PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Mumut Pergi


Pagi jam 5, mumut sudah bangun, ia langsung melaksanakan sholat subuh. Usai sholat ia buru-buru berpamitan, karena 8ngin pergi ke suatu tempat.



"Mas, aku berangkat ya!" ucap mumut ingin mencium tangan Dimas.



"Ko tampil amat, kamu mau ke mana mut?" tanya Dimas.



"Ibu dan ayah suruh aku ke rumah sekarang, aku ga tau mau ngomong apa, tapi ibu cuma nyuruh aku aja yang ke sana." ucap mumut bohong.


"Oh ... Ya udah ga apa-apa, kamu hati-hati mut." ucap Dimas.


***


Mumut berangkat menggunakan motornya, sampai di tempat tujuan ia bertemu dengan seorang bapak-bapak.


"Pak, bagaimana semua pekerjaannya sudah beres?" tanya mumut.


"Sudah bu ... Semua sudah beres, tapi untuk sawah yang daerah kampung sebelah belum bu." ucap bapak-bapak itu.


"Oh ... Saya ingin bapak menyelesaikan semuanya, dalam waktu 3 bulan saya ingin panen semua sawahnya." ucap mumut tegas.


Bapak itu bernama pak yadi, dia adalah orang kepercayaan mumut, semua sawah yang mumut miliki di urus oleh pak yadi.


"Pak, kalo bisa, nanti pas udah panen, pisahkan 10 karung beras untuk di sodakohkan pada pakir miskin.



"Baik bu." ucap pak yadi sambil menundukkan kepalanya.


"Saya ingin liat hasil panen bulan kemarin." ucap mumut.


"Mari bu!" titah pak yadi sambil mengajak mumut ke suatu tempat.


Mumut di bawa ke pabrik beras dan ia memperhatikan sambil meneliti padi-padi karungan yang ada di dalam pabrik itu.


"Buka pak" titah mumut ingin di bukakan padi yang dalam karung dan pak yadi membukakannya.



"Bagus." ucap mumut sambil memegang padi.



"Buka yang karung ini!" titah mumut ingin melihat beras di dalam karung.



"Baik bu." ucap yadi.



"Wah ... Bagus." ucap mumut sambil tersenyum.


Mumut kembali ke tempat tadi ia bertemu dengan pak yadi, di tempat yang damai bagi mumut yaitu sawah.


"Terima kasih baik sudah bekerja dengan baik, saya harap semua hasil panennya berhasil terus." ucap mumut sambil tersenyum.


"Sama-sama bu." ucap yadi sambil tersenyum.


Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang memanggil pak yadi dari arah jauh.


"Abah .... Abah ... Abah." seru laki-laki itu dengan suara kencang.



"Wah itu anakku bu." ucap yadi sambil tersenyum.


Saat laki-laki itu lebih mendekat, mumut kaget dan ia langsung pergi meninggalkan pak yadi, mumut berlari sekencang-kencangnya.


"Pak, saya duluan." ucap mumut sambil berlari kencang.



"Bu ... Mau ke mana?" tanya yadi ingin mengejar, namun laki-laki itu sudah di depannya.



"Abah .... sehat? Woto rindu abah." ucap woto sambil memeluk dan mencium tangan yadi.


"Abah sehat, kamu sehat nak?" tanya yadi sambip tersenyum.


"Bah ... Tadi siapa perempuan itu lari-lari?" tanya woto.


"Ibu itu yang punya sawah yang abah urus." ucap yadi.


"Oh ... Ko malah pergi?" tanya woto.


"Mungkin ada kepentingan lain yang haris di urus." ucap yadi.


Mumut tak mau jika woto tau kalo dirinya yang memiliki sawah-sawah yang di urus abahnya. Mangkanya ia langsung pergi. Ia tak mau rahasianya terbongkar karena woto adalah teman Dimas.


"Ya ampun ... Ternyata woto itu anaknya pak yadi, aku harus lebih hati-hati, aku ga mau rahasiaku terbongkar, kalo woto tau tentang aku pasti dia akan kasih tau Dimas." gumam mumut.


Mumut memutuskan pulang, tapi sebelum ia pulang, ia mampir dulu di suatu tempat warung mie ayam, lalu memesan untuk ia dan Dimas.


'Sepertinya enak makan mie ayam di sini, tapi .... Ah aku makan di rumah saja lah bersama suamiku.' batin mumut.


***


Usai membeli mie ayam, mumut pun pulang kini ia sudah berada di depan rumahnya. tiba-tiba hpnya berbunyi.


("Ada apa pak?") tanya mumut.



("Bu ... Ibu ko tadi langsung pulang, untuk sawah kampung sebelah kapan beli serubuknya?") tanya yadi.



("Kalo bisa secepatnya pak, karena saya ingin panen dalam 3 bulan, saya ga mau lambat hasilnya.") ucap mumut dengan suara kecil karena takut terdengar Dimas.



("Iyah bu.")



("Untuk uangnya kita kita ketemu besok pak, di jalan yang arah ke kampung bapak.")


("Baik bu.")


("Ya sudah, saya matikan hpnya ya.") ucap mumut lalu mematikan hpnya.


Mumut mengetuk pintu dan Dimas langsung membukanya.


"Sayang ... Aku bawakan mie ayam untukmu." ucap mumut.


"Wah ... Makasih mut!" ucap Dimas sambil tersenyum.


Woto kini sedang ada di rumahnta, ia ingin bertemu dengan abah dan emanya, sekalian ia juga ingin mengambil bekal untuk kebutuhannya di pesantren.


"Iyah ... Abah juga ngerti." ucap yadi sambil tersenyum.


Woto sudah tiga bulam tak pulang ke rumah, ia pulang ke rumah tiga bulan sekali.


"Tiga bulan woto ga pulang, rindu abah dan ema." ucap woto.


"Ema dan abah juga rindu kamu nak." ucap ema woto.


"Nanti mah pulangnya satu tahun sekali nak, biar Rindunya nanti tersimpan banyak." ucap yadi sambil tersenyum.


"Ha .... Ha ... Ha, abah bisa aja, woto ga bisa setahun ga pulang-pulang bah." ucap woto sambil ketawa.


"Tolong ambilkan roko abah nak di kasur abah!" titah yadi.


Woto pun segera bergegas masuk kamar abahnya, lalu ia mengambil roko yang ada di kasur, tapi ia kaget ketika ada poto pengantin Dimas dan mumut yang terletak di meja kamar yadi.


"Hah ... Ini kan ka Dimas dan istrinya! Ko abah punya poto pengantin mereka? Apa abah kenal mereka juga?" gumam woto bertanya-tanya.


Lalu woto membawa poto itu dan menanyakan pada abahnya.


"Bah ... Ini pengantin siapa?" tanya woto.



"Itu poto pengantin bosnya abah, yang tadi pagi pas ada kamu lari." ucap yadi.


Mendengar penjelasan abahnya, woto kaget dan bertanya lagi.


"Maksud abah, bosnya abah itu yang perempuan tadi?" tanya woto.


"Iyah ... Memang kenapa nak." tanya yadi.


"Namanya siapa bah?" tanya Woto penasaran.


"Namanya mumut, ia menikah dengan seorang ustad, namanya Dimas." ucap yadi.


Mendengar penjelasan abahnya woto kaget dan semakin penasaran, ia tak menyangka jika istri Dimad adalah bos abahnya.


'Tapi ka Dimas bilang padaku, jika istrinya kerja jadi pembantu, tapi ko ini .... Ah mana yang bener sih? Masa abahku boong.' batin Dimad.


Yadi memiliki poto Dimas dan mumut karena pas hari pernikahan mereka datang fan minta poto bersama.


"Kenapa kamu tanya poto ini nak? Apa kamu kenal dengan suaminya ibu mumut?" tanya yadi.



"Ga ko bah." ucap woto bohong, karena ia ingin tau dulu yang sebenarnya.


"Bah ... Woto boleh tidak pinjem hp abah?" tanya woto.


"Boleh nak, nih." ucap yadi sambil memberikan hpnya.


Woto pergi ke depan rumahnya, ia mengirim pesan pada Dimas. Woto memiliki nomer hp Dimas karena pas woto ke rumah Dimas ia meminta no hp Dimas.


"Ini dia no hp ka Dimas." gumam woto sambil membuka dompetnya, karena no hp Dimas di simpan dalam dompet.


Usai menemuka no hp Dimas, ia langsung mengirim pesan.


("Assalamualaikum ka, ini aku woto pake hp abah ku.")


Pesan yang woto kirim belum di baca, ia menunggu Dimas untuk membalasnya, tak lama kemudian Dimas membalasnya.


("Waalaikumsalam, oh ... Woto. Sehat wot?") tanya Dimas.


("Ka aku ingin ngobrol sebentar dengan kaka, boleh kah aku menghubungi kaka, tapi kaka jauh-jauh dari mba mumut.")


("memangnya ada apa wot?") tanya Dimas.



("Bentar saja, tapi harus jauh dari mba mumut jangan sampe mba mumut dengar.")



("Baik wot, aku pergi ke depan rumah dulu. Nsnti kalo aku sudah di depan rumah aku hubungi.") ucap Dimas.


Dimas dan mumut sedang asyik makan mie ayam, tiba-tiba woto menyuruh Dimas untuk jauh dari mumut saat menelponya.


"Sayang, aku ke depan dulu ya." ucap Dimas.



"Mau apa mas?" tanya mumut.



"Bentar doang mau kentut, kalo di sini nanti kamu bau." ucap Dimas bohong.



"Ya udah sana."


Dimas langsung buru-buru menghubungi woto saat sudah di depan rumah.


("Ada apa wot?") tanya Dimas penasaran.



("Ka apa benar istri kaka seorang pembantu?") tanya woto.



("Iyah wot. Memangnya kenapa?")



("Aku menemukan poto pengantin ka Dimas dan istri kaka di kamar abahku, terus aku tanya ke abahku tentang mba mumut. Lalu abah menjawab kalo mba mumut ibu bos abahku.") ucapan Woto membuat Dimas terdiam.



("Halo ka ... Halo") seru woto.



("Eh ... Kamu ga salah liat 'kan wot, kalo ga percaya nanti aku kirimin potonya ka.")


("Ya udah mana.")


Saat Dimas membuka pesan dari woto, ia kaget melihat poto yang di kirimkan woto itu memang benar poto waktu pernikahannya.


("Kamu ga salah dengar 'kan apa yang di ucapkan abahmu tentang istriku?") tanya Dimas.


("Bener ka, aku ga salah dengar") ucap woto.


("Ya udah ... Eh.") Dimas mematikan sambungan telepon, karena mumut mengahampirinya.


"Mas ih .. Ko lama banget sih, katanya mau kentut, tapi ko malah teleponan sih." ucap mumut dengan wajah cemberut.


"Maaf sayang, tadi ada temanku nelpon." ucap Dimas bohong lalu mereka kembali ke dalam rumah dan melanjutkan makan mie ayam.


Dimas mematikan hpnya, karena takut Woto nelpon balik.


'Apa benar ucapan woto? Kalo memang benar mumut bos abahnya, kenapa dia bohong padaku? Kenapa harus ngaku-ngaku jadi pembantu. Sebenarnya apa pekerjaan asli mumut." batin Dimas sambil makan mie ayam.