PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Tak Di Undang


Waktu terus berjalan, kini usia kandungan mumut sudah empat bulan. Mumut dan Dimas akan mengadakan acara empat bulan anak mereka. Mumut dan Dimas pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan acara empat bulan anak mereka.


"Ayo mas, kita berangkat sekarang!" titah mumut.


"Iyah .. ayo." Dimas dan mumut berangkat menuju pasar.


Jam lima subuh mereka sudah ke pasar, mumut ingin dirinya dan Dimas yang belanja, ia tak mau merepotkan yati. Meski sedang hamil mumut sangat kuat jarang merasa lelah.


"Mas, sini aku yang bawa." ucap mumut saat melihat suaminya banyak membawa belanjaan.


"Udah biar aku aja sayang." ucap Dimas.


Semua belanjaan Dimas yang bawa, karena belanjaannya sangat banyak sekali, Dimas pulang dulu untuk mengantarkan barang belanjaannya. namun mumut tak ikut pulang mumut melanjutkan belanja.


"Sayang, udah kamu tunggu aja di sini ya, jangan belanja dulu,! nanti kamu berat bawanya, aku 'kan mau pulang dulu antarkan belanjaan ini." ucap Dimas.


"Aku lanjut belanja aja mas, nanti 'kan pas ada kamu udah selesai." ucap mumut.


"Nanti kamu berat bawanya sayang."


"Ga apa-apa lah, aku kuat ko mas."


"Jangan! Ya udah gini aja, kalo kamu udah beres belanja, belanjaannya titip dulu di pedagangnya, nanti aku yang bawa." ucap Dimas.


"Ah ... Ribet mas." tolak mumut.


"Kamu lagi hamil dayang jangan bawa barang berat!"


Dimas tak mau istrinya keberatan membawa barang belanjaan, ia juga tak mau istrinya kecapean. Dimas pulang mengantarkan barang belanjaannya.


"Aku pulang dulu ya, ingat barangnya titip di pedagang aja, jangan di bawa ke parkiran nanti aku yang ambil di pedagang." ucap Dimas.


"Hem ... Iyah mas." ucap mumut sambil menganggukkan kepalanya.


Saat Dimas pulang mengantarkan belanjaan, mumut masuk lagi ke pasar, ia belanja lagi, dan tidak menitipkan barangnya ke pedagang.


"Bu semuanya berapa?" tanya mumut ke pedagang.



"420 ribu neng." ucap pedagang.



"Berat juga ya bu." ucap mumut.



"Iyah ... Neng berat, neng lagi hamil ya, jangan bawa barang berat. Titip aja di sini, neng nyuruh orang buat bawa." ucap pedagang.



"Ga usah bu, aku kuat ko." ucap mumut.


Mumut tak mendengar ucapan suaminya, ia membawa semua barang belanjaannya ke parkiran motor untuk menunggu Dimas. Barang yang di bawanya sangat banyak dan berat, ada tomat 10 kg, cabe 15 kg, bawang merah 20 kg, bawang putih 20 kg, kemiri dan lain-lain.


"Duh .... berat juga." gumam mumut saat dalam perjalanan ke parkiran.


Dimas belum balik lagi ke pasar, mumut sudah menunggunya sekitar 15 menit. Karena munut haus ia membeli es dulu.


"Ah ... aku haus banget, Dimas lama amat sih." gumam mumut.


Mumut membeli es, usai membeli es kembali lagi ke parkiran. Namun Dimas belum datang juga.


"Mana sih Dimas, ko belum datang juga." gumam mumut.


Dimas pun datang, melihat mumut sedang minum es yang berwarna, Dimas memarahinya. Dan Dimas juga kesal pada mumut yang tak mendengar ucapan suaminya.


"Jangan minum es gitu, ga boleh, dokter juga udah bilang 'kan, kamu itu kalo di bilangin susah. ini siapa yang bawa belanjaan ke sini?" tanya Dimas.



"Aku haus banget mas, mangkanya aku beli es. Ini aku yang bawa."



"Kalo kamu haus beli air minum putih aja. Kamu itu susah banget sih kalo di bilangin, kataku jangan bawa barang berat, tapi ini ... Kamu susah di bilanginnya. Mut ingat kamu lagi hamil jangan bawa barang berat dsn kecapean! Coba geh dengerin omongan aku. Jangan mentang-mentang kamu kuat, kamu berani bawa barang berat, kasiyan anak kita di dalam perut." ucap Dimas bertubi-tubi dengan wajah kesal.



"Aku kuat ko sehat." ucap mumut.


***


Kini mereka sudah berada Di rumah, mumut sudah menyuruh ibu-ibu tetangganya untuk membantu masak. Yati dan hasan juga sudah ada di rumah mumut.


"Ibu, sehat bu?" tanya mumut sambil cium tangan yati.



"Alhamdulillah ibi sehat nak. Kamu ngapain ikut ke pasar. Dimas ko mumut ikut ke pasar sih, kenapa ga nyuruh ibu aja sih." protes yati.



"Ah ... Ibu sama lebainya dengan Dimas." ucap mumut.


"Bukannya lebai sayang, tapi kan kamu lahi hamil, di pasar itu ngeri banyak orang, takutnya kamu ke dorong-dorong atau kepeleset." ucap Yati.


"Ibu aku itu 'kan udah besar, jadi jangan terlalu khawatir seperti itu."


"Mumut juga bawa barang bu, dia susah di bilangin." sahut Dimas.


"Jangan sayang! Ibu hamil ga noleh bawa barang berat." ucap mimi sambil menatap mumut.


Ibu-ibu sudah memasuki dapur rumah mumut, yati juga ikut masuk, Dimas pun juga ikut masuk. Meskipun Dimas laki-laki tapi yang tak malu bantu masak.


"Dim, udah kamu jangan bantu masak! Nanti cape." titah yati.


"Ga apa-apa bun. Dimas lagi ga ada kerjaan jadi mending bantu masak.


Dimas juga mengundang gurunya yaitu pak kiai ahmad dan abah kiai arip. tak lupa juga Dimas dan mumut mengundang semua para santri kiai ahmad dan kiai arip. Mereka juga mengundang anak yatim piatu. Tapi fatimah tak di undang Dimas, karena Dimas takut istrinya cemburu kalo fatimah dateng. Ia menjaga perasaan istrinya, karena mantan itu meski sudah tak cinta lagi, kalo bertemu takut ada kedip-kedip mata atau senyum-senyum gitu, apa lagi fatimah saat ini sangat berharap kembali pada Dimas.


acara selamatan empat bulan anak mumut akan di rayakan besok. Namun hari ini sudah memasak bumbu-bumbu atau potong ayam dan daging biar besok cepat selesai.


"Mas, kamu undang 'anak yatim 'kan?" tanya mumut.



"Iyah .... Aku undang sayang, semua para santri para santri pak kiai ahmad dan abah kiai arip juga aku undang." ucap Dimas.



"Oh .... Kamu udang juga or ....eh." ucap mumut tak melanjutkan.



"Siapa sayang?"



"Ga mas." ucap mumut.



'Maksudku kamu undang ga gadis itu alias mantan mu, aku bisa cemburu kalo gadis itu datang, aku takut goda kamu.' batin mumut.


Mumut memang memiliki sifat cemburu, ia berharap fatimah tak datang ke acara selamatan empat bulan anaknya. Dimas pun juga sebagai suami paham denan sifat istrinya, Dimas tak mau istrinya cemburu saat acara selamatan anak mereka.


'Aku tau ko mut, tadi kamu mau ngomong apa, aku ngerti mut pasti kamu mau ngomong Fatimah. Aku paham sayang kamu nanti pasti cemburu jadi aku ga undang fatimah.' batin Dimas.


Rian sudah datang duluan ke rumah Dimas, karena Dimas menyuruhnya untuk datang duluan dan membatu di rumahnya. sekalian ia juga ingin di temani Rian.


"Assalamualaikum." ucap salam Rian.


"Waalaikumsalam, ayo masu yan, ngopi-ngopi! Udah ngopi belum?" tanya Dimas sambil ketawa.


"Beh ... Baru geh dateng, udah di suruh ngopi." ucap Rian sambil tersenyum.


"Ha ... Ha, ngopi dulu lah biar kuat." ucap Dimas sambil ketawa.


"Dim ... Kamu undang si fatimah ga?" tanya Rian.


"Ga yan, aku takut mumut cemburu." ucap Dimas.


"Bagus ... Bagus. Itu suami yang pengertian, lagian kalo di undang juga takutnya fatimah berani deketin kamu saat ada mumut. Takut nya nanti kamu di rayu dia. Ha ... Ha ... Ha, kalo kamu tergoda lagi 'kan gawat." ucap Dimas terkekeh.


"Hem .... Insya allah ga yan." ucap Dimas.


"