Wah ... Ka Rian sudah ada di tempat itu, rupanya dua sudah menunggu." gumam fatimah.


fatimah masuk ke pesantren lagi menghampiri imas yang sedang menghafal kitab kuning.


"Ya udah, kamu aja fat sendiri ke sana, kamu teraktir ka Rian, ini uangnya." ucap imas sambil menyerahkan uang.



"Heh mas, ka Rian maunya sama kamu, tadi aku udah samperin." ucap fatimah bohong, agar imas mau makan bareng.



"masa sih. tapi aku malu fat."



"Udah deh, jangan malu-malu!"



"Ya udah."


Imas pun mau di ajak makan bareng, karena ia tertipu oleh rayuan bohong fatimah.


'Akhirnya imas mau juga di ajak makan bareng, supaya dia bisa ngerasain makan bersama orang yang dia cinta, aku bohong demi kamu mas.' batin fatimah.


Sampai di tempat warung mie ayam, mereka bertemu dengan Rian. Imas wajahnya merah ketika dekat dengan Rian.


"Maaf ya, kaka udah lama ya tunggu kita." ucap fatimah basa basi sambil tersenyum.


"Iyah, lama amat kalian."


"Ya udah pesan tiga bang mie ayamnya." ucap fatimah ke pedangan mie ayam.


"iyah neng, tunggu ya." ucap pedagang mie ayam.


"Aku makan di warung kopi ya, kalia makan di sini aja, kalo aku makan bersama kalian ga enak, takut menimbulkan fitnah." ucap Rian.


"Loh .... Kan kita bertiga ka, kalo berdua baru menimbulkan fitnah." ucap fatimah.


"Ini kan tempat pesantren, kita seorang santri, apa lagi kita santri pak kiai ahmad, kalo pak kiai lihat aku ga enak, sama aja bisa menimbulkan fitnah. Ucap Rian.


"Ta_pi, tapi ka." ucap fatimah.


"Kalo aku makan bareng di sini sama kalian, aku ga jadi deh." ucap Rian.


"Oke ... Oke, ga apa-apa ka." ucap Fatimah.


"Bang, mie ayam saya antarkan ke warung kopi." ucap Rian pada tukang mie ayam.


"Iyah de."


Rian makan mie ayam di tukang kopi, sedangkan mereka di tempat mie ayam.


'Huh ... Gagal deh deketin imas sama Ka Rian. Ternyata ka Rian sama sipatnya kayak Ka Dimas, susah di ajak pacaran secara langsung.' batin fatimah.


Imas bingung dengan fatimah yang tiba-tiba mengajaknya makan mie ayam bersama Rian. Imas berpikir kalo fatimah suka dengan Rian.


"Fat, kenapa tiba-tiba kamu ajak ka Rian makan mia ayam sih? apa kamu suka dia?" tanya imas.


"Ha ... Ha, ga lah mas, kamu tau kan aku udah punya pacar, dan aku udah janji mau setia sama Rijal. Ucap Fatimah sambil tertawa.


"Kirain aku kamu suka." ucap imas gugup.


"Kamu jujur deh sama aku mas, kamu suka kan sama Rian?" tanya fatimah.


"Kata siapa? aku ga suka!" ucap fatimah dengan wajah kaget.


"Aku nebak aja, sepertinya kamu suka, kalo suka nanti aku deketin kamu dengannya." ucap fatimah.


"Ga."


Imas aneh dengan fatimah, kenapa ia bisa tau jika ia menyukai Rian.


'Ko, fatimah tau, kalo aku mencintai Rian, tau dari mana ya, nebak ko benar.' batin imas.


20 menit Rian mengabiskan mie ayam, ia pamit pergi dan berterima kasih pada imas.


"Aku duluan ya, mas makasih ya traktirannya." ucap Rian sambil tersenyum pada imas.


"Sama-sama ka." ucap imas dengan wajah merah.


Imas grogi saat Rian ada di dekatnya mengucapkan terima kasih. Karena selama ia pesantren di kiai ahmad, ia belum pernah sedekat itu dengan Rian. Hanya dari jauh Imas melihatnya.


"Cie ... Cie, kamu grogi mas?" tanya fatimah sambil menyenggol tangannya.


"Apa sih." ucap imas sambil menundukkan kepala.


"udah jujur aja sih sama aku, kalo kamu cinta kan sama Rian." bisik fatimah.


"Ga fat." ucap imas pelan.


Usai makan mie ayam, tak terasa waktu sebentar lagi magrib, mereka segera menuju pesantren.


"Ya udah, ayo sebentar lagi magrib, udah ada yang shalawatan di mesjid." titah imas.


"Iyah, kamu bayar dulu mas!"


"Iyah."