
"Aku ga mau pulang kak, kaka aja yang pulang sana! Aku masih ingin di sini. Aku ingin bertemu Dimas."
"fat, sadar Dimas itu udah punya istri, kamu 'kan cantik masih banyak lelaki yang mau sama kamu. Nanti kakak kenalin kamu sama teman kakak." ucap Ridwan.
"Mana ada teman kakak yang seperti Dimas. Dimas itu lelaki sholeh, pintar, dia juga manis, dia juga ustad."
"Ya udah entar kakak cari laki-laki seperti Dimas."
"Di mana kakak?" tanya fatimah dengan wajah sedih.
"Di mana aja, yang penting nanti nemu, mangkanya dek mending kamu ke pesantren lagi, di pesantren kan banyak santri siapa tau kamu nanti dapet lelaki seperti Dimas."
"Ga kakak, aku enggak mau ke pesantren lagi."
"Ya sudah kita pulang, malu fat sama orang, tuh kamu banyak yang memperhatikan." ada beberapa tetangga Dimas yang memperhatikan fatimah.
"Tapi, aku ga mau pulang kak, nanti kita ke sini lagi sore."
"Iyah ... iyah, yang penting kita pulang dulu." ucap Ridwan.
***
Ridwan dan fatimah pergi, mereka tidak pulang ke rumah, mereka pergi ke taman bunga. Fatimah tidak mau pulang ke rumah dulu, karena ia ingin kembali ke rumah Dimas lagi. Sebenarnya Ridwan malas untuk mengantarnya lagi ke rumah Dimas, tapi karena adiknya terus merengek dan marah-marah, Ridwan pun terpaksa mau mengantarnya lagi. kini sudah maghrib, fatimah segera bergegas melaksanakan sholat di mesjid yang ada di taman bunga itu.
"Kakak, ayo kita sholat!"
"kamu duluan aja dek!"
Ridwan jarang sholat meski iman dan mimi selalu menyuruhnya sholat, tapi Ridwan tidak mendengarkannya. Ridwan sholat paling hanya semingu dua kali.
"Ayo kak, antar aku ke rumah Dimas lagi!" ucap fatimah sesudah sholat.
"Dek, tadi ibu dan ayah nelpon, kita di suruh pulang sekarang, katanya kita ga boleh pulang malam."
"Ya udah lah, jangan di denger! Aku mau ketemu Dimas dulu bentar, ayo kak antar aku sekarang!"
"Tapi dek, kakak malu, apa kamu ga malu?"
"Aku ga malu kak." ayo kakak!" titah fatimah dengan suara keras.
***
Ridwan dengan terpaksa mengantar adiknya ke rumah dimas lagi. Sampai di depan rumah Dimas, mumut dan Dimas sedang asyik ngobrol di depan rumahnya. Melihat kedatangan fatimah lagi, wajah mumut sangat marah dan Dimas menyuruhnya masuk ke dalam rumah.
"Mas, kamu lagi apa?" tanya fatimah yang sudah di depan Dimas.
"Hai, mau ngapain kamu ke sini lagi hah!" mumut tidak mau masuk ke dalam rumah, ia marah menghadapi fatimah.
"Santai dong, kamu itu lagi hamil, kalo kamu marah-marah nanti janin kamu enggak baik." ucap fatimah sambil senyum kecut.
"Fatimah, mau ngapain kamu ke sini lagi?" tanya Dimas.
"Aku kangen kamu mas."
"Fatimah, apa aku harus mengusir kamu dengan cara paksa? Fat meski kamu datang ke rumahku tiap hari, aku tidak akan kembali lagi padamu."
"Jadikan aku istri ke dua kamu mas." ucap fatimah.
"Eh dasar kamu ga tau malu, kamu ga punya harga diri!" sahut mumut dengan wajah marah.
"Sudah-sudah! Tenang sayang! Biar aku aja yang hadapi dia."
"Fatimah, aku tidak akan nikah lagi, dalam hidupku nikah hanya ingin satu kali. Mas tolong bawa adiknya pulang! Mas ajarin adiknya biar jadi perempuan yang punya supat malu. Ini sudah keterlaluan." ucap Dimas menyuruh Ridwan mengajari fatimah.
"Fatimah ayo pulang! Kamu jangan seperti ini." ucap Ridwan.
"Maaf ya, adikku ini cantik, adikku bisa dapet lelaki yang lebih dari kamu!" ucap Ridwan dengan wajah marah.
"Ya sudah mas, tolong bawa adiknya pulang, aku ga enak sama tetanggaku, terutama istriku." ucap Dimas.
***
Fatimah dan Ridwan pulang menuju rumah, dalam perjalan fatimah ingin berhenti di pinggir jalan. Ridwan terus melaju membawa motornya tidak menghiraukan adiknya. Fatimah mengancam Ridwan ingin turun dari motor jika tidak mau berhenti.
"Kalo kakak tidak mau berhenti, aku akan turun sendiri."
"Kamu mau apa sih?"
Ridwan pun berhenti, dan fatimah langsung turun dari motor. Fatimah berjalan menuju warung kopi. Ridwan mengikuti dari belakang.
"Mas, beli rokok surya satu bungkus." ucap fatimah.
"Kamu mau ngapain beli rokok dek?" tanya Ridwan.
"Buat aku kak."
"Kamu jangan ngerokok dek! nanti kamu kebiasaan. Kalo ibu dan ayah tau bisa marah."
"Bodo amat ibu dan ayah marah, aku enggak perduli, aku puding kakak, kenapa hidupku seperti ini."
"Fatimah, kamu cantik. Masa cuma gara-gara Dimas kamu jadi seperti ini."
"Kakak ga tau masalahku. Percuma aku cantik kalo aku sudah tidak ...." fatimah tidak melanjutkan ucapannya. Ia menghisap rokok.
"Sudah tidak apa dek?"
"Sudahlah!" ucap fatimah
"Apa Dimas sudah mengambil kesucianmu?" tanya Ridwan.
"Tidak kakak, Dimas lelaki sholeh mana mungkin dia berani berzina. Selalu aku pacaran dengannya dia tidak pernah menyentuhku."
"Lalu siapa yang mengambil kesucianmu?" siapa bilang sama kakak?" biar kakak yang akan datangi dia."
***
Mumut marah pada Dimas, ia cemburu dengan kedatangan fatimah ke rumahnya. Dimas menasehati istrinya agar percaya padanya dan tidak marah lagi.
"Sayang, meski dia datang terus ke rumah kita, aku gak akan kembali lagi padanya."
"Tapi aku risih mas, aku terganggu jika dia ke rumah kita terus."
"Ya udah kalo gitu kita pindah rumah aja, biar dia tidak bisa menemukan aku lagi. Kamu risih, aku juga sama risih sayang.
"Aku ga mau pindah dari rumah ini, di rumah ini banyak kenanganku."
"Ya sudah berarti kamu jangan marah lagi sayang. Aku enggak bakal kembali lagi padanya. Cintaku hanya untukmu sayang." ucap Dimas lalu memeluk mumut.
Hari itu Dimas akan pergi untuk berdakwah di kampung sebelah. Mumut ikut mendampingi suaminya. Usai Dimas berdakwah, ibu-ibu dan para perempuan yang masih muda pinta poto bareng. Mumut hanya memperhatikannya, mumut juga cemburu, karena suaminya banyak yang suka.
"Sayang ko kamu diem aja?"
"Kamu ternyata banyak fansnya mas."
"Iyah dong, aku 'kan ganteng." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Aku cemburu."
"Jangan gitu dong sayang! Aku poto bareng mereka doang masa cemburu?"
"Iyah, aku cemburu."
"Hum. Berarti kamu cinta aku." ucap Dimas sambil ketawa.
***
Kini mereka sudah sampai di rumah, Dimas membuka amplop hasil ceramahnya. amplopnya sangat tebal Dimas dapet dua amplop yang sangat tebal berisi uang. Saat dia hitung semua jumlahnya ada sebelas juta.
"Ini sayang, uang untukmu semua." ucap Dimas sambil memberikan uang pada mumut.
"Kamu dapet sebelas juta mas sekali berdakwah?"
"Iyah sayang. Ayo ambil uangnya!"
"Ini bayaran besar sayang."
"Iyah, alhamdulilah sayang."
mumut pun mengambil uangnya dan mengucapkan terima kasih. Mumut langsung menyimpan uang itu dia memisahkan uang itu untuk di tabung dan untuk kebutuhan tiap hari. yang sebelas juga mumut tidak akan bisa menghabiskannya dalam satu bulan, karena mumut bukan orang pemboros, ia istri yang pandai mengatur uang.
"Ini bayaran besar, dalam satu kali berdakwah Dimas dapet sebelas juta, ya allah terima kasih." gumam mumut.