PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Terpesona


Waktu terus berlalu, sudah dua bulan mumut sakit dan kini ia sudah bisa berjalan seperti biasanya, dan dokter juga sudah membolehkan mumut beraktivitas seperti biasa. Kini mumut sangat bahagia, dia sudah bisa menjalankan aktivitas seperti biasa.



"Mas, aku besok kembali kerja ya, bos aku sudah menungguku, dia ingin aku kerja lagi." ucap mumut semangat.



"Jangan dulu kerja! Baru juga sembuh, nanti aja lah tunggu satu bulan lagi." ucap Dimas.


"Ga ah, dokter juga sudah memperbolehkan aku kerja lagi." tolak mumut.


"Kamu 'kan kerja pembantu, jadi pembantu itu berat kerjanya, takut kamu ke jatuh atau gimana nanti." ucap Dimas.


"Ya aku hati-hati lah mas, aku ga akan ceroboh." ucap mumut.


"Aku takut kakimu sakit lagi." ucap Dimas panik.


"Ga mas, justru kata dokter setelah aku sembuh harus banyak gerak, biar ga kaku." ucap mumut.


"Ya udah terserah kamu aja mut." ucap Dimas sedikit kecewa, karena istrinya tak nurut.


"Tapi nanti aku kerjanya hari senin aja, ini kan hari sabtu, tanggung kalo masuk." ucap mumut.


"Yah, terserah kamu mut!" ucap Dimas kesal.


"Kamu ko kayak ga setuju aku kerja lagi mas, aku 'kan ga betah kalo di rumah aja, pusing aku kalo di rumah aja. Mending kalo sudah ada anak, mungkin aku bisa di rumah terus, karena aku ada kerjaan ngurus anak." ucap mumut sambil cemberut.


"Iyah ... Terserah kamu aja mut, aku setuju ko kamu kerja lagi." ucap Dimas.


Mumut memang orangnya keras kepala, ia sulit di atur. Dimas sebagai suami ingin istrinya di rumah saja biar dia yang mencukupi semua kebutuhan istrinya, tapi mumut tak mau, ia tetap ingin kerja.


"Mut, aku 'kan bisa cukupi semua kebutuhan kamu, jadi ngapain kamu harus kerja." ucap Dimas.


"Mas, kita kan bakal punya anak, dan aku itu ingin punya tabungan buat anak kita nanti, pendapatan kamu 'kan ga tentu, jadi mending aku kerja, dari pada aku di rumah terus." ucap mumut.


"Kalo nanti kita punya anak, aku bakal cukupi ko semua kebutuhan anak kita." ucap Dimas.


"Ih mas, kamu itu ko ga ngerti aja sih, aku itu pengen kerja mas, aku ga betah di rumah." ucap mumut merengek.


"Iyah ... Iyah." ucap Dimas malas.


Hari itu hari sabtu, mumut pamit pergi, ia ingin membeli bahan kecantikan. Mumut ingin dirinya tampil cantik di depan Dimas.


"Mas, aku pergi dulu ya! Aku mau beli kosmetik. Aku ingin cantik di depanmu." ucap mumut sambil tersenyum.


"Aku antar ya! Jangan sendiri!" ucap Dimas.


"Ah ... Ga usah mas, dadah sayang." ucap mumut sambil melambaikan tangan lalu menyalakan motornya.


"Mut, tunggu! kamu jangan sendiri aku antar, aku takut kamu kenapa-kenapa!" ucap Dimas.


"Ga usah mas, aku cuma bentar doang ko, dadah sayang." ucap mumut sambil melambaikan tangan lalu pergi.


"Istri susah di atur memang begitu." gumam Dimas sambil menggelengkan kepalanya.


Dimas duduk di kursi depan rumahnya, ia santai sambil ngerokok tak lupa juga minum kopi. Mumut yang bilang pergi hanya sebentar, tapi sudah empat jam belum datang juga.


'Katanya mumut mau sebentar, ini udah empat jam, ko lama amat ya? Masa beli kosmetik selama ini.' batin Dimas.


Sebenarnya mumut tak hanya membeli kosmetik, ia juga pergi ke suatu tempat, ia menemui beberapa temannya.


'Ke mana sih Mumut? Ko lama banget ya? Kenapa hatiku ga percaya mumut, aku ga yakin kalo dia hanya membeli kosmetik.' batin Dimas.


setelah enam jam, mumut baru datang. Dimas yang sudah lama menunggunya, Dimas juga meraa kesal, karena pas Dimas hubungi hp mumut ga aktip.


"Assalamualaikum." ucap mumut langsung masuk rumah tanpa mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam." jawab salam Dimas dengan wajah cemberut.


"Temanmu cewe apa cowok? Dan kenapa kalo hubungi kamu hpmu ga aktip?" tanya Dimas marah.


"Maaf mas, tadi hpku mati. Aku lupa ga isi daya. Maaf ya sayang!" ucap mumut sambil merayu.


"Aku ga suka istriku pergi lama, bilangnya mau beli kosmetik doang, tapi ternyata ketemu temanmu juga!" ucap Dimas masih marah.


"Temenku cewe ko mas, jadi ga apa-apa lah kamu aku ketemu." ucap mumut.


"Tapi kamu ga bilang aku kalo mau ketemu temanmu, aku di sini khawatir nunggu kamu!" ucap Dimas kesal.


"Iyah ... Maaf mas, lain kali aku ga gitu lagi. Maaf ya sayang! Mana senyumnya." ucap mumut sambil menggoda Dimas.


Setelah Dimas tak marah lagi, mumut memperlihatkan belanjaannya pada Dimas.


"Nih sayang .... Belanjaanku, bedak, handbody, lipstik, pelembab, alis mata, dan sabun cuci muka." ucap mumut sambil memperlihatkan belanjaannya.


"Iyah ... terserah kamu mau beli apa aja, aku senang kalo kamu mau dandan, karena selama kamu menikah denganku kamu tak pernah dandan, bahkan saat menikah denganku saja kamu hanya memakai lipstik. ucap Dimas.


"Aku ga dandan aja sudah cantik 'kan, apa lagi dandan." ucap mumut sambil tersenyum.


"Iyah ... Iyah, kamu cantik." ucap Dimas cuek.


"Tunggu ya mas! Aku mau mandi dulu terus dandan secantik mungkin. Liat aja pasti kamu pangling melihat kecantikan." ucap mumut memuji dirinya sendiri.


"Iyah, coba aku pengen liat, ya udah sana mandi terus dandan!" titah Dimas.


"Oke." ucap mumut lalu pergi ke kamar mandi.


Usai mandi mumut dandan, hampir 30 menit mumut berdandan. Kini ia sudah tampil cantik, Lalu ia menemui Dimas yang sedang santai duduk si sofa.


"Mas ... Sist ... Mas, liat aku!" titah mumut. Setelah Dimas melihatnya, mata Dimas tak berkedip lama, ia takjub dengan kecantikan istrinya.



"Sits ... Sits ... Mas, hei ... Mas." ucap mumut.



"Eh ... Kamu cantik banget mut! subhanallah." ucap Dimas memuji mumut yang sangat cantik.


"Iyah lah, emang aku itu cantik." ucap mumut sambil tersenyum.


"Bener-bener ini sangat membuat aku kaget, aku kaget mut melihat kecantikanmu. Kamu sangat indah di pandang mata." ucap Dimas yang terus memuji mumut.


"Ah ... kamu bisa aja mas." ucap mumut sambil mencolek pipi Dimas.


"Bener sayang, kamu itu sangat cantik. Coba dari dulu kamu dandan seperti ini, mungkin aku langsung jatuh cinta." ucap Dimas.


"Aku itu pengen tau aja, apa kamu itu tulus ga cintai aku? Kalo kamu tau aku cantik, takutnya kamu ga tulus cintai aku mas, karena nanti 'kan aku bakal tua." ucap mumut.


"Oh ... Jadi gitu." ucap Dimas sambil menatap mumut. Matanya tak bisa berhenti menatap mumut.


Dimas sangat kaget ketika melihat mumut dandan, karena Dimas belum pernah meoihat istrinya secantik itu, saat nikah saja mumut hanya menggunakan kosmetik listrik. Jadi pantas saja Dimas kaget ketika istrinya berdandan sempurna.


"Mut, kamu jangan ke luar rumah dandan ya!" ucap Dimas.


"Memangnya kenapa mas?" tanya mumut.


"Aku takut, kaku banyak yang naksir, karena kamu sangat cantik." ucap Dimas.


"Ha ... Ha ... Ha, kamu cemburu sayang." ucap mumut sambil ketawa.


"Iyah lah, aku cemburu, aku kan suamimu mut." ucap Dimas serius.


"Iyah ... Iyah." ucap mumut sambil tesenyum.


Mumut memang sengaja tak pernah dandan selama menikah dengan Dimas, karena ia ingin tau, apakah suaminya bisa mencintainya apa adanya tanpa harus melihat dia berdandan.