
Imas tidak pulang ke pesantren, ia sudah minta izin pak kiai ahmad untuk ke rumah fatimah. Imas ingin bertemu dengan temannya, karena sudah lama fatimah tak kembali ke pesantren.
"Tok .... Tok ... Tok."
Imas mengetuk pintu, tapi belum ada yang buka, saat ia ingin mengetuk pintu lagi baru pintu itu ada yang buka. Dan ketika pintu itu di buka imas di sambut oleh iman.
"Imas ... Ayo masuk mas!" titah iman sambil tersenyum.
"Terimakasih pak! imas ke sini ingin bertemu fatimah, imas kangen!" ucap fatimah sambil tersenyum.
"Fatimah ada di kamar, bapak boleh tidak tanya ke imas?" tanya iman.
"Apa pak?" tanya imas.
"Kenapa fatimah sering marah, sikapnya pun sama orang tua kurang sopan dan fatimah juga sering pergi ke luar rumah. Tidak biasanya dia seperti itu." ucap iman tegas.
"Imas ga tau pak, fatimah tidak cerita apa-apa pada imas." ujar imas.
Fatimah tidak bercerita pada imas tentang masalahnya, ia tidak mau cerita, karena ia gengsi kalo di putusin Rijal. fatimah selalu cerita masalah senang saja tak pernah cerita masalah sedih.
"Bapak bingung dengan fatimah mas, kenap dia jadi seperti itu? Sudah bapak paksa fatimah untuk ke pesantren lagi, tapi dia malah ingin kabur. Jadi bapak serba salah." keluh iman dengan wajah sedih.
"Sabar ya pak, coba imas mau ketemu fatimah."
"Ya udah masuk saja ke kamarnya mas!" titah iman.
Imas mengetuk pintu kamar fatimah berulang kali, tapi belum di buka. Iman menghampiri imas dan mengetuk pintu kamar fatimah juga.
"Fat, ini ada teman kamu imas ingin bertemu denganmu." ujar iman dengan suara keras.
"Mungkin fatimah tidur pak." ucap imas santai.
"Bentar ya! Bapak ketuk dari jendela." ujar iman lalu pergi ke arah jendela kamar fatimah.
Setelah iman mengetuk jendela kamar Fatimah berulang kali baru pintu kamar Fatimah di buka. Ketika pintu di buka fatimah langsung kaget melihat imas ada di depannya.
"Emm .... Ngantuk yah, ada apa sih?" tanya Fatimah yang masih ngantuk.
"Fat, kamu sehat?" tanya imas sambil tersenyum.
"Imas ... ya ampun aku kangen kamu mas!" ujar fatimah sambil memeluk imas.
"Aku juga kangen!" ujar imas kembali memeluk fatimah.
Kini mereka sedang di dalam kamar fatimah, mereka melampiaskan rasa rindu, karena lima bulan tak bertemu. Fatimah senang dengan kedatangan imas.
"Mas, ko baru ko sini sih, aku kan kangen kamu!" ujar fatimah sambil tersenyum.
"Aku juga kangen kamu fat, kapan kamu ke pesantren lagi?" tanya imas.
"Ga tau mas, aku malas ke pesantren lagi." ucap fatimah.
"Ko, kamu jadi kayak gini sih, kamu 'dulu semangat mengaji?" tanya imas sambil mengerutkan alisnya.
"Aku malas aja mas."
"Kamu ada masalah? Coba cerita ke aku jangan di pendem aja, aku 'kan temanmu!" titah imas yang ingin tau masalah temannya.
Imas sudah merayu beberapa kali, tapi fatimah tetap tidak mau cerita masalahnya. Imas pun berhenti mengajak bicara karena cape.
"Hum .... Cape deh aku, dia tetap tidak mau cerita." gumam imas dalam hati.
"Hah ... Jadi fatimah sebenarnya cinta ka Dimas! Apa selama ini dia ga mau ke pesantren gara-gara ka Dimas?" gumam imas dalam hati.
Lalu imas mengajak bicara fatimah lagi yang sedang sibuk dengan hpnya. Ia ingin bertanya tentang Dimas.
"Fat, apa kamu cinta ka Dimas?" pertanyaan imas membuat fatimah kaget.
"Hah! Biasa aja, aku 'kan udah cerita ke kamu dulu." ujar fatimah dengan wajah takut.
"Ini apa?" imas memberikan poto Dimas.
"Ko ... Ko poto itu ada di kamu!" fatimah kaget sambil menghela napas dalam.
"Ini ada tulisannya, kamu cinta ka Dimas 'kan? Apa kamu ga ke pesantren lagi karena ka Dimas? kamu menyesal 'kan telah menyia-nyiakan ka Dimas?" tanya imas bertubi-tubi, tapi fatimah hanya terdiam.
"Fat, jawab jangan diem aja! ayo cerita ke aku!" titah imas.
Fatimah hanya terdiam tak menjawab pertanyaan imas, ia malah menangis. Imas langsung memeluk fatimah dengan perasaan sedih.
"Fat, jangan menangis! Ayo coba cerita padaku!" titah imas sambil memeluk fatimah.
"Iyah ... Aku menyesal telah mengkhianati dan menyia-nyiakan ka Dimas. Aku sayang ka Dimas, aku baru sadar bahwa ka Dimas laki-laki yang terbaik. Rijal yang selama ini aku anggap baik, dia telah mengkhianati aku." ujar fatimah sambil menangis.
"Jadi Rijal khianati kamu fat!" imas kaget mendengar cerita fatimah.
"Iyah mas, bahkan dia sekarang sudah menikah."
"Dih ... Aku ga nyangka Rijal seperti itu, dulu aku pernah bilang ke kamu jangan sia-sia'kan ka Dimas. Ka Dimas itu laki-laki sholeh dan cerdas, tapi kamu gengsi ga mau terima cinta dia dan kamu terima tapi pacarannya diem-diem." ucap imas malah membuat Fatimah menangis kencang.
"Fat, udah jangan nangis! Semua sudah terjadi."
"Aku menyesal mas, mungkin ini karma bagiku." ucap fatimah sambil menangis.
"Sudah ... Sudah! Semua sudah terjadi, lupakan masa lalu, jadikan pelajaran buat kamu!" ucap imas sambil mengusap air mata di pipi fatimah.
Imas tak tega melihat fatimah yang sedih, dia tak mau ke pesantren lagi gara-gara masalah cinta. lelaki yang sudah bertahun-tahun Fatimah cintai ternyata berdusta. pilihan kita kadang bukan yang terbaik.
"Mending kamu ke pesantren lagi ya, dari pada kamu di rumah fat, kamu itu cantik pat, pasti kamu bakal dapet pengganti lagi." ujar imas.
"Ga fat, aku belum mau ke sana."
"Fat, kamu sudah ketinggalan banyak pelajaran, katanya kita mau lulus bareng, tapi kalo kamu kelamaan di rumah nanti aku lulus duluan." ujar imas merayu fatimah.
"Bodo amat, aku belum mau ke pesantren mas." ujar fatimah sambil menunduk.
"Buat apa menyesali yang sudah terjadi pat, ka Dimas ga mungkin kembali padamu. Apa lagi sekarang ka Dimas istrinya sedang mengandung. Tadi aku sudah menghadiri acara empat bulan calon anak mereka." mendengar imas fatimah kaget.
"Apa? Aku ga percaya!" fatimah kaget.
"Bener, aku ga bohong pat, jadi kamu jangan berharap lagi ya! Semua sudah terjadi, ka Dimas bukan jodohmu."
"Kenapa aku ga di undang?" tanya fatimah.
"Kamu ga di undang? Padahal semua santri pak kiai di undang semua." ujar imas.
"Aku ga di undang. Ini pasti istrinya Dimas yang tak mau ngundang aku." ujar fatimah sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Jangan berburuk sangka! Mungkin ka Dimas tidak ngundang kamu karena ingin jaga perasaan istrinya. Kamu tau'kan sikap ka Dimas kalo ia sudah mencintai perempuan pasti ia akan menyayanginya dan setia." ujar imas.
Mendengar ucapan imas, fatimah sedih, harapan ia untuk memiliki Dimas semakin kecil. Karena seorang pria jika sudah memiliki anak akan susuh untuk di ajak kembali pada mantan apa lagi pria seperti Dimas yang memiliki sikap penyayang.