PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Alhamdulilah


"Dim, udah nyampe, bangun!" ucap Rian membangunkan Dimas saat sudah sampai di rumah saudara pak kiai.



"Eh ... Udah nyampe." ucap Dimas



"Ayo, turun! Dim yan." titah pak kiai ahmad.


Meraka masuk ke rumah saudara pak kiai ahmad.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Pak kiai ngetuk pintu, tapi belum ada yang buka.


"Assalamualaikum, dek, ini kaka." ucap kiai ahmad.



Sudah beberapa kali mengetuk pintu dan memanggil, namun belum ada jawaban. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu menghampiri.


"Pak, cari siapa?" tanya ibu itu sambil tersenyum.


"Ini saya, kakaknya neneng bu, neneng ke mana ya ko dari tadi saya panggil-panggil ga keluar juga.



"Oh ... mba neneng lagi kondangan, tapi tadi udah lama juga sih berangkatnya." ucap ibu itu.


"Saya tetangga baru neneng pak." ucap tetangga baru neneng.


"Oh ..., pantesan belum pernah liat. Ucap kiai ahmad sambil tersenyum.


Karena adik pak kiai ahmad belum datang, pak kiai ahmad pergi ke mesjid untuk sholat duha.


"Dim, yan, bapak ke mesjid dulu ya, bapak sholat Duha dulu, kalian di sini aja tunggu adik bapak!" titah pak kiai.


"Iyah pak." ucap Dimas dan Rian bareng.


mereka berdua menunggu saudara pak kiai ahmad di depan rumah, sambil duduk.


"Duh ... lama juga ya, kesel Dim, kita ngopi aja yu." ucap Rian.



"Ngopi di mana? kita kan suruh nunggu di sini." ucap Dimas.



"Ya udah, kamu tunggu di sini Dim! aku yang beli kopi ke warung." ucap Rian lalu pergi.


Usai membeli kopi, mereka minum kopi di depan rumah adik pak kiai ahmad.


"Kalo ngopi kan, santai, ga kesel nunggunya." ucap Rian.


Tiba-tiba ada seorang perempuan berusia 45 tahun menghampiri mereka.


"Ini santri pak kiai ahmad ya?" tanya perempuan berusia 45 tahun.



"Iyah bu. maaf ibu siapa?"tanya Dimas.



"Ibu, ini adiknya pak kiai ahmad, mana pak kiainya?"



"Oh ... Kenalin bu saya Dimas." ucap Dimas.



"Saya Rian bu." ucap Rian.



"pak kiai lagi sholat duha dulu bu di mesjid." ucap Dimas.



"Oh ... Ayo masuk!" titah neneng.



"Iyah bu." ucap Dimas dan Rian bareng.


Mereka masuk rumah neneng, mereka di beri minum dan kue.


"ayo di minum!" titah neneng.


"Iyah bu, makasih." ucap Dimas sambil tersenyum.


Tak lama kemudian pak kiai datang.


"Assalamualaikum." ucap salam pak kiai.



"Waalaikumsalam." ucap Neneng,Dimas dan Rian bareng.


"Sehat ka?" ucap neneng sambil mencium tangan pak kiai lalu memeluknya.


"Alhamdulilah, kaka sehat, kamu sehat?" tanya pak kiai.



"Alhamdulilah, neneng sehat ka." ucap neneng sambil tersenyum.


Tiba-tiba ada 3 ibu-ibu datang ke rumah neneng.


"Assalamualaikum." ucap salam 3 ibu-ibu.



"Waalaikumsalam." ucap salam pak kiai, neneng, Dimas dan Rian bareng.


"Silahkan masuk ke dapur bu, bumbu-bumbu sudah ada tinggal di ulek aja!" titah neneng.


Neneng akan mengadakan acara aqiqah putranya, kini putranya sudah dua tahun, dulu baru bisa aqiqah satu hewan kambing, dan kini baru bisa dua, karena anak laki-laki ekah itu dua, sedangkan anak perempuan satu.


"Alhamdulilah, ka neneng bisa aqiqah anak neneng yang ke dua." ucap neneng.


"Iyah. Alhamdulilah.


Kambing sudah di siapkan, pak kiai yang akan memotong kambing tersebut.


Sedangkan Dimas dan Rian di tugaskan Membersihkan daging kambingnya.


Usai acara pemotongan kambing selesai, kambing itu di masak oleh ibu-ibu yang sudah di suruh neneng.


Setelah daging kambing matang, di bagikan pada orang-orang tak mampu, dan tetangga neneng.


"Em .... Wangi, ga sabar aku Dim, pengen coba." bisik Rian saat ada makanan di depannya.


"Sust ih ... Jangan berisik!" ucap Dimas.


"Ayo makan, Dim, yan." titah kiai ahmad.


Mereka makan bersama pak kiai, neneng, suami neneng dan juga putra neneng.


"Makasih ya, kaka sudah mau datang ke sini!" ucap neneng sambil tersenyum.



"Iyah dek sama-sama."



"Nanti kaka, dan murid kaka nginep yah!" titah suami neneng.



"Iyah ... Tanpa di suruh pun kaka akan nginep." ucap kiai ahmad sambil tersenyum.


Sore tiba, sekitar jam 4, Rian masuk kamar, ia ingin membuka amplop yang di beri pak wahyu.


"Ah ... aku buka lah, amplopnya." guman Rian.


Saat amplop itu di buka Rian kaget, uangnya ada 2 juta.


Dimas masuk kamar usai mandi, Dimas menghampiri Rian.


"Hei ... Lagi apa? Widih ... Amplop nya udah di buka? Ada berapa?" tanya Dimas sambil tersenyum.



"Ha ... Ha, dua juta Dim. Mantep." ucap Dimas sambil mengipas-ngipas uang ke wajahnya.


"Wih ... Mantap nih." ucap Dimas sambil pakai baju.


"Apa lagi kamu, Dim, pasti kamu dapetnya banyak, kamu kan yang ceramahnya." ucap Rian.



"Sama aja kali kaya kamu." ucap Dimas.



"Ga lah, kalo penceramah itu bayarannya bisa banyak, coba buka aku pengen tau!" titah Rian.


"Ga lah, nanti di rumah aja bukanya, biar istriku yang buka." ucap Dimas.


"Dim ... Ini kan, kita lagi di jakarta, gi mana kalo kita izin ke pak kiai jalan-jalan." ajak Rian semangat.



"Naik apa?" Tanya Dimas.



"Naik ojek online, kamu mau ga, aku yang bayarin ojeknya?" tanya Rian semangat.



"Ah, ga ah. Aku ga enak sama yang punya rumah dan pak kiai." Dimas menolak.


"Huh ... Apa-apa ga enak kamu mah. Bilang aja ga berani izin ke pak kiai, ydh nanti akj uang bilang." ucap Rian kesel.


"Ya udah bilang aja yan."


"Huh ... Sue, tadi katanya ga mau. Ucap Rian marah.


Rian izin ke pak kiai ahmad, dan pak kiai mengizinkannya, tapi pulangnya jangan terlalu malam.


Saat mereka sudah sampai di tempat tujuan.Rian kaget melihat cewek seksi memakai rok mini.


"Buset deh itu cewek, seksi banget, mulus putih, dan seksi seperti bidadari." ucap Rian kaget ketika melihat cewek seksi.



"Kamu sih ngapain kita ke tempat ini, kaya orang kaya aja." ucap Dimas.


"Kali-kali lah Dim, kita ke mall. Shoping. Santri juga berhak dong shoping." ucap Rian sambil tersenyum.


"Hem ..." ucap Dimas sambil menggelengkan kepalanya.


"Duh .... Masya allah itu cantik banget cewe, bodinya, beh .... Aduhai. Montok, putih. subhanallah. di liat dosa ga di liat rugi." ucap Dimas.


"Udah ih jangan nora! malu sama orang." ucap Dimas.


"Buset ... Dim liat, cewe tinggi, seksi, pantatnya gede. Rezeki ini, ga diat mah rugi Dim." ucap Rian sambil melihat cewek itu.



"Iyah ... Iyah." ucap Dimas tak melihat cewek itu.



"Dim itu ada cewek mirip fatimah, pake jilbab, em .... cantik." ucap Rian bohong.



"Mana." tanya Dimas sambil melirik-lirik kanan kiri.



"Ha ... Ha ... Ha, tapi bohong." Rian ketawa.



"Sue." ucap Dimas.


Rian kaget melihat cewek-cewek yang berpenampilan seksi di mall itu, karena ia belum pernah masuk mall.


"Ya udah pulang yu! Kamu mau beli apa sih? Dari tadi puter-puter doang." ucap Dimas.



"Nanti lah, baru juga sebentar. Ayu ke atas yu naik." ajak Rian.


"Tapi bentar aja ya."


Saat Rian dan Dimas naik tangga jalan, Rian ketakutan, dia kaget.


"Eh .... Eh. Dim gimana ini aku takut." ucap Rian.



"Udah naik aja, ayo! Ayo naik!" titah Dimas sambil menarik paksa Rian.


"Eh ...eh. Dim." ucap Rian takut ketika sudah naik tangga.


"Huh .... Ngajak ke mall, tapi naik tangga jalan aja ga berani." ucap Dimas menghina Rian.



"Duh ... Nanti gimana turunnya Dim, kita cari tangga diam aja ya!" titah Rian.



"Ga ah, tangga diem mah cape."



"ih kamu."



"Ya udah, kamu mau beli apa sih yan ke sini?" tanya Dimas.



"Nanti deh, ya udah kita turun lagi yu, tapi akh pegangan." tatah Rian.



"Kamu ga jelas banget sih Yan, tapi nyuruh ke atas, giliran udah ke atas pengen turun lagi." ucap Dimas sambil menggelengkan kepalanya.


Sampai di bawah, Rian memilih-milih jam tangan.


"Mau beli jam?" tanya Dimas.


"Nanti aja deh."



"Terus mau beli apa?" tanya Dimas.



"Ya udah kita ke depan mall yu! Ayo Dim! Titah Rian. Dan Dimas pun mengikutinya.


"Ini, aku mau beli cilok Dim." ucap Rian sambil ketawa.


"Terus beli apa lagi?" tanya Dimas.



"Udah, cuma beli cilok aja." ucap Rian ketawa.



"Hah ... Ke mall, cuma beli cilok doang. Rian .... Rian. ucap Dimas sambil menggelengkan kepalanya.



"Ha ... Ha ..ha. Iyah. Ga apa-apa lah yang penting kan jalan-jalan, ini ciloknya Dim, gratis ga usah bayar." ucap Rian sambil ketawa.



"Sue banget sih kamu yan." ucap Dimas sambil menggelengkan kepalanya.