
"Pak tolong bapak jelaskan pada anak bapak yang bernama woto, kalo saya bukan bos bapak! Suami saya adalah teman woto. Saya mendengar pembicaraan suami saya saat mereka ngobrol lewat hp, woto anak bapak memberitahu suami saya tentang status saya, saya tidak mau jika suami saya tau kalo saya bos bapak." ucap mumut.
"Memangnya kenapa kalo suami ibu tau?" tanya yadi.
"Saya tidak mau rahasia asli saya terbongkar." ucap mumut.
"Terbingkar? memangnya ibu punya rahasia apa?" tanya yadi bingung.
"pokoknya saya ga mau tau pak, bapak harus bisa menyakinkan kalo saya bukan bos bapak, bapak beri alasan apa aja! asal status saya ga ketahuan suami saya, karena anak bapak sudah memberitahu suami saya dan suami saya kini mulai curiga." ucap mumut tegas.
"Baik bu." ucap yadi.
Mumut diam-diam menemui pak yadi di saat Dimas sedang tidur siang. Mumut mengetahui saat Dimas menghubungi woto, ia mendengarkannya diam-diam tanpa Dimas tau.
"Ini uangnya untuk serubuk sawah, dan lain-lain." ucap mumut sambil memberikan uang.
"Makasih bu!" ucap yadi.
"Bapak ingat ya! Bapak harus kasih penjelasan yang tepat ke anak bapak, kalo saya bukan bos bapak!" titah mumut tegas.
"Baik bu." ucap yadi.
"Ya sudah saya pulang ya." ucap mumut lalu pergi.
***
Mumut menaiki motornya lalu mengendarainya, sampai di rumah ia melihat suaminyaa sudah bangun dan sedang duduk di sofa.
"Eh .... Mas, kamu sudah bangu." ucap mumut basa basi, sebenarnya jantungnya dag dig dug kencang, karena takut pada Dimas.
"Kamu dari mana?" tanya Dimas denfan wajah cuek.
"Maaf mas, tadi aku di suruh ke rumah majikanku, aku mau bangunin kamu tapi ga enak, karena tadi kamu tidur sangat lelap banget." ucap mumut beri alasan yang membuat Dimas tak percaya.
"Sebaiknya kamu jujur padaku, sebenarnya apa pekerjaan asli kamu? Kita ini sudah sumi istri semua harus terbuka jangan ada tang di umpet-umpetin!" ucap Dimas membuat mumut terdiam sejenak.
"Kenapa kamu diam?" tanya Dimas.
"Ko kamu bilang gitu mas, maksud kamu dpa mas? Kamu ga percaya aku, kalo aku ini seorang pembantu." ucap mumut pura-pura meyakinkan Dimas.
"Oke ... Kalo benar kamu memang seorang pembantu, bawa aku sekarang ke rumah majikanmu!" titah Dimas.
"Dek .... Dek ... Dek, duh ... Harus gimana ini." ucap mumut sambil memegang jantungnya yabg berdetak kencang.
"Oke mas ... Tapi aku mandi dulu." ucap mumut.
"Oke aku tunggu." ucap Dimas.
Mumut buru-buru masuk ke kamar mandi, sebenarnya ia tak mau mandi, tapi ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar rahasianya tak terbongkar.
"Duh .... gawat ini, gimana caranya ya." gumam fatimah panik.
Mumut menelpon seseorang untuk untuk merencanakan idenya. Ia menyuruh orang untuk berpura-pura jadi bosnya.
Usai menemukan ide cemerlangnya, kini mumut baru keluar kamar mandi. Lalu mengganti baju dan mendekati Dimas.
"Mas, mau sekarang ke sananya, biar kamu percaya." ucap mumut sambil tersenyum.
"Iyah ... Sekarang, kamu lama amat mandinya." ucap Dimas dengan suara aga keras.
Dimas tidak suka jika ia di bohongi, karena Dimas itu menyukai orang yang jujur. Dimas kini bersikap cuek pada mumut, karena ia merasa di bohongi.
"Ayo berangkat!" titah Dimas.
"Oke mas ... Siap." ucap mumut sambil menaiki motor.
***
Mereka berdua menuju suatu rumah yang ada di perumahan yang tak jauh dari rumah mumut.
'Kira-kira ideku ini akan berhasil ga ya?' tanya mumut dalam hati. Ia takut idenya tak bergasil.
"Stop ... Mas! Ini rumah majikanku." ucap mumut.
Dimas pun memberhentikan motornya, lalu mumut turun dengan perasaan takut.
"Ayo masuk mas!" titah mumut.
"Eh ... Mumut, ada apa ke sini mut, kamu 'kan sedang libur satu minggu." ucap orang suruhan mumut.
"Ini bu ... Kenalin, ini suami saya, suami saya pengen silaturahmi sama ibu, boleh 'kan?" tanya mumut sambil tersenyum.
"Boleh lah, ayo masuk sini!" titah orang suruhan mumut.
'Bagus bangat rumahnya.' batin Dimas.
"Mas, silahkan di minum teh nya!" titah orang suruhan mumut.
"Terima kasih bu!" ucap Dimas sambil tersenyum.
"Saya Dimas bu, suami mumut." ucap Dimas memperkenalkan diri.
"Saya yanti, majikannya mumut." ucap yanti sambil tersenyum.
"Sudah berapa lama mumut kerja sama ibu?" tanta Dimas.
"Sekitar tujuh tahunan dek, ibu suka dengan mumut, karena mumut kerjanya rajin. Ibu juga sudah percaya mumut." ucap orang suruhan mumut.
Mendengar ucapan ibu itu, Dimas mulai percaya.
'Berarti woto yang salah paham, mungkin dia salah dengar ketika abahnya berbicara. Lagian mana mungkin mumut adalah seorang bos, dia kan polos sifatnya.' batin Dimas.
Mumut langsung mengajak pulang Dimas, karena waktu sudah sore.
"Mas ayo kita pulang yu! kamu kan sekarang sudah tau majikanku." ucap mumut.
"Iyah ... Sebentar." ucap Dimas.
"Bu ... Kalo saya boleh tau, kenapa mumut libur seminggu? Dan kenapa juga mumut suka izin mendadak biasanya 'kan kalo pembantu itu ketat." tanya Dimas penasaran.
"Lagi libur seminggu, karena ibu besok mau berangkat ke luar negri, kalo soal mumut suka izin mendadak, karena ibu sudah percaya mumut, dan ibu juga sudah anggap mumut seperti sodara sendiri." ucap orang suruhan mumut.
Mendengat ucapan ibu itu, Dimas semakin percaya kalo mumut memang seorang pembantu.
"Ya sudah, kita pulang bu, maaf ya bu kita sudah merepotkan ibu. Assalamualaikum." ucap salam Dimas.
"Waalaikumsalam." ucap orang suruhsn mumut.
'Hem .... Sepertinya Dimas sudah percaya aku, aku ga sia-sia bayar ibu itu.' batin mumut.
****
Kini mereka sudah sampai rumah, Dimas minta maaf pada mumut.
"Mut, maaf 'kan aku ya." ucap Dimas.
"Maaf apa mas? Kamu 'kan ga salah." ucap mumut.
"maaf, karena aku selama ini kurang percaya sama pekerjaan kamu." ucap Dimas.
"Oh ... Ga apa-apa mas, yang penting kamu sejarang udah percaya 'kan." ucap mumut sedikit lega.
"Iyah ... Aku percaya mut."
"Mas aku ke kamar mandi dulu ya." ucap mumut lalu pergi ke kamar mandi.
Mumut di dalam kamar mandi membalas pesan orang suruhan mumut yang minta di transfer uannya sekarang.
("Oke ... Aku transfer sekarang, makasih jamu sudah bantu aku!")
("Sudah masuk uangnya, aku juga makasih ya!")
("Sama-sama").
****
"Woto sini abah mau bicara padamu!" titah yadi.
"Ada apa bah." ucap woto sambil menghampiri abahnya yang sedang duduk di kursi bambu.
"Itu poto pernikahan yang ada di kamar abah, bukan bos abah, itu namanya mumut, seorang pembantu bos abah. Kemarin abah salah ngomong, maksud abah yang yang bosnya itu bukan mumut tapi majikan mumut." ucap yadi hobong.
"Oh ... Ko abah punya poto pernikahannya?" tanya woto.
"Abah di beri sama bos abah, karena mumut pembantu yang sangat di percaya, ya abah di kasih poto itu." ucap yadi.
Penjelasan yadi sebenarnya kurang di percaya woto, karena saat di sawah woto hampir melihat mumut.
'Tapi yang pas lari di sawah itu ko, seperti mba mumut, ah... Ya udah lah, ngapain di pikirin, yang penting 'kan ka Dimas bahagia.' batin woto.