
"Ayah, ibu khawatir dengan Fatimah, ia tidak mau membuka pintu kamarnya."
"Ya sudah biarkan saja, nanti juga dia keluar."
"Ko ayah ga khawatir?" tanya mimi dengan ekspresi wajah panik.
"Ayah juga khawatir bu, tapi percuma kita ketuk-ketuk pintu juga fatimah ga akan buka. Mungkin dia marah karena ayah kunci rumah ini."
"Ayah sih ngapain di kunci segala rumah."
"Bu, ayah ga mau fatimah pergi ke luar rumah lagi tanpa hal yang jelas. Ayah sudah semakin yakin kalo putri kita ada masalah. Kita harus cari tau."
"Iyah, ayah."
Sementara Ridwan kakak fatimah sedang asyik main game di kamarnya. Iman menghampirinya dan bertanya.
"Ridwan, apa fatimah pernah cerita ke kamu tentang masalahnya?" tanya imam.
"Tidak ayah, memangnya fatimah kenapa?"
"Adik kamu sekarang berubah, sering pergi ke luar rumah tidak jelas dan tidak mau ke pesantren lagi."
"Nanti Ridwan tanya dia baik-baik yah."
Ridwan kakak satu-satunya fatimah, Ridwan juga sangat perduli dengan adiknya. ia selalu membela adiknya, dan memanjakan adiknya. Tapi Ridwan jarang ada di rumah, Ridwan selalu menghabiskan waktunya bersama teman-temannya di tempat perkumpulan yang tidak jelas. Ridwan tidak punya pekerjaan, tapi anehnya Ridwan selalu memiliki uang. Ridwan bilang pada iman dan mimi jika ia mempunyai uang dari hasil main game. Iman pun sudah pasrah pada anak pertamanya itu, karena Ridwan sudah tidak bisa di atur.
***
Kini mumut dan Dimas sudah berada di rumah. Mereka duduk berdua di sofa sambil nonton tv. karena keasikan nonton tv mumut sampe ketiduran.
"Mumut tidur, istriku cantik. Lagi hamil malah makin cantik." gumam Dimas saat menatap mumut yang sedang tidur di sofa.
Dimas mencium bibir mumut dan keningnya. Dimas juga menggendong mumut untuk di pindahkan ke kasur yang ada di kamar. Kini mumut sudah berbaring di kasur, Dimas mencium bibirnya lalu membuka jilbabnya. Saat Dimas ingin membuka jilbabnya mumut bangun.
"Mas, mau ngapain?"
"Aku mau buka jilbabmu sayang."
"Terus?"
"Kita bercinta yu! aku ga kuat sayang." ucap Dimas dengan tatapan napsu.
"Aku lagi cape mas."
"Cape abis apa?" tanya Dimas sambil menggoda mumut.
"Aku lagi ga enak badan mas."
Diam hanya terdiam mendengar ucapan istrinya. Dimas sangat menginginkan mumut. Ia tidak kuat untuk menahan hasratnya. Lalu Dimas mencium bibir mumut dengan cara paksa.
"Mas, kamu mau apa?"
"Aku mau sayang."
Dimas membuka kancing baju mumut, dan mengisap dua gunung milik istrinya dengan cara paksa.mumut berontak tapi ia kalah dengan suaminya, kedua tangan mumut di tekan oleh tangan Dimas.
"Mas, aku lagi cape, aku ga enak badan, tolong jangan paksa aku mas." ucap mumut.
"Aku ga kuat sayang. Senjataku udah pengen masuk dari kemarin malam."
"Aw .... Ko kamu gigit sih mut."
"Bodo amat, mas aku ini lagi hamil jangan paksa aku untuk bercinta. Aku lagi ga enak badan. Apa kamu ga kasian pada calon anak kita. Kalo aku cape anak kita juga cape." ucap mumut dengan suara keras. Dimas hanya terdiam mendengar ucapan istrinya.
"Lepaskan mas! Jangan paksa aku! Kamu ingat 'kan kata dokter aku ga boleh kecapean."
Dimas tidak jadi melanjutkan aksinya, karena ia ingat calon anaknya yang harus di jaga. Ia tidak mau mumut kecapean. Dimas hanya bisa menahan hasratnya menatap mumut dengan napsu.
"Sana kamu ke luar kamar mas! Nanti kamu pengen lagi." titah mumut dengan wajah cemberut.
"Ga sayang, aku pengen di sini sama kamu."
"Awas ya, jangan paksa aku lagi!" ucap mumut mengancam Dimas sambil melotot.
"Hum. Iyh ga." ucap Dimas sambil tersenyum.
***
Fatimah sudah keluar kamar, ia memasuki dapur untuk mengambil air minum. Mimi menghampirinya dan bertanya.
"Sayang, kanapa tadi mamah ketuk pintu kamarmu ga du buka?"
"Maaf bu, tadi mungkin aku lagi tidur." sebenarnya Fatimah tidak tidur, ia males untuk membuka pintunya karena kesal pada org tuanya yang mengunci rumah.
"Tadi piring di dapur kamu yang pecahin sayang?" tanya mimi santai.
"Ga bu."
"Loh. Terus siapa dong? Ibu sudah tanya Ridwan tapi dia juga ga ngaku."
"Ga tau bu, mungkin kucing." ucap fatimah tidak mau mengakui perbuatannya.
Fatimah memang memiliki sifat pemarah. Jika ia marah pasti merusak barang. Mimi sudah tau watak putrinya dari kecil memang fatimah memiliki sifat pemarah. Mimi tidak mau berdebat masalah piring, ia membereskan pecahan piring yang ada di lantai dapur dengan perasaan sedih.
"Ya allah, kenapa anakku tidak mau jujur, boro-boro bantu beresin pecahan piring ini. Ya allah aku ingin putriku jadi anak yang tidak pemarah." gumam mimi dalam hati.
melihat mimi sedang merapihkan pecahan piring, iman menghampiri. Iman melihat air mata yang keluar dari mata mimi.
"Bu, kenapa ibu yang beresin piring ini? Biar fatimah aja, dia 'kan yang berbuat." ucap iman.
"Fatimah tidak melakukannya yah."
"Sudah jangan menangis! Anak itu sudah berbuat salah tidak mau ngaku lagi!" ucap iman marah.
"Ibu cuma sedih aja pak, kenapa fatimah kalo marah pasti banting barang, ternyata sifatnya belum berubah yah, meski sudah pesantren."
"Sudah bu, jangan menangis! Kita berdoa aja semoga putri kita bisa berubah menjadi anak yang sholehah. Amin." ucap iman sambil mengangkat kedua tangannya layaknya sedang berdoa
"Amin .... Amin ya allah." ucap mimi.
Iman dan mimi pergi ke pesantren pak kiai ahmad untuk bertemu dengan imas. Sebelum pergi ia tak lupa mengunci pintu agar Fatimah tidak bisa ke luar rumah.
"Ayah jangan kunci pintu lagi! Takut fatimah marah lagi 'kan ini ada Ridwan. Ridwan pasti jaga fatimah tadi ibu sudah titip ke dia."
"Ga bu, ayah harus mengunci pintu, Ridwan itu sibuk main game, ayah ga mau fatimah ke luar rumah tidak jelas lagi."
***
Mimi pun setuju dengan ucapan iman, lalu mereka pergi menuju pesantren. Sampai di pesantren mereka langsung di sambu pak kiai.
"Assalamualaikum." ucap salam iman.
"Waalaikumsalam." jawab salam pak kiai ahmad.
Tujuan iman dan mimi ke pesantren untuk menemui imas, pak kiai ahmad sudah tau, karena sebelum berangkat ke pesantren iman sudah menghubungi pak kiai.
"Bagaimana fatimah baik-baik saja 'kan?" tanya pak kiai.
"Alhamdulillah pak kiai fatimah sehat."
"Alhamdulilah. Jangan banyak bertanya dulu pada fatimah! dan jangan di marahi dulu. Tanya baik-baik dan rayu agar fatimah mau cerita!" titah kiai ahmad.
Imas sudah masuk ke dalam rumah pak kiai. Imas di tanya oleh iman tentang fatimah. Imas pun menceritakan semuanya, padahal imas sudah berjanji tidak boleh cerita sama siapapun. Tapi karena iman memaksa dan memohon pada imas agar cerita jadi imas tak tega melihatnya. Kini iman dan mimi sudah tau permasalahan putrinya.
"Terima kasih imas, kamu sudah mau cerita sama bapak." ucap iman.
"Sama-sama pak, tapi bapak jangan bilang ke fatimah kalo ima cerita, nanti dia marah."
"Iyah enggak."