
Fatimah pulang ke rumah jam 10 malam. Iman sudah menunggunya di ruang tamu. Saat Fatimah masuk, mata iman melototi fatimah sambil marah.
"Dari mana kamu, jam segini baru pulang? Orang tua nelpon ga di angkat, malah kamu matikan hpnya!" ucap iman marah, suaranya sampe terdengar ke kamar mandi.
"Aku ga matiin hp yah, hp aku lowbat, jadi mati sendiri." ucap fatimah sedikit menundukkan kepalanya.
"Kamu dari mana jam segini baru pulang?" tanya iman marah.
"Abis main." ucap fatimah lalu pergi menuju kamar, namun iman menahannya dengan memegang tangannya.
"Aku belum selesai ngomong, kamu langsung pergi aja, dasar anak ga tau diri!" ucap iman sambil bentak dan menahan tangan fatimah.
"Main ke rumah siapa kamu hah?" tanya iman dengan suara keras.
"Jawab .... Jawab, fatimah jangan diam saja!" bentak iman semakin marah, karena fatimah tidak menjawab.
"Sudah ... Sudah! Lepaskan fatimah ayah, jangan terlalu keras sama anak! Nanti kita bicarakan baik-baik." ucap mimi, dari kamar mandi yang buru-buru menghampiri, karena mendengar suara iman yang keras memarahi fatimah.
"Nak ... Kamu ke kamar sekarang! Ayah lepaskan fatimah! nanti kita bicarakan baik-baik." titah mimi.
Fatimah di lepaskan iman dan ia pergi menuju kamarnya dengan wajah cemberut.
"Bu, kenapa ibu bela fatimah aja sih, aku itu mau tau dia dari mana? Fatimah kayak gitu gara-gara kamu." ucap iman menyalahkan mimi.
"Sudahlah! Ini sudah malam mending kita tidur yah, nanti besok pagi kita tanya fatimah baik-baik! Mungkin fatimah cape, jadi dia ga mau jawab." ucap mimi membela putrinya.
"Tuh 'kan, ibu bela dia terus, dia kata gitu gara-gara kamu. Kamu gagal didik dia." ucap iman menyalahkan mimi.
"Ayah jangan salahkan ibu aja! Ibu sudah didik fatimah dengan baik, lagian fatimah baru kali ini kan seperti itu, jadi jangan terlalu khawatir! Ya sudah kita tidur ini sudah malam! Besok 'kan ayah kerja." titah mimi.
****
Mumut tidak bekerja lagi, ia susah untuk jalan, kakinya belum sembuh. Setiap hari yang melakukan pekerjaan rumah Dimas. Tapi Dimas tak pernah ngeluh, ia tetap semangat menjalankan tugasnya.
"Mas, maaf 'kan aku ya! Sudah satu minggu kamu mengerjakan rumah tanpa bantuanku." ucap mumut.
"Sayang ... Tiap hari 'kan aku suka mengerjakan pekerjaan rumah, jadi aku udah biasa." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Tapi kamu cape tiap hari angkat aku ke kamar mandi, aku kasian liat kamu mas." ucap mumut sedih.
"Hai ... Sayang, kenapa nangis? Aku ga apa-apa ko seperti ini, aku ga cape sayang, kamu 'kan ini lagi di coba allah." ucap Dimas sambil tersenyum lalu menghapus air mata mumut.
"Aku cuma lagi sedih aja mas, terus kalo aku ga kerja, aku takut uang tabungan kita habis." ucap mumut.
"Sayang ... Jangan banyak pikiran! insya allah aku bisa menafkahi kamu. Jangan mikir ke mana-mana! yang penting kaki kamu harus sembuh dulu sayang." ucap Dimas menasehati mumut.
"Ya sudah, kamu sendiri dulu ya di rumah, karena aku sekarang mau ke kantor polisi, aku mau menanyakan orang yang menabrak kamu, sudah di temukan atau belum." ucap Dimas.
"Mudah-mudahan polisi menemukan orangnya. amin." ucap mumut.
"Aku berangkat ya sayang, assalamualaikum." Dimas pamit sambil mencium kening mumut.
"Waalaikumsalam." jawab salam mumut dan mencium tangan Dimas.
****
Dimas sudah melaporkan ke kantor polisi, kecelakaan yang di sengaja pada istrinya. Namun polisi belum menemukan pelakunya.
Saksi juga sudah di bawa ke kantor polisi, dan cctv juga sudah di perliatkan.
Cctv memperlihatkan seorang laki-laki yang menabrak mumut, memang sengaja, dari arah jauh laki-laki itu sudah kencang mengendarai motornya dan menabrak mumut, mumut sudah ke pinggir, tapi laki-laki itu terus menabrak mumut denan kenceng, setelah mumut terjatuh ke jalan, laki-laki langsung pergi dengan mengendarai motor sekencang-kencangnya. di cctv itu laki-laki memaksi masker dan helm jadi wajahnya sudah di lihat.
"Saya harap, bapak bisa menemukan orang yang menabrak istri saya." ucap Dimas berharap.
"Iyah, pak, kami akan berusaha, ini sedang, dalam pencarian, bapak sabar ya!" ucap polisi menenangkan.
"Saya takut orang itu mencelakai istri saya lagi pak. Saya ga tega liat istri saya tidak bisa berjalan saat ini, orang itu harus di beri hukuman pak!" ucap Dimas.
"Baik pak. Kami usahakan orang itu tertangkap." ucap polisi.
"Terima kasih pak!" ucap Dimas.
"Sama-sama pak." ucap polisi sambil tersenyum.
***
Dimas pun pulang dari kantor polisi, ia tak mau berlama-lama, karena mumut sendiri di rumah.
"Aku sedih mas, kapan kakiku sembuh, aku ga mau begini mas." ucap mumut sedih.
"Nanti juga sembuh sayang .... pas kontrol kemarin kata dokter 'kan keadaan kamu makin baik, jadi harus semangat dong sayang." ucap Dimas menyemangati mumut.
Tiba-tiba suara hp Dimas berbunyi, dan Rian yang menelpon.
(" Dim, kamu lagi di mana?") tanya Rian.
(" Aku lagi di rumah, kenapa yan?") tanya Dimas.
("kamu kenapa ga bilang aku, kalo mumut kecelakaan?") tanya Rian lagi.
(" kamu tau dari mana yan?")
("Dari pak kiai, kenapa ga ngasih tau aku? Aku kan jadi khawatir juga Dim. Mau mau ke rumahmu, aku mau liat keadaan mumut.")
("Iyah .... Di tunggu.")
("Ada pesan dari pak kiai, kata pak kiai maaf belum bisa ke sana pak kiai. Cuma bisa mendoakan doang.") ucap Dimas.
("Iyah ga apa-apa yan, aku udah di doain aja udah alhamdulilah. Mungkin pak kiai lagi sibuk.") ucap Dimas.
Mendengar kabar kurang baik, Rian datang ke rumah, untuk melihat keadaan mumut.
"Assalamualaikum." ucap salam Rian sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam." jawab salam Dimas sambil membuka pintu.
"Dim ... Sehat?" tanya Rian sambil memeluk Dimas.
"Alhamdulilah aku sehat, ayo duduk sini!" titah Dimas.
"Kamu sehat yan." tanya Dimas.
"Alhamdulilah aku sehat. Mana mumut Dim? Bagaimana keadaannya?" tanya Rian sambil melihat kanan kiri.
"Mumut di kamar, sebentar ya!" ucap Dimas lalu pergi ke dalam kamar untuk mengajak mumut ke ruang tamu menemui Ruan.
"Mut, ada Rian. Rian ingin melihat keadaan kamu, kamu mau ga ketemu Rian?" tanya Dimas.
"Iyah ... Mau mas." ucap mumut.
Dimas mendorong kursi roda mumut, kini mumut sudah berada di ruang tamu.
"Ya allah, mba mumut, sabar ya mba!" ucap Rian kaget ketika melihat mumut.
"Iyah ... Makasih ya Rian udah mau tengokin saya!" ucap mumut sambil tersenyum.
"Aku lagi mencari pelaku yang sengaja menabrak mumut." ucap Dimas.
"Kamu udah laporin ke polisi kan?" tanya Rian.
"Udah yan, tapi polisi belum menemukan orangnya." ucap Dimas.
"Apa mba mumut punya musuh? Atau punya mantan yang tersakiti?" tanya Rian.
"Aku ga punya musuh, dan aku juga ga punya mantan yang tersakiti." jawab mumut.
"Kira-kira siapa ya? kamu curiga ga Dim sama orang kita kenal?" tanya Rian.
"Jangan berburuk sangka yan! kan orang yang kita kenal pada baik." ucap Dimas.
Mereka berdua memikirkan siapa pelaku yang sengaja menabrak mumut, Rian curiga pada seseorang yang menurutnya pelakunya, namun tidak di ucapkan pada Dimas.