
Dimas ingin membuka tas besar dan koper besar milik mumut, tapi tas itu gembok kecil. Dimas harus mencari kunci gembok tas dan koper tersebut.
"Di mana kunci gembok tas dan koper ini, mungkin di sini." gumam Dimas dalam hati sambil mencari kunci membuka baju-baju mumut yang tersusun rapih.
"Sebenarnya tas dan koper ini isinya apa sih sampai di gembok segala? tas dan koper ini berat banget. Aku semakin penasaran dengan tas dan koper ini." gumam Dimas dalam hati.
Dimas membuka laci lemari mumut dan membuka dompet kecil mumut, tapi tidak ada kunci gembok itu. Lalu Dimas membuka dompet yang ukuran lumayan besar dan isinya emas semua.
"Ya allah banyak banget! Dari mana mumut punya emas sebanyak ini? Uang yang setiap aku kasih kan di taro nya di lemariku dan aku tau jumlahnya berapa. Ya allah ini mumut dapet uang dari mana bisa beli emas sebanyak ini!" gumam Dimas kaget melihat emas banyak dalam dompet mumut.
Dimas membuka emas tersebut yang di masukan plastik berisi suratnya. emas itu kalung semua setiap satu plastik ada kalung ukuran 20 gr. Semua ada 20 plastik dan kalung ukuran 20 gr itu ada dua puluh plastik.
"Ya allah berarti mumut punya emas 20 kalung yang berukuran 20 gr. 20×20\=400 gr.
Dari mana mumut punya emas sebanyak ini sedangkan dia dulu bekerja hanya jadi pembantu." gumam Dimas yang semakin penasaran.
Dimas membereskan dompet mumut lagi dan di taro ke laci lemari mumut lagi. Dimas melanjutkan mencari kunci gembok. Dimas sudah mencari kunci tersebut di dalam kemari mumut dan lemarinya, kasur juga di obrak abrik, tapi tetap kunci itu tidak ketemu.
"Huh ... Cape aku, ke buru mumut masuk kamar. Aku bisa ketahuan nanti." gumam Dimas.
Tak lama kemudian Dimas mendengan mumut memanggilnya dan mendengar syara langkah kakinya yang menggunakan sendal cucuk terdengar semakin mendekat. Dimas langsung buru-buru memasukan koper dan tas tersebut ke dalam lemari mumut lalu mengunci lemarinya lagi dan menaruhnya di tempat semula.
"Hai sayang kamu tidur?" tanya mumut melihat Dimas sedang tidur, padahal suaminya hanya pura-pura tidur.
Mumut mengambil kunci lemarinya. Ia merasa kaget kalo kuncinya ada di dekat tasnya. Mumut lupa menyembunyikan kunci lemarinya.
"Ya ampun, kunci lemariku malah aku taro di sini! Apa Dimas tau ini kunci lemariku? Apa dia membuka lemariku? Kalo sampe dia tau rahasiaku bisa gawat?" gumam mumut dalam hati bertanya bertubi-tubi.
mumut menaruh kunci lemarinya ke tempat rahasianya. Saat dia menaruh kunci tersebut mumut melihat ke belakang terus karena takut suaminya melihat.
"Udah aman, aku ceroboh banget sih bisa naro kunci lemariku di situ." gumam mumut.
Dimas masih pura-pura tidur, dia harus berpura-pura dulu, dia tidak mau jujur dulu sama mumut tentang emas yang di dompet itu. Mumut mendekati Dimas, ia membangunkannya.
"Sayang bangun! Ko malah tidur. Kita jalan yu!" ucap mumut sambil mengusap kening Dimas.
"Sayang bangun!"
"Iyah, apa sayang?" tanya Dimas yang masih pura-pura tidur matanya tidak di buka.
"Sayang bangun! kita jalan yu!"
"Hum. Ke mana sih, aku lagi males sayang."
"Ayu ih, aku pengen makan es kelapa muda, tapi makannya di tempatnya gak mau di bungkus."
"Jangan makan es sayang! Nanti dede nya gede di dalam perut." ucap Dimas yang sudah bangun dan duduk di samping mumut.
"Kan gak tiap hari, kalo tiap hari baru gede dede nya."
"Jangan sayang!"
"Ayo ih, aku pengen. Pokoknya harus." mumut kebiasaan jika ingin sesuatu harus dituruti.
Dimas hanya tersenyum dan dalam hati berkata "istriku susah di atur. Ya allah apa sebenarnya rahasia istriku? Apa isi tas dan koper itu?"
"Hai mas, ko malah diem? Ayo sayang ganti baju kita jalan beli es kelapa muda!"
"Iyah ... Iyah." ucap Dimas dan segera mengganti baju.
"Kalo gak di turutin gak bakal diem mulutnya." gumam Dimas dalam hati.
***
Mereka berangkat menuju tempat es kelapa. Sampai di sana mumut langsung memesan es kelapa.
"Iyah." ucap tukang es.
"jangan banyak-banyak esnya sayang!"
"Udah ih diem gimana aku aja mas. Hari Ini kan panas banget."
Mendengar ucapan istrinya Dimas hanya menggelengkan kepalanya. Dia sudah tau sifat istrinya yang tidak bisa di atur. Meski sedang hamil tetep susah di atur.
"Em ... Seger banget, mantep. Mas satu lagi esnya banyakin sama susunya banyakin nanti aku bayar lebih!" ucap mumut ingin nambah es kelapanya.
"Sayang jangan banyak-banyak cukup satu aja!"
"Gak aku mau dua mas, satu gak cukup." ucap Mumut dan Dimas hanya menggelengkan kepalanya.
"Susah banget sih di aturnya." gumam Dimas dalam hati.
***
"Ayo kita makan! Ibu sudah masak sayur sop dan ayam goreng." ucap mimi pada anak-anaknya dan suaminya.
"Wah ... Enak ini bu." ucap iman.
"Fatimah ayo makan nak! Ini ayam goreng kesukaan kamu."
"Iyah bu." fatimah pun segera mulai makan.
"Bu kalo seandainya putri ibu dan ayah ada yang mengotori bagaimana?" tanya Ridwan dan fatimah terlihat sangat takut.
"Maksud kamu?" tanya Iman.
"Kalo seandainya fatimah ada yang merenggut kesuciannya, apa yang akan ayah lakukan?"
"Kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya iman dengan tatapan mencurigakan.
"Enggak ayah. Ini 'kan cuma seandainya." ucap Ridwan sambil tersenyum.
"Gak mungkin putri ayah memberikan kesuciannya pada lelaki yang bukan muhrimnya. Ayah percaya fatimah."
"Iyah ayah." ucap Ridwan sambil menatap fatimah.
Fatimah menjadi semakin takut. Ia takut kakaknya melaporkan hal itu pada sang ayah. Fatimah makan biasa lahat jika dengan goreng ayam, tapi ini tidak lahap.
"Gak sanggup makan aku, kenapa kakak bicara seperti itu pada ayah. Aku semakin takut." gumam fatimah dalam hati.
"Sayang, ayo makan! Ko makannya kayak gak napsu? Kamu sakit sayang?" tanya mimi.
"Iyah bu, aku kurang enak badan. Aku masuk kamar dulu ya bu."
"Nanti kamu berobat sayang! Ridwan enter adikmu berobat ke dokter!"
"Baik bu." ucap Ridwan.
Fatimah masuk kamar, ia berbaring di kasur dan menangis. Ia teringat pada ayahnya yang selalu menjaganya dan mengajarinya. Tapi kesuciannya kini sudah tidak ada.
"Ayah maaf 'kan aku. Aku tidak bisa menjaga kesucianku. Aku tidak suci lagi yah. Andai ayah tau pasti ayah sangat kecewa. Laki-laki itu jahat yah, dia telah mengkhianati aku. Aku ingin cerita pada ayah, tapi aku takut." gumam fatimah sambil menangis.
Ridwan memasuki kamar adiknya, ridwan merasa bersalah pada fatimah, karena telah berbicara hal yang menyangkut pada masalah fatimah. Ridwan mendekati adiknya yang sedang menangis.
"Dek, kakak minta maaf ya!" kakak tadi keceplosan."
"Kakak tega. Aku takut kak." ucap fatimah sambil menangis.
"Sudah jangan menangis takut ibu ke sini!" ucap Ridwan sambil memeluk adiknya.