
Dimas sudah percaya mumut, kini ia tak curiga lagi. Dimas kembali menjadi suami yang sangat perhatian.
"Sayang, kamu sudah makan belum?" tanya Dimas mendekati mumut.
"Belum mas, mas tolong ambilkan aku minum!" titah mumut.
"ini sayang." ucap Dimas.
Mumut tiba-tiba muntah, air yang ia minum keluar lagi. kepalanya pusing dan mual.
"Ya allah, kenapa kamu mut?" tanya Dimas kaget saat melihat mumut muntah.
"Kepalaku pusing mas, aku ga kuat." ucap mumut.
"Ya udah, ayo kita ke dokter sekarang!" titah Dimas dengan wajah panik.
***
Dimas membawa mumut ke rumah sakit, ia sangat khawatir pada mumut. Perjalanan menuju rumah sakit cukup lama 25 menit. Mumut tidak kuat dan minta berhenti di jalan.
"Berhenti mas! aku ga kuat." pinta mumut.
"kenapa sayang?" tanya Dimas dan memberhentikan motornya.
"Aku ga kuat ke rumah sakit, aku pengrn duduk dulu di sini." ucap mumut dengan suara lemas. Mumut duduk di sebuah warung yang di pinggir jalan.
"Numpang duduk bu." ucap mumut memberi hormat pada tukang warung.
"Iyah ... Neng, silahkan." ucap tukang warung.
Mumut menyadarkan badannya ke tembok warung itu. ia mual-mual dan minta sesuatu pada Dimas.
"Mas, aku pengen rujak." ucap mumut.
"Rujak? Sayang mending kamu di rumah aja, nanti dokternya aku suruh ke rumah." ucap Dimas malah di bentak mumut.
"Aku pengen rujak ih ... kamu carikan rujak sekarang!" titah mumut sambil membentak.
"Rujak di mana sayang?" tanya Dimas.
"Ya kamu cari kemana ke, pokoknya aku mau rujak sekarang, rujaknya harus pedas dan banyak mangganya!" ucap mumut dengan keras.
"Suts ... suaranya jangan keras-keras ini tempat umum!" ucap Dimas sambil tersenyum.
"Aku ga mau ke rumah sakit sebelum makan rujak yang pedas dan banyak mangganya." ucap mumut.
"Ya udah cari, kamu mau ikut dpa di sini aja?" tanya Dimas.
"Kamu cari sendiri aja ih .... Aku ga kuat, buruan sekarang cari!" titah mumut marah.
"Iyah ... Iyah, tunggu di sini, aku akan cari rujaknya." ucap Dimas.
Dimas pun mencar rujak di sekitar tempat mereka berhenti. Namun tak menemukan pedagang rujak.
"Di mana ya, ada tukang rujak, ko susah amat di carinya dari tadi kebanyakan tukang baso doang." gumam Dimas.
Dimas berhenti sejenak, ia bertanya ke pedagang di mana ada tukang rujak. namun pedagang yang Dimas taya tidak tau.
"Yah ga tau pedagang itu, lagian ko mumut aneh tiba-tiba pengen rujak, apa mumut hamil ya." gumam Dimas.
Dimas terus menyusuri jalanan, ia mecari tukang rujak, tapi belum ketemu. Sehingga ia memutuskan ke taman bunga, karena di taman bunga banyak yang jualan rujak.
"Ya udah lah, aku ke taman bunga aja, jauh juga ga apa-apa demi mumut." gumam Dimas.
Rujak sudah di dapat sesuai pesanan mumut, pedas dan banyak mangganya.Dimas kembali ke tempat tadi dengan buru-buru, karena takut mumut nunggu lama.
"Ini sayang ... Maaf ya lama." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Lama amat sih, kalo tau gini mah mending ga usah beli!" ucap mumut marah.
"Sayang aku dapet rujak itu jauh-jauh dari taman bunga, ko kamu malah marah." ucap Dimas.
"Masa nyari rujak doang sampe jauh ke sana." ucap mumut cuek.
"Ya udah kalo kamu ga percaya, ini rujaknya." ucap Dimas sambil memberikan rujak.
Dimas sedikit kecewa pada istrinya. jauh-jauh ia nyari ke taman bunga, setelah dapet malah di marahi mumut.
Mumut kini sekarang sedang menikmati rujak itu, setelah ia marah, tanpa rasa malu langsung menyantap rujak itu. Dimas memperhatikannya, tapi mumut ga nawarin suaminya.
'Ko mumut ga nawarin sih.' batin Dimas.
mumut kepedesan, ia ingin minum, tapi ga mau air putih. Mumut ingin makan em krim.
"Huh ... Hah ... Hah, pedas mas, tolong belikan aku es krim sekarang!" titah mumut yang sedang kepedesan makan rujak.
"Ha ... Ha, pedes sayang?" ucap Dimsa sambil ketawa.
"kamu ya, istri kepedesan malah di ketawain. ih ... Pedes, beliin aku es krim sekarang juga!" titah mumut.
"Jangan makan es krim kamu 'kan lagi sakit!" ucap Dimas.
"Aku pengen es krim sekarang, buruan cari!" tatah mumut sambil memukul tangan Dimas.
"Ko aku di pukul sih? Iyah ... Aku cari. Tunggu ya!" ucap Dimas dan pergi mencari es krim.
Dimas membeli es krim di Indomaret. Ia membeli dua es krim dan dua roti. Sampe di tempat tadi ia di marahi mumut lagi karena es krim yang mumut ingin bukan itu.
"Es krim apa itu. ih ... Aku ga suka, aku pengennya es krim magnum rasa coklat. Ngapain lagi beli roti." protes mumut.
"Ini roti untuk aku kalo kamu ga mau mah, es krim magnum kayak gimana sih mut?" tanya Dimas yang tidak tau es krim magnum.
"Ih ... Es krim magnum aja kamu ga tau. Kamu tanya aja sama petugas Indomaretnya." ucap mumut malas.
"Iyah ... Iyah." ucap Dimas.
"Buruan, jangan lama-lama! aku ga kuat pengen gigit es itu." ucap mumut.
"Iyah ... iyah ... Iyah sayangku." ucap Dimas sambil menggelengkan kepalanya.
Dimas kembali ke Indomaret untuk menukar es krim itu. Di perjalanan saat menuju Indomaret Dimas kesal pada mumut yang marah-marah terus.
'Ko mumut jadi gitu sih, ga biasanya dia marah-marah, padahal cuma masalah sepele.' bstin Dimas.
Dimas sudah membawa es kirim yang mumut inginkan. Dia berusaha sabar menghadapi mumut yang dari tadi cemberut dan marah-marah.
"Nih ... Esnya, ini 'kan?" tanya Dimas sambil memberikan esnya.
"Lama .... Em mantep." ucap Mumut lalu makan es krim.
'Masih protes aja, lama dari mana orang cuma bentar.' batin Dimas sambil menggelengkan kepalanya.
Dimas hanya terdiam melihat mumut yang sangat lahap menyantap es krim itu. Mumut tak menawari Dimas.
'Lahap amat makan esnya, ga nawarin lagi.' batin Dimas sambil tersenyum.
"kenapa senyum?" tanya mumut sambil makan es krim.
"Ga." ucap Dimas.
"Sini rotinya buat aku aja." ucap mumut sambil mengambil roti dari tangan Dimas.
Dimas pun hanya pasrah rotinya di ambil. Dia memperhatikan istrinya yang sikapnya menjadi aneh, tak seperti biasanya mumut makan serakus itu, rujak habis, es krim dua abis, dan dua roti milik Dimas pun habis di lahap juga.
"Nambah lagi rotinya?" tanya Dimas sambil tersenyum.
"Ga ah." ucap mumut.
"Ayo ke rumah sakit!" titah Dimas.
"Sabar ih .... Mas, aku istirahat dulu, perutku kekenyangan ini." ucap mumut sambil memegang perutnya.
"Iyah ... Istirahat dulu, mau nambah lagi ga es krimnya?" tanya Dimas sambil mengajak bercanda.
"Ga ih ... Aku ga mau." ucap mumut dengan suara ngegas dan wajahnya cemberut.
"Mana senyumnya? Gitu aja marah." ucap Dimas merayu sambil mencolek pipi istrinya.