
Tak terasa kini mumut sudah bekerja satu minggu setelah ia sembuh kakinya. Ini hari minggu mumut ingin mengacak suaminya jalan-jalan ke tempat yang ia suka yaitu taman bunga.
"Mas, kita jalan-jalan yu, kamu mau ga?" tanya mumut yang sedang memegang erat tangan Dimas.
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Dimas.
"Kita ngopi di pinggir jalan taman bunga, kamu suka ga ke situ?" tanya mumut, ia 8ngin minum kopi bersama suaminya di pinggir jalan taman bunga.
"Iyah ... Aku mau mut, ayo kita berangkst sekarang!" Dimas bersemangat ketika mendengar kopi, karena ia sangat suka kopi.
***
Mereka berdua berangkat menggunakan motor mumut, di perjalanan 25 menit, mumut memeluk erat pinggang suaminya sampai ke tempat tujuan. Sampai di tempat, mumut langsung memesan kopi kesukaan suaminya yaitu kopi kapal api tanpa susu, sedang kan mumut memesan kopi yang ada susunya.
"Bang, pesan kopi kapal api tanpa susu satu dan kopi yang ada susunya satu." ucap mumut.
"Iyah ...neng, tunggu ya!" ucap tukang kopi.
Mumut perempuan yang sangat sederhana, ia tak malu minum kopi di pinggir jalan jajanan kaki lima, tukang kopi yang ia beli berjualan pake sepeda.
"Ini neng, mas." ucap tukang kopi menyerahkan kopi yang mumut pesan.
"Bang, sekalian gorengannya juga ya, bakwan, tahu, tempe dan cireng, beli lima belas ribu." ucap mumut sambil mengambil gorengan.
"Ya pilih aja neng." ucang tukang kopi.
"Sayang sekalian lontong juga dong." pinta Dimas sambil tersenyum.
"Eh ... Iyah mas, kamu kan suka lontong." ucap mumut sambil mengambil lontong.
Di pinggir taman bunga itu, nanyak pedagang kali lima, ada yang jualan pake motor, sepeda, mobil dan ada pulang yang menyewa tempat.
"Em ... Enak ini lontongnya gang." ucap Dimas.
"Mskasih mas!" ucap tukang kopi sambil senyum.
Di tempat itu juga banyak yang jualan kopi menggunakan sepeda tak lupa mereka juga berjualan gorengan, bahkan ada nasi remas juga.
"Bang, kan jualannya naik sepeda, itu 'kan berat, kenapa ga pake motor aja bang." ucap mumut.
"Abang belum punya motor, lagian enak pake sepeda, kalo pake sepeda banyak yang ngeberintiin, suka aja ada orang yang beli pas mau jalan ke sini." ucap Pedagang kopi.
"Oh ... Aku doakan ya abang biar cepat punya motor.amin." ucap mumut sambil tersenyum.
"Amin." ucap tukanh kopi sambil tersenyum.
"Amin ... Amin." ucap Dimas sambil tersenyum.
Dimas senang di ajak ngopi di pinggir jalan oleh mumut, karena ia juga orangnya sangat sederhana, Dimas juga suka jahan di pinghir jalan. Dulu ketika ia ngajak jalan fatimah, fatimah tak mau di ajak jajan di pinggir jalan, fatimah ingin makan di tempat yang mahal aja seperti restoran.
'Mumut beda banget dengan fatimah, mumut sangat sederhana, bahkan ia juga ramah sama pedagang.' batin Dimas.
Dimas tak henti-hentinya memandang istrinya yang sangat cantik, padahal mumut hanya memakai lipstik.
"Mas, kamu ko ngeliatin aku aja sih." ucap mumut sambil tersenyum.
"Kamu cantik mut, meski hanya memaksi lipstik." ucap Dimas memuji.
"Makasih!" ucap mumut sambil tersenyum.
Mumut menikmati kopi di pinggir jalan bersama suaminya, ia sedang meski hanya seperti itu.
"Mas, aku senang, walaupun hanya ngopi di tempat seperti ini! Apa lagi berdua bersamamu, aku sangat bahagia mas!" senyum mumut terpancar lebar, karena ia merasa sangat senang. dan kini Dimas juga sudah mencintai mumut.
"Aku juga senang mut, berdua di tempat ini denganmu." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Benar mas?" tanya mumut sejangat.
"Iyah ... bener mut." ucap Dimas sambil memegang tangan mumut dan tersenyum.
Dimas dan mumut kini saling menatap, tatapan mereka berdua lama, tak terasa kalo mereka sedang di tempat umum. Dimas memegang erat tangan mumut begitupun mumut memegang kembali tangan Dimas.
"Hem ... Hem .... Ehemm .... Cie .... Cie." ucap pedagang kopi merayu dan ketawa.
"Eh ... Abang." ucap mumut sambil senyum malu.
"Ga apa-apa neng kalo mau bermesraan mah lanjut." ucap tukang kopi sambil tersenyum.
"Ga bang, ini kan tempat umum. Ucap mumut sambil tersenyum.
"Maklum bang kita pengantin baru." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Oh .... Pengantin baru, pantesan." ucap tukang kopi sambil ketawa.
Tak terasa mereka di tempat itu sudah dua jam, menikmati kebersamaan yang membuat mereka bahagia. Tapi tiba-tiba mumut kaget saat ada orang yang melempar air.
"Astagfirullah! Yah basah, siapa sih tuh orang?" ucap mumut marah sambil melihat orang yang melempar air padanya hingga baju dan kerudungnya basah.
"Hey tunggu kamu! kurang ngajar!" ucap Dimas marah lalu mengejar orang yang melempar air pada mumut.
"Mas, ga usah di kejar!" ucap mumut.
Dimas mengejar orang yang melempar air pada istrinya, orang yang melempar air itu mengendarai motor. Dimas mengejaf sekencang-kencangnya sampe jauh namun orang itu berhasil lolos.
"Gagal ini. Siapa sih orang yang sengaja melempar air pada istriku?"gumam Dimas.
Dimas pun kembali ke taman bunga, ia merasa kesal karena tak berhasil menangkap pelaku yang melempar air pada mumut.
"Aku 'kan abis kejar orang yang melempar air ke kamu, tapi maaf aku ga berhasil menangkapnya." ucap Dimas sedikit kecewa.
"Ya udah mas, ga usah di kejar lagi, aku ga apa-apa ko mas." ucap mumut.
"Tapi bajumu basah gara-gara orang itu, aku takut orang itu sama dengan orang yang menabrak mu waktu itu." ucap Dimas.
"Jangan berburuk sangka mas!" ucap mumut.
"Takutnya, aku 'kan takut kamu kenapa-kenapa nanti." ucap Dimas.
"Udah kita berdoa aja sama allah mohon perlindungan." ucap mumut.
"Kamu dingin ya sayang?" tanya Dimas.
"Iyah sayang ... Aku dingin."
"Ya udah kita pulang aja yu!" titah Dimas.
"Ga mas, aku masih pengen di sini." tolak mumut.
"Tapi bajumu basah, nanti kamu masuk angin mut." ucap Dimas.
"Ya udah kita masuk aja yu ke dalam taman bunga di sana 'kan ada yang jualan baju." ucap Mumut mengajak beli baju.
"Hem .... Ga mau pulang." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Ga mas, aku masih pengen di sini." ucap mumut sambil menggelengkan kepalanya.
"Iyah ... Iyah .... Ya udah kita masuk!" ucap Dimas.
"Pak semuanya berapa?" tanya mumut ingin bayar.
"Kopi dua 8 ribu, gorengan 15 ribu dan lontong 6 ribu jadi semua 29 ribu." ucap Pedagang kopi.
"Nih bang, makasih bang." ucap mumut sambil memberikan uang.
"uangnya 30 ribu kembali seribu neng." ucap pedagang kopi sambil memberikan kembali seribu.
"Ga usah buay abang aja." ucap mumut.
"Makasih neng!" ucap pedagang kopi.
"Sama-sama bang."
Mumut dan Dimas masuk ke dalam taman bunga, mumut membeli baju dan kerudung, dan langsung di pakai.
"Mas, bagus 'kan?" tanya mumut sambil tersenyum.
"Bagus, kamu cantik sayang." ucap Dimas.
Usai membeli baju dan menggantinya, mumut berlari-lari ke dekat bunga-bunga. Dimas memperhatikannya dan mengikutinya.
"Kamu senang banget sih mut." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Iyah .... lah, aku senang mas, apa lagi bersamamu." ucap mumut tersenyum sambil memetik bunga, lalu bunga itu di pasangkan ke kuping Dimas.
"Ha .... Ha ... Ha, mas, kamu lucu." ucap mumut sambil ketawa.
"Kamu ada-ada aja sayang." ucap Dimas sambil tersenyum dan mencopot bunga di telinganya.
"Ih ... Jangan di copot sayang!" titah Dimas.
"Aku malu sayang sana orang." ucap Dimas.
"Ih .... Ga apa-apa jangan di copot demi aku." ucap mumut sambil ketawa dan Dimas menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, demi kamu, akan ga akan copot bunga ini." ucap Dimas sambil senyum.
Dimas memang laki-laki yang bisa membahagiakan istrinya, meski ia harus malu tapi ia lalukan demi kebahagiaan mumut.
'Ga apa-apa lah aku pakai bunga di telingaku yang penting mumut senang, ada-ada aja mumut mah.' batin Dimas.