PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Curiga


Pagi jam 05:30. Mumut sudah berangkat kerja, ia terburu-buru karena banyak pekerjaan.



"Mas, aku berangkat ya." ucap mumut sambil mencium tangan suaminya.



"Tapi, kamu belum sarapan mut, aku belum masak."



"Aku buru-buru mas, nanti sarapan di sana aja, soalnya banyak kerjaan mas, jadi aku harus buru-buru."


"Ya udah, nanti kamu jangan lupa sarapan ya, dan bawa motonya jangan cepat-cepat, pelan-pelan aja!" titah Dimas.


"iyah suamiku yang ganteng." ucap mumut sambil mencolek pipi suaminya.


Dren.... Dren ... Dren, mumut menyalakan motornya, ia hanya panaskan motornya sekitar 1 menit, karena harus buru-buru berangkat kerja.


"Mas, aku berangkat." ucap mumut sambil tersenyum.


"Hati-hati ya!" ucap Dimas sambil melambaikan tangan.


Karena Dimas pagi itu belum melakukan pekerjaan rumah seperti biasa, ia segera masuk dapur, namun ketika Dimas menuju dapur ia menemukan ****** di ruang tamu dekat sofa.


"Ya allah, ini apa? ini kan ******, kenapa bisa ada di sini? ini punya siapa? Masa mumut punya ****** ini, buat apa? setiap aku melakukan hubungan intim dengannya kan, tak pernah memakai ini." gumam dimas, ia merasa kaget ketika melihat barang itu.


Dimas curiga dengan mumut, ia tak percaya jika istrinya seorang pembantu.


"Sebenarnya pekerjaan mumut apa sih? aku ga yakin kalo dia pembantu." gumam Dimas.


Dimas juga penasaran dengan mumut, karena Dimas tidak boleh membuka lemari mumut. Baju mereka juga di pisah tidak satu lemarin. Ingin Dimas membuka lemari itu, tapi di kunci dan Dimas tak tau kuncinya di mana.


'Aku penasaran dengan lemari mumut, kenapa aku tak boleh membuka lemarinya? ada apa di dalam lemari itu?' batin Dimas bertanya-tanya karena ia penasaran.


Lalu Dimas mencari-cari kunci lemari itu, mengangkat kasur mumut berharap di bawah kadurnya ada kunci.


'Yah, ga ada, di mana sih kuncinya? apa mungkin mumut membawanya?' huh ... Sudah lah, nanti aku cari lagi kuncinya kapan-kapan, perutku sudah lapar, mending aku masak.' batin Dimas.


Karena Dimas sudah merasa lapar ia pergi ke dapur, pagi itu Dimas masak tempe kecap, tumis kangkung dan sambal terasi.


"Masak yang gampang aja lah, perutku sudah lapar." gumam Dimas.


Usai masak, Dimas langsung makan, usai beres makan, ia mencuci baju dan membersihkan rumah. waktu tak terasa sudah jam 10:30.


"Duh ... Cape juga ya, ga apa-apa lah aku cape, kan dapet pahala, aku bisa bahagiain mumut dengan cara ini." gumam Dimas sambil duduk di sofa.


Dimas membaringkan tubuhnya di sofa sambil nonton tv.


'Mana sih, siaran yang ada berita, kebanyakan film mulu dari tadi.' batin Dimas sambil nonton tv.


Dimas ketiduran di sofa sedangkan tv masih nyala, ketika adzan dzuhur berkumandang ia langsung bangun.


"Ya allah, udah dzuhur, ga kerasa aku ketiduran di sini.' batin Dimas lalu pergi ke kamar mandi ingin berwudhu.


Ketika ia ingin memasuki kamar mandi, ia kaget mendengar suara perempuan mengetuk pintu.


"Hai ... buka pintunya, buka!" ucap perempuan seksi sambil mengetuk pintu.


"Siapa sih? apa teman mumut? ko penampilannya seksi banget." gumam Dimas, saat mengintip di jendela.



"Hai ... Buka pintunya!" ucap perempuan seksi.


"Aku buka aja lah, siapa tau ada kepentingan."


"Lama amat sih buka pintunya, kamu siapa?" tanya perempuan seksi.


"Aku suami mumut." ucap Dimas sambil menundukkan kepala.


"Mana mumut?" tanya perempuan seksi.


"Mumut sudah berangkat kerja, apa ada perlu?" tanya Dimas.


"Oh ... Ya sudah." ucap perempuan seksi itu lalu menghisap rokok.


"Hush ... Huhs." perempuan seksi itu mengarahkan asap rokoknya ke wajah Dimas.


"Maaf mba, jangan merokok di sini! Saya ga suka rokok." ucap Dimas kesal.


"Oh." ucap perempuan seksi itu lalu pergi menggunakan mobil mewah.


Perempuan itu penampilannya seksi memakai rok mini dan baju yang ketat sampe menonjolkan dua gunung miliknya.


"Astagfirullah, itu siapa sih, masa mumut punya teman kaya gitu." gumam Dimas.


Dimas masak rumah lagi, ketika baru saja di tutup pintu rumah, mumut datang.


"Assalamualaikum, mas, buka pintunya!" ucap mumut sambil mengetuk pintu.



"Waalaikumsalam." jawab salam Dimas sambil membuka pintu.


"Mas." ucap mumut sambil mencium tangan Dimas.


"Kamu ko pulangnya jam setengah satu, biasanya kan jam 12 siang udah pulang." ucap Dimas curiga.


"Ada pekerjaan banyak mas, jadi aku harus pulang aga telat." ucap mumut sambil berjalan menuju kamarnya.


"Oh," ucap Dimas.


Dimas tak mau nanya dulu tentang ****** dan perempuan tadi, ia kasian pada mumut.


'Nanti aja lah, aku tanya yang tadi, biarkan dulu mumut istirahat.' batin Dimas.


Dimas menuju kamar mandi, ia membersihkan badan, dan berwudhu.


Usai sholat, ia menatap mumut yang terbaring tidur.


'Sepertinya, mumut sangat lelah.' batin Dimas.


Dimas membangunkan mumut, karena sudah jam setengah dua mumut belum sholat dzuhur.



"Aku belum sholat mas." ucap mumut dan bangun untuk sholat.


Dimas makan siang dengan makanan yang tadi ia masak, ia lupa tak mengajak istrinya makan bareng, karena mumut masih sholat.


"Mas, kamu udah makan?" tanya mumut, menghampiri Dimas di meja makan.



"Maaf ya mut, aku tadi makan duluan."



"Ga apa-apa mas, kamu masak apa mas?" tanya mumut sambil membuka tutup meja makan.



"Kamu ga masak ikan mas?" tanya mumut yang sudah melihat makanan tanpa ikan.



"Maaf mut, tadi aku buru-buru masaknya, karena perutku udah laper, jadi aku masak yang gampang aja."



"Oh ... ga apa-apa mas, ini juga enak ko." ucap mumut sambil mengambil nasi.



"Mut, tadi ada perempuan berpenampilan seksi menggunakan mobil mewah datang ke sini, dia nanyain kamu. apa itu temanmu?" tanya Dimas sambil melihat wajah mumut yang sedang fokus makan.



"Namanya siapa mas?" tanya mumut.



"Aku ga nanya namanya, dia cuma nanyain kamu, dan perempuan itu merokok."



"Merokok?" tanya mumut kaget.



"Iyah."



"Siapa ya, temanku banyak mas, ada juga sih yang merokok." ucap mumut santai.



"Itu seperti orang kaya loh, kamu kan cuma pembantu, ko kamu punya teman kaya sih?" tanya Dimas sedikit curiga.



"Memangnya pembantu ga boleh berteman dengan orang kaya? aku itu mas berteman dengan siapa saja, aku juga punya teman pelacur mas." ucapan mumut membuat Dimas kaget.


"Pelacur!" Ucap Dimas kaget.


"Iyah mas, memangnya ga boleh berteman dengan pelacur?" tanya mumut.



"Kalo bisa jangan mut! ga apa-apa sih kalo hanya sekedar kenal doang mah, tapi kalo berteman jangan mut! takut kamu terbawa olehnya." ucap Dimas mengingatkan.



"Oh ... gitu ya mas, tapi aku kasian dengan pelacur teman aku itu, soalnya dia jadi pelacur karena terpaksa."



"Terpaksa karena apa?" tanya Dimas.



"Dia jadi pelacur gara-gara di perkosa teman kuliahnya, di gilir 4 orang, dari situ ia memutuskan jadi pelacur, karena ia merasa sudah kotor, tak ada harga diri, semua harapannya hancur, ibunya sudah meninggal dan bapaknya banyak istrinya, dia males untuk pulang dan pacarnya meninggalkannya karena merasa kecewa sesudah ia cerita yang sebenarnya."ucap mumut sedih.


"Kamu kalo bertemu dengannya, nasehatin dia, agar berhenti jadi pelacur!" titah Dimas.


"Aku juga sudah pernah nasehatin dia, tapi dia tak mendengar, ya sudahlah ngapain bicarakan dia, mending kamu buatkan aku teh hangat mas! kamu mau ga?" tanya mumut sambil ketawa.


"Iyah ... aku buatkan untuk istriku yang cantik."


"Makasih sayang!" aku tunggu di sofa ya."



"Iyah."


Dimas membuatkan teh hangat untuk mumut dan memberikannya.


"Ini sudah jadi, silakan di minum tuan putri!" titah Dimas sambil bercanda.


"Makasih sayang!" ucap Mumut dan minum teh.


Dimas duduk di samping mumut, sebenarnya ia ingin tanya soal ****** tadi, tapi ia merasa ragu untuk menanyakannya.


"Mas, ko kamu diem aja sih, kenapa?" tanya mumut sambil menggoda Dimas.



"Ga apa-apa sayang." ucap Dimas sambil tersenyum.


Dimas tak jadi nanya, ia ingin selidiki dulu ada apa di dalam lemari mumut.


'Sebaiknya aku jangan tanya sekarang lah, aku harus tau dulu apa isi lemari mumut.' batin Dimas.


Karena waktu sudah menunjukan jam 13: 50. Mumut berangkat kerja lagi.


"