
Yati mondar mandir sambil berdoa di depan ruang tunggu operasi. berdoa demi kesembuhan putrinya.
"Bu, pak sini duduk! Kita berdoanya sambil duduk aja." titah Dimas.
"Ibu ga bisa tenang Dim, anak satu-satunya ibu sedang di operasi mana ibu duduk." ucap yati panik.
"Sini duduk aja bu! Ibu jangan terlaku panik gitu! Sini duduk di samping ayah!" titah hasan sambil tersenyum.
"Ga bisa pak, ini pengen cepat liat anak ibu." ucap yati dengan wajah ketakutan.
"Bu, pak, Dimas ke mesjid dulu ya, Dimas mau berdoanya di sana, biar afdol, mudah-mudahan doanya di kabulkan allah." ucap Dimas pamit.
"Iyah nak, kalo sudah selesai, langsung ke sini ya Dim." ucap hasan.
Dimas berdoa di mesjid, ia menangis mengingat semua kebaikan mumut padanya, dulu saat baru pertama menikah dia selalu mengecewakan mumut.
"Ya allah, sembuhkanlah istriku, aku sayang dia ya allah, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakannya." ucap Dimas ketika berdoa.
Usai berdoa, Dimas juga membaca al-quran dan berzikir, karena ia sudah lumayan lama berdoa di mesjid, Ia langsung memasuki rumah sakit lagi.
Dimas kini bersama hasan dan yati, mereka masih menunggu kabar mumut. tak lama kemudian dokter keluar dari ruang operasi.
"Mana kelurga mumut?" tanya dokter.
"Saya, ayahnya pak." ucap hasan.
"Saya ibunya pak." ucap yati
"Operasi berjalan lancar, kini keadaan mumut juga sudah membaik. nanti saya akan kasih resep untuk luka nya agar cepat kering. Dan mumut tidak boleh mandi dulu selama 2 hari, cara membersihkannya di lap aja dengan air hangat, tapi lapnya harus bersih." ucap dokter menjelaskan.
"Alhamdulilah, kapan pak istri saya boleh pulang." tanya Dimas semangat.
"Besok juga sudah boleh pulang, tapi nanti besok saya akan cek lagi keadaan mumut." ucap dokter.
"Baik pak." ucap Dimas sambil tesenyum.
"Kami akan, memindahkan mumut ke ruang inap sekarang, agar mumut bisa beristirahat, harus ada orang yang jaga mumut, jangan di tinggal sendiri!" titah Dokter.
"Baik pak. terima kasih pak!." ucap Dimas.
Mendengar kabar bahagia, yati dan hasan bahagia, yati yang dari tadi sangat panik, kini ia hatinya mulai tenang dan baru bisa tersenyum.
"Alhamdulilah, ya allah." ucap yati memuji syukur.
"Iyah. Alhamdulilah bu." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Ibu minum dulu sini! Ibu juga makan dulu ya, soalnya dari jam sore ibu belum makan." titah hasan.
"Iyh bu, makan dulu, nanti ibu sakit." ucap Dimas.
"Bagaimana ibu bisa makan, sedangkan putri ibu sedang di operasi." ucap yati.
"Kan, sekarang mumut sudah membaik, jadi ibu harus makan ya! Dimas belikan makan dulu ya." ucap Dimas.
"Ga udah nak, ibu belum mau makan."
"Jangan gitu bu! banti ibu sakit." ucap hasan.
"Iyah bu ... Ibu harus makan! Ya udah Dimas beli makan dulu ya." ucap Dimas lalu pergi membeli makan.
Dimas mencari makan, ia menemukan tukang pecel ayam, sate dan soto. Karena kini sudah jam setengah dua belas jadi ia cuma nemu makanan itu di sekitar rumah sakit.
'Beli apa ya? Cuma ada pecel ayam, sate dan soto.' batin Dimas.
Lalu ia membeli empat bungkus nasi dan pcel ayam, untuk hasan, yati, mumut dan dia.
'Mudah-mudahan ibu mau makan, dan aku belikan juga untuk mumut, nanti aku suapi mumut makan.' batin Dimas saat berjalan menuju rumah sakit.
Kini mumut di bawa ke ruang inap, Dimas, hasan dan yati mengikiuti di belakang suster.
"Ibu mumut, harus istirahat dulu ya, jangan banyak gerak dulu! Dan jangan di beri makan ikan tongkol ya! karena lukanya masih basah." titah suster.
"Baik sus, makasih ya!" ucap Dimas.
"Iyah sama-sama pak, saya keluar dulu ya." ucap suster lalu meninggalkan mereka.
Kini mumut berbaring lemas, kakinya masih sakit, ia juga tidak bolah banyak gerak dulu.
"Mas, ibu, ayah, makasih sudah menemani mumut." ucap mumut dengan suara lemas.
"Iyah ... sayang, pasti dong ibu akan selalu ada untukmu." ucap yati sambil tersenyum lalu mengusap-usap kepala mumut.
"Ibu ... Makasih ya!" ucap mumut sambil tersenyum.
"Iyah nak, sayang kamu juga makan ya! Ibu suapin ya sayang." ucap yati.
"Ibu makan duluan aja, mumut belum mau makan." ucap mumut.
Dimas, merayu mumut agar makan, dan akhirnya mumut makan.
"Alhamdulilah, ayo makan sayang, aaa .... aaa!" Titah Dimas agar mumut membuka mulutnya.
"Em ... Enak ya? kamu harus sehat lagi sayang. Ayo makan lagi! aaa .... aaa. Alhamdulilah." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Alhamdulilah, anak ibu mau makan." ucap yati sambil tersenyum.
Dimas tak menanyakan dulu, tentang kejadian mumut yang sengaja di tabrak orang. Ia ingin istrinya tenang dulu, namun tiba-tiba mumut memulai duluan.
"Mas, aku itu seperti sengaja di tabrak." ucap mumut.
"Kira-kira kamu liat ga wajah yang nabrak kamu?" tanya Dimas.
"Aku ga liat mas, orang itu langsung pergi cepat, dan aku langsung di tolongin warga, ada warga yang mengejar, tapi mereka tidak berhasil menangkap orangnya." ucap mumut serius.
"Iyah ... Warga sudah memberi tau aku mut, kata warga orang yang menabrakmu memang sengaja. Ada saksi mata yang melihat kejadiannya. aku akan laporkan kejadian ini ke polisi." ucap Dimas.
"Saksi mata, mau jadi saksi di kantor polisi?" tanya mumut.
"Dia mau sayang, aku sudah pinta no hpnya." ucap Dimas.
"Iyah ... Harus di laporkan ke kantor polisi Dim, orang kayak gitu harus di beri pelajaran." sahut yati kesal.
"Iyah .... Bu." ucap Dimas.
Hasan dan yati, sudah lelah mereka ingin tidur, tapi tidak ada tempat tidur, mereka hanya duduk di kusri.
"Pak, bu, sebaiknya ibu dan bapak pulang aja ya! Dimas pesankan ojek online. Kasiyan ibu tidur di kursi pasti ibu dan bapak juga sangat lelah." ucap Dimas.
"Ibu mau di sini aja temenin mumut sampe pulang." tolak yati.
"Mumut pulangnya besok bu, nanti besok pagi ibu dan bapak ke sini lagi, dari pada ibu dan bapak tidur di kusri." titah mumut.
"Iyah ... Bu, kita pulang dulu aja ya, kan ke rumah sakit ini tidak terlalu jauh, nanti besok pagi kita ke sini lagi." ucap hasan.
"Tapi, pak." Yati masih ragu.
"Ibu juga ga kuat ase, di sini dingin bu, lebih baik kita pulang dulu." ucap hasan.
"Ya udah, ibu pulang ya sayang, em ... Nanti ibu ke sini lagi besok pagi sayang." ucap yati sambil mencium kening mumut.
"Iyah ... Bu, ibu dan ayah hati-hati ya!" ucap mumut sambil mencium tangan hasan dan yati.
Dimas tidur di kursi, saat mumut sedang terlelap tidur, ia bangun lalu memandang wajah sang istri.
'mut, aku kasian liat kamu sakit, aku ingen cepat kamu sembuh, aku sayang kamu mut.' batin Dimas.
Kini sudah pagi sekitar jam 10, dokter sudah memeriksa keadaan mumut.
"Alhamdulilah, ibu mumut mulai membaik, dan siang ini sudah boleh pulang, nanti bapak ambil obat resep saya ke ruang farmasi. Harus rutin di minum ya, nanti mumut kontrol minggu depan ya, ini surat kontolnya!"ucap Dokter mengingatkan dan memberikan surat kontrol.
"Alhamdulilah, terima kasih pak!" ucap Dimas sambil tersenyum.
"Sama-sama pak." ucap Dokter.
mumut bahagia mendengar kabar baik, kini ia merasa lega.
"Alhamdulilah mas, aku udah sembuh." ucap mumut semangat.
"Iyah ...sayang. Akhamdulilah." Ucap Dimas sambil tersenyum.
Hasan dan yati sudah datang, mereka menghampiri mumut dan Dimas.
"Sayang ... bagaimana kata dokter, apa kamu sudah boleh pulang?" tanya yati.
"Mumut pulang siang ini bu." ucap mumut sambil tersenyum.
"Algamdulilah." sahut hasan.
Dimas mengambil obat ke ruang farmasi dan suster sudah mengijinkan mumut pulang. mumut pulang memakai kusri roda karena kakinya masih sakit ia belum kuat jalan.
"Alhamdulilah, akhirnya kita pulang, semoga kelurga kita sehat semua dan tak ada kejadian seperti ini lagi." ucap hasan saat di dalam mobil menuju pulang.
"Amin." ucap Dimas.