
Dimas masih berada di tempat kebun pisang, ia membayangi semua kenangan ibu, nenek dan kakeknya. Dimas juga berjalan menuju sawah. di sawah banyak kenangannya bersama sang kakek. Dimas selalu ingat pas dia naik kerbau milik kakeknya dan kerbau itu di tuntun sang kakek.
"Kakak, Dimas rindu, dulu kita suka ke sawah ini di saat pagi dan sore." gumam Dimas dalam hati sambil membayangi semua kenangan besama kakek.
***
Mumut dan bibi siti sudah selesai memasak. Rian di bangunkan bi siti, tapi bi siti bingung, karena Dimas tidak ada. Mumut mencarinya ke depan rumah, tapi tidak ada.
"Bibi, mas Dimas kemana ya? Ko ga ada di depan juga?" tanya mumut.
"Loh, Bibi juga tidak tau, kan tadi kita lagi masak." ucap bi siti bingung.
"Tadi Dimas ada di sini sama aku tiduran." sahut Rian.
"Ya sudah bibi cari dulu ya ke rumah temen kecilnya, siapa tau ada di sana." ucap bi siti ingin mencari Dimas.
"Bi, aku ikut ya!" ucap mumut.
"Ya sudah neng, ayo! Rian di sini aja ya!" titah bi siti. rian pun hanya menganggukkan kepalanya tanda iyah.
***
Bibi siti mencari Dimas ke rumah teman kecil Dimas, karena bi siti yakin kalo Dimas berada di sana. Nama teman kecil Dimas yaitu yanto, dulu waktu Dimas masih sekolah SD yanto teman yang paling baik suka membantu Dimas. Sampai di rumah yanto bi siti langsung bertanya.
"Assalamualaikum." ucap salam bi siti sambil melihat kanan kiri tidak ada Dimas.
"Waalaikumsalam." jawab salam yanto yang kebetulan sedang ada di depan rumahnya.
"bi siti, ada apa bi?" tanya yanto.
"Ada Dimas disini?" pertanyaan bi siti membuat yanto bingung. Sudah lama yanto tidak bertemu Dimas dan tidak tau keberadaannya dimana, tapi tiba-tiba bibi siti menanyakan Dimas.
"Dimas siapa bi?" tanya yanto.
"Ya, Dimas keponakan bibi teman kecilmu."
"Hah! Dimas mana bu? Beneran ada Dimas?" yanto kaget dengan ucapan bi siti.
"Bener, ini istrinya." ucap bi siti sambil menoleh ke mumut.
"Istri? Dimas sudah punya istri?" tanya yanto lagi.
"Kalo gitu yanto mau ke rumah bi siti sekarang, yanto kangen banget sama Dimas."
"Bibi ke sini cari Dimas, tapi ternyata Dimas tidak ada di rumahmu, Dimas ke mana ya?"
"Tenang bu! Mungkin Dimas sedang jalan-jalan di kampung kita, mungkin dia rindu kampung kita, kita cari aja yu!" titah yanto.
"Tapi ko ga bilang bibi."
"Mungkin Dimas lupa." ucap yanto.
Setelah mereka bertiga mencari Dimas, tapi belum ketemu juga. Yanto ingat dengan Dimas kalo ia suka sawah, jadi yanto memutuskan mencari Dimas ke sawah.
"Bi, yanto ingat kalo Dimas itu suka sawah, mungkin dia sedang di sawah, ayo kita ke dana!" titah yanto.
"Iyah, mas Dimas perah bilang ke saya kalo dia suka sawah." sahut mumut.
Sampai di sawah, mereka tidak menemukan Dimas. hp mumut berbunyi ada panggilan dari Rian lalu mumut pun mengangkat panggilan itu.
"Halo mut, Dimas sudah ada di rumah, cepat pulang."
"Ya allah, iyah, aku ke sana." ucap mumut lalu memutuskan sambungan telepon.
***
"Mas, kamu dari mana sih? Kenapa pergi ko ga bilang-bilang? kenapa buat kita panik?" pertanyaan mumut bertubi-tubi, tapi Dimas hanya tersenyum dan melihat wajah yanto dan yanto tersenyum.
"Dimas, bagaimana kabarmu? Ini aku yanto teman kecilmu." ucap yanto
"Yanto! ini yanto anak bu suti?" tanya Dimas sempat kaget dengan kedatangan teman kecilnya yang masih Dimas ingat wajahnya, meski sekarang sudah agak berbeda.
"Iyah Dim." ucap yanto dan mereka pun saling berpelukan melampiaskan rasa rindunya.
"Aku di sana juga ingat kamu to, kamu suka ingat aku enggak?" tanya Dimas sambil tersenyum.
"Ingat lah Dim, kamu itu teman ku yang paling baik." ucap yanto sambil tersenyum.
"Kenalkan, ini istriku dan ini temanku." ucap Dimas memperkenalkan mumut dan Rian. Mumut dan Rian pun memperkenalkan diri pada yanto.
"Kamu udah punya istri Dim?"
"Alhamdulilah sudah, kamu udah punya istri belum to?" pertanyaan Dimas membuat yanto ketawa.
"Ha ... Ha .. Ha, belum Dim, malah aku di tinggal nikah, eh ko aku jadi cerita. Jadi malu. Mungkin buka jodoh."
"Iyah, bukan jodoh. Kamu sekarang kerja apa to?"
"Aku jadi mantri, Dim di puskesmas kampung ini."
"Wah, hebat kamu to. Berarti aku harus panggil bapak mantri ini." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Ha ... Ha, kamu bisa aja, kamu sekarang kerja apa Dim?" tanya yanto.
"Aku ga kerja Dim, aku tiap hari hanya di rumah."
"Dimas sekarang sudah jadi ustad." sahut bibi siti.
"Wah, mantep Dim. berarti aku harus panggil bapak ustad." ucap yanto sambil tersenyum.
Bibi siti sudah menyiap kan makanan di meja makan yang beralas bambu. Mereka semua makan bareng-bareng. Dimas Sangat lahap menyantap nasi liwet masakan bibinya.
"Bibi enak banget ini. dari dulu masakan bibi memang enak. Dimas mah masih kerasa di mulut masakan bibi sampai sekarang ga bisa lupa." ucap Dimas.
"Dimas mah bisa aja." ucap bi siti sambil tersenyum.
Saat mereka sedang makan, tiba-tiba datang suami bi siti yaitu om idim. om idim kerja sebagai petani dan menggembala kerbau milik orang lain. Pendapatannya tidak pasti apa lagi jika musim kemarau tanaman yang di tanam suka gagal panen. Itu pun bukan kebun sendiri tapi kebun milik orang lain yang ia urus hasilnya di bagi dua. Kebun yang di miliki bi siti dan om idim hanya kebun pisang bekas rumah kakek dan nenek Dimas. Bibi siti dan om idim memiliki dua anak, tapi anak mereka sudah menikah semua dan ikut bersama suaminya. Pulang hanya setahun tiga kali atau dua kali. Anak bibi siti pun kehidupannya miskin, jadi tidak bisa membatu orang tuanya.
"Assalamualaikum." ucap salam om idim.
"Waalaikumsalam." jawab salam semua orang yang ada di rumah bi siti.
"Wah, rame amat, siapa ini bu?" tanya om idim sambil melihat wajah Dimas. om idim kurang mengenali Dimas, karena Dimas bukan seperti yang dulu lagi.
"Ini keponakan kita pak, ini Dimas." ucap bi siti.
"Dimas! Ini beneran Dimas?" tanya om idim sambil melihat wajah Dimas.
"Om, ini beneran Dimas, om sehat?" ucap Dimas sambil memeluk om Dimas.
"Dimas kemana waktu itu? bibi dan om cari Dimas, tapi tidak ketemu."
"Nanti Dimas jelaskan om, kita makan dulu om, ayo om makan bareng enak banget ini!" titah Dimas.