PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Kunci


"Sayang ... sayang! Lama amat naro uangnya." seru Dimas dan mumut segera menghampirinya.


"Apa mas?" tanya mumut saat sudah di samping Dimas.


"Sayang, pijitin aku dong!" titah Dimas sambil tersenyum.


"Em .. Kamu mas panggil aku ternyata pengen di pijit." ucap mumut lalu mulai memijit Dimas.


"Tapi, pijitan aku gak enak mas."


"Enak ko, kamu 'kan dulu pernah pijit aku, aku ingin di manja istriku." ucap Dimas.


"Iyah siap bos, aku juga semangat pijat kamu, karena mas dapet uang sebelas juta."


"Berarti kalo gak ada duit gak semangat?" tanya Dimas sambil menikmati pijatan istrinya.


"Gak ko mas, aku tetep semangat, tapi kalo di kasih uang banyak lebih semangat."


"Bisa aja kamu mut." ucap Dimas sambil mengelus tangan mumut.


tidak terasa mumut sudah memijit suaminya satu jam lebih, mumut sudah cape dan ia berhenti memijat Dimas. karena mumut cape dia langsung tidur di kursi sofa. Dimas juga di pijat mumut sampe tidur saking enaknya.


"Ya allah istriku tidur, kasian dia. Pasti mumut cape." gumam Dimas saat terbangun dari tidurnya.


Dimas memasuki kamar, tak sengaja ia melihat kunci di dekat tas mumut. Dimas langsung mengambil kunci tersebut.


"Ini pasti kunci lemari mumut, aku harus segera buka. Aku penasaran apa isi lemarinya." gumam Dimas saat sudah memegang kunci tersebut.


Dimas segera membuka lemari tersebut dengan pelan-pelan. Sesudah lemari itu di buka, Dimas mengambil tas besar dan koper besar.


"Apa isi koper dan tas ini ko berat banget sih." gumam Dimas.


***


"Kenapa pulangnya harus malam sih kalian." ucap iman.


"Maaf ayah, fatimah pengen main lebih lama aja. Fatimah 'kan jarang ke luar rumah semenjak ayah kurung aku."


"Ayah gak kurung kamu fat, ayah hanya membuat peraturan jika kamu ingin ke luar rumah harus di dampingi orang tuamu atau kakakmu."


"Iyah, aku faham ayah. Ya sudah aku masuk kamar ya." ucap fatimah lalu memasuki kamarnya.


"Ridwan juga masuk kamar ya ayah." ucap Ridwan.


"Apa kalian sudah makan?" tanya mimi.


"Sudah bu." ucap Ridwan lalu memasuki kamarnya.


Saat Ridwan sudah sampai di dalam kamar, ia teringat dengan ucapan adiknya. Jika adiknya tidak suci lagi. Ridwan sebagai kakak harus tau siapa yang berani mengambil kesucian adiknya. Sekitar jam dua belas malam Ridwan mengetuk pintu kamar adiknya. Dalam tiga ketukan pintu langsung di buka fatimah.


"Ada apa kakak?" tanya fatimah.


Ridwan mengunci kamar fatimah dan menyuruh fatimah untuk duduk di kasur bersamanya. fatimah sangat ngantuk dia tidak fokus saat kakaknya bertanya.


"Fat, sekarang bilang sama kakak! Siapa yang sudah mengambil kesucianmu?"


"Apa kak?" tanya fatimah, dia tidak mendengar pertanyaan kakaknya, karena ngantuk.


"Kamu cuci muka dulu sana! Kakak mau ngomong penting sama kamu."


"Iyah."


Usai fatimah mencuci muka, dia duduk di samping kakaknya dan menatap wajah Ridwan. Ridwan mulai bertanya dengan wajah serius.


"Dek, jawab pertanyaan kakak! Siapa orang yang sudah mengambil kesucianmu?"


"Maksud kakak?" fatimah berpura-pura tidak tau, karena ia tidak mau membahas masalahnya.


"Sudah kak! Aku gak mau bahas itu, lagian itu semua sudah terjadi. Aku memberikan kesucianku itu aku yang mau kak. Jadi tidak usah di permasalahkan lagi."


"Apa? tapi tetep aja laki-laki itu juga salah. Dia sudah berani mengotori mu!" ucap Ridwan marah ketika adiknya malah pasrah.


"Terus kakak mau apa kak? Kamu mau datengin dia? malu kak kalo sampe kakak datengin dia." ucap fatimah.


"Hey fatimah, hidupmu hancur gara-gara lelaki itu kamu mau diam aja. Siapa orangnya katakan! Ayo cepat katakan! kalo kamu gak mau jujur, kakak akan laporkan masalah ini pada ayah!" Ucap Ridwan semakin marah.


"Tolong kak, jangan bilang ke ayah dan ibu! Aku takut sama ayah. Kalo ayah tau aku tidak suci lagi dia pasti marah dan kecewa." fatimah ketakutan.


"Ya sudah cepat katakan! Ayo katakan!" ucap Ridwan dengan suara keras.


"Orang yang mengambil kesucianku mantan pacarku kak, tapi dia sudah menghilang entah tidak tau ke mana. Aku tidak tau rumahnya di mana. Dia pernah mengajakku ke rumahnya dan ternyata rumah itu bukan rumahnya. Dia membayar yang punya rumah itu agar aku percaya jika itu rumahnya. Aku sudah cari ke mana-mana, tapi tidak ketemu bahkan temannya pun tidak tau keberadaanya sekarang."


"Berengsek! Siapa namanya? Tanya Ridwan dengan wajah marah."


"Agus." ucap fatimah.


"Apa kamu punya nomer teleponnya?"


"Dulu punya kak, tapi nomernya udah gak aktif terus aku ganti hp jadi nomer yang gak aktif itu ada di hp ku yang lama dan hp ku yang lamanya sudah jual."


"Kenapa kamu diem aja pada saat itu hah?"


"Aku enggak berani bilang kak, aku takut sama ayah." ucap fatimah dengan wajah takut.


"Di mana rumah palsu si agus itu?"


"Di dekat taman bunga, perumahan sari asih, rumahnya nomer 31."


"Awas aja kamu agus, aku pasti berhasil tangkap kamu!" ucap Ridwan sambil mengepal kedua tangannya.


"Kakak jangan bilang masalah ini sama ayah dan ibu, aku takut kak!"


"Sudah kamu tenang saja, kakak yang akan urusin masalah ini."


Ridwan keluar dari kamar fatimah menuju kamarnya. Fatimah menutup kembali pintu kamarnya dengan perasaan takut.


"Maaf 'kan aku kak, aku tidak jujur sama kakak, aku buat cerita palsu. Sebenarnya yang sudah mengambil kesucianku adalah." gumam fatimah lalu ia menangis menyesali semua yang telah terjadi.


"Ayah, ibu dan kakak maaf 'kan aku. Aku telah mengecewakan kalian semua." gumam fatimah sambil menangis.


Esok pagi Ridwan bersama dua temanya menghampiri rumah yang di ceritakan Fatimah. Sampai di rumah tersebut, meraka langsung menekan tombol bell rumah tersebut. dalam satu menit pintu rumah itu di buka.


"Ada apa mas?" tanya seorang pria.


"Boleh sama bicara dengan anda di sini sekarang?" tanya Ridwan dengan ramah.


"Boleh, silahkan duduk!" Ridwan dan kedua temannya duduk di kursi yang ada di depan rumah itu.


"Apa anda kenal dengan orag yang namanya agus?" tanya Ridwan dengan wajah santai.


"Agus? Saya tidak kenal, Memangnya ada apa bang?"


"Dia punya utang sama sama 20 juta."


"Oh. Maaf bang saya gak kenal."


"Apa di perumahan ini ada orang yang namanya agus?"


"Wah ... Saya kurang tau bang, perumahan ini ' kan luas, saya gak apal, abang coba tanya aja ke pak RT! rumahnya ada di gang mawar. Nanti kalo abang sudah sampai di gang mawar tinggal tanya aja."


"Oke. Terima kasih." ucap Ridwan dengan tatapan mencurigai.