
"Beneran ini buat bibi?" tanya bibi siti.
"Iyah, bi, ini buat bibi semua."
Bi siti memandangi wajah Dimas, lalu menangis. Bi siti tidak menyangka jika keponakannya akan kembali padanya. Bi siti juga sedih tapi senang, apa lagi Dimas sampe membawakan banyak makanan.
"Dimas sekarang udah jadi apa? Ko bisa beliin bibi makanan sebanyak ini?" tanya bi siti.
"Alhamdulilah Dimas sekarang udah jadi ustad bi." ucap Dimas sambil tersenyum. mendengar keponakannya udah jadi ustad bi siti sangat bahagia.
"Ya allah, alhamdulilah, bibi senang dengarnya. Maaf 'kan bibi ya Dim, bibi tidak bisa bantu Dimas." ucap bi situ dengan wajah sedih.
"Justru Dimas yang harus berterima kasih pada bibi, dulu bibi suka bantu Dimas meskipun bibi hidupnya susah, tapi bibi selalu bantu Dimas."
"Bagaimana ceritamu Dim, sampe kamu jadi ustad? Apa kamu kerja dulu terus pesantren?" tanya bi siti lagi.
"Aku di pungut guruku bi, pada saat aku lagi cari barang rongsokan atau botol plastik, pak kiai menghampiriku dan mengajakku ke pesantren. Aku di bawa ke pesantrennya dan aku juga di beri nafkah bi. Aku juga gratis tinggal di pesantren tanpa bayar sedikitpun." ucap Dimas menjelaskan.
"Masya allah. Baik banget guru Dimas. Bibi jadi pengen ketemu."
"Iyah, nanti insya allah Dimas ajak bibi ke pesantren dan ke rumah istri Dimas."
Bibi siti terharu mendengar cerita Dimas. Ia ingin sekali bertemu dengan kiai ahmad yang sudah menolong Dimas. Dimas jadi ustad karena pak kiai ahmad. Mungkin jika tuhan tidak mempertemukan mereka, mungkin saja Dimas tidak jadi apa-apa atau mungkin jadi gelandangan, karena Dimas di jakarta tidak punya saudara, dan uang pun tidak punya. Saat ke kota Dimas hanya membawa uang sedikit itu pun hasil ngejual lemari milik ibu kandungnya. Sehingga Dimas kehabisan uang di jakarta dan harus mencari botol bekas.
"Sudah bi, jangan sedih! Ini Dimas keponakan bibi sudah sukses." ucap Dimas melihat bibinya yang masih sedih.
"Bibi sedih, tapi bahagia Dim." ucap bibi siti sambil tersenyum.
Bibi siti pun masak makanan yang di di bawa Dimas, karena di rumah bi siti tidak ada ikan atau sayur. Bi siti masak sarden, mie goreng fan telor.
"Bibi masak dulu ya, ini bibi masak ya, soalnya bibi tidak punya beras, ikan dan sayur." ucap bi siti sambil meminta izin ambil makanan oleh-oleh Dimas.
"Iyah, bi, atau Dimas aja dan teman Dimas tang masak. Bibi diem aja sama istri Dimas."
"Eh, ga usah biar bibi aja. Kalian di sini aja!"
"Aku ikut masak ya bi! Bantu bibi." sahut mumut.
"Ga usah neng, nanti neng cape, neng 'kan lagi hamil ga boleh cape." ucap bi siti sambil tersenyum.
"Aku ga cape ko bi, aku bantu-bantu doang ko." ucap mumut merayu.
Mumut memaksa dirinya untuk ikut masak, ketika mumut masuk ke dapur bi siti, mumut kaget melihat dapurnya yang kumuh, jelek dan tembok yg beralas bambu sudah banyak yang bolong. dan di dapurnya pun tidak ada kompor hanya ada dua tunggu yaitu hau kalo bahasa sunda.
"Neng, begini keadaan dapur bibi, jelek dan kumuh."
"Iyah, ga apa-apa bi."
"Bi, saya ingin ke kamar mandi dulu ya."
Mumut masuk ke kamar mandi, ia ingin buang air besar, tapi mumut bingung melihat kamar mandinya yang tidak ada kloset. lalu ia ke luar lagi dari kamar mandi.
"Bibi ga punya kloset neng, bibi kalo buang air besar di kebun."
"Kebun?" tanya mumut sempat kaget, karena ia belum pernah buang air besar di kebun.
"Iyah neng, ayu bibi antar kalo pengen buang air besar mah." mendengar ucapan bi siti mumut tidak jadi ingin buang air besar, ia tahan padahal sebenarnya ia sudah tidak kuat.
"Ga jadi bi, ko mumut jadi ga pengen buang air besar." ucap mumut sambil tersenyum sambil menahan ingin buang air besar.
Mumut bantu bi siti masak, bi siti masak nasi liwet kesukaan Dimas. Dimas suka nasi liwet pake daun salam dan sereh di tambah garam dikit.
"Dimas suka nasi liwet neng."
"Iyah bu, saya sudah tau, Dimas sering masakin saya nasi liwet seperti ini, rasanya enak banget bu." ucap mumut sambil menahan rasa ingin buang air besar, ia sudah tidak kuat menahannya.
"Duh ... duh ... Bi, ayo antar saya ke kebun bu, saya udah ga kuat."
"Tadi juga mau bibi enter. Ya udah tahan ya, ayo ikut bibi!" titah bi siti dan mumut pun mengikutinya.
Jarak ke kebun nya sekitar satu menit, mumut untung kuat menahan rasa ingin buang air besarnya. Sampai di kebun ia langsung mengeluarkan kotorannya yang dari tadi ia tahan. Bi siti menunggunya di jarak yang tidak dekat, karena mumut malu jika bi siti menunggunya kalo dekat.
"Gimana aku ceboknya ini? ga ada air, masa aku langsung pake celana?" gumam mumut dalam hati.
"Neng, udah belum?" tanya bi siti.
"Udah bi, tapi aku ceboknya gi mna ga ada air."
"Nanti bibi ambil air dulu ke sumur."
"Bi, jangan tinggalin aku!"
"Sumurnya deket ko."
Bi siti mengambil air di sumur para warga yang sangat dekat dengan tempat mumut buang air besar. Bi siti memberikan airnya satu ember.
"Neng, segini cukup 'kan?" tanya bi siti tanpa melihat ke arah mumut, karena mumut malu jika anunya terlihat.
"Cukup bi." ucap mumut.
"Sebenarnya air satu ember kecil ini kurang cukup, tapi aku cukup-cukupi aja lah, nanti di rumah lanjut cebok lagi." gumam mumut dalam hati.
***
Bi siti dan mumut kembali masak, sedangkan Rian sedang tidur. Dimas sedang ada di tempat kebun pisang. Kebun itu dulunya rumah nenek dan kakeknya, kini sudah jadi kebun pisang di tanam oleh suami bi siti, hasilnya pisang tersebut untuk di jual. Dimas menangis di kebun pisang itu, semua kenangan bersama ibu, nenek dan kakeknya terbayang olehnya. saat ibunya sakit terus meninggal ia mengingatnya, saat kelaparan Dimas juga mengingatnya, dan saat nenek dan kakeknya meninggal Dimas mengingatnya.
"Ibu, nenek, kakek, Dimas rindu kalian, di tempat ini banyak kenangan kita. Dimas tidak mungkin bisa lupa. Kenangan sedih yang banyak, tapi Dimas tetap bersyukur, karena tanpa ibu, nenek dan kakek tidak mungkin Dimas bisa di sini lagi. Dimas ingat pesan ibu, agar Dimas mencari ayah, tapi Dimas tidak mau mencarinya. Ayah jahat, ayah tega meninggalkan kita semua. Dimas tidak akan mencarinya bu. Pada saat ibu di pukul ayah Dimas selalu ingat, jadi Dimas malas untuk mencarinya. Biarlah Dimas hidup tanpa ayah kandung, tapi Dimas punya ayah yang sangst baik yaitu pak kiai ahmad." gumam Dimas.
Baginya pak kiai ahmad sudah menjadi ayahnya, karena pak kiai lah yang merawat Dimas dari kecil sampe besar, sampe Dimas jadi ustad. Sejak kecil Dimas memang tidak suka dengan ayahnya, ayahnya kasar, tidak mau bekerja, dan meninggalkannya. Menengok pun belum pernah, apa lagi memberi nafkah.