
mumut dan Dimas mini sudah di rumah. Meraka sedang istirahat duduk di sofa sambil nonton tv. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Siapa itu mas? Buka mas pintunya!" titah mumut.
"sepertinya itu suara Rian." ucap Dimas lalu membuka pintu.
"Rian, sehat yan?" ayo masuk!" titah Dimas.
"Eh ... Rian, silshkan duduk!" titah mumut.
"Mau minum apa Rian?" tanya mumut.
"Apa aja mba." ucap Dimas sambil tersenyum.
Rian datang ke rumah Dimas membawa rendang buatan ibunya. Ia juga sekalian ingin cerita tentang fatimah pada Dimas.
"Aku datang ke sini, pertama kangen kamu dan ingin memberitahu tentang fatimah" bisik Rian, karena takut terdengar mumut yang sedang mengambilkan minum untuk Rian.
"Coba cerita sekarang!" titah Dimas.
"Gini ... Eh." Ruan tak melanjutkan pembicaraannya, karena ada mumut datang membawa minum.
"Di minum Rian!" titah mumut.
"Makasih mba!" ucap Rian sambil tersenyum.
"Ini aku bawa rendang, silahkan di manan Dim, mba mumut." ucap Rian.
"Ngapain bawa rendang segala yan." ucap Dimas sambil membuka wadah yang berisi rendang.
"Ga apa-apa lah, ini hadiyah untukmu Dim." ucap Rian sambil ketawa.
Dimas dan mumut menikmati rendang buatan ibu Rian. Mumut nambah dua kali begitupun Dimas juga. Nasi yang tadinya banyak kini tinggal sedikit.
"Em .... Enak banget yan, ini rendang buatan ibumu 'kan?" tanya Dimas.
"Iyah ... Dim, kamu ko tau?"
"Tau lah, dulu 'kan kalo aku main ke rumah kamu ibumu kadang masak rendang daging." ucap Dimas.
"Ha ... Ha ... Ha, iyah Dim. Sampai sekarang pasti kamu masih inget aja rasa masakan rendang ibuku." ucap Rian sambil ketawa.
"em ... Ini rendang nya nikmat banget, dagingnya empuk, bumbunya medok. Makasih ya Rian!" ucap mumut sambil tersenyum.
"Sama-sama mba." ucap Rian sambil tersenyum.
"Nanti kapan-kapan aku pengen belajar masak rendang sama ibu Rian. aku pengen tau kenapa ini daging bisa seenak ini. Kalo aku masak rasanya biasa aja. Beli juga rasanya biasa aja." ucap mumut sambil tersenyum.
"Iyah ... Mba, nanti saya bilangin ke ibu saya." ucap Rian.
Kini mumut sedang mencuci piring bekas makannya. Mumut juga masuk ke kamar mandi. Ketika mumut sedang di dalam kamar mandi Rian cerita tentang fatimah.
"Dim .... Fatimah datang ke rumahku." ucap Rian dengan suara kecil.
"Untuk apa?" tanya Dimas.
"Fatimah minta bantuan aku agar kamu balikan lagi dengannya." ucap Rian.
"Yang bener yan?" tanya Dimas.
"Bener .... Dia ingin kamu kembali lagi padanya. Sampe dia mohon-mohon padaku agar di bantu. Dia juga sampe nangis ketika aku sudah masuk ke dalam rumah." ucap Rian.
"Kapan fatimah ke rumahmu?" tanya Rian.
"Minggu kemarin, aku kaget banget pas dia dateng."
"Terus dia ngomong apa lagi."
"Fatimah bilang, ia menyesal telah menduakan kamu dan menyia-nyiakan mu."
"Terus ngomong apa lagi?"
"Udah sih gitu doang. Kamu kira-kira mau ga balikan lagi sama dia?" tanya Rian sambil tersenyum.
"Ga yan, aku kini sudah mencintai istriku." ucap Dimas.
"Alhamdulilah, aku dengernya seneng Dim, akhirnya kamu bisa mencintai mumut juga, guru itu pasti pilihkan jodoh untuk kita pasti yang terbaik ga mungkin salah." ucap Rian sambil tersenyum.
"Iyah ... Semenjak aku kenal mumut, pelan-pelan rasa itu datang. Walopun dulu aku pas nikah kaget banget tiba-tiba ijab kobul.
"Udah .... Jangan ingat-ingat fatimah lagi! Nikmati pernikahanmu ya! Bener kata pak kiai cinta itu datangnya pelan-pelan. Kalo cinta datangnya tiba-tiba biasanya itu hanya napsu." ucap Rian.
Rian bahagia mendengar ucapan temannya yang kini telah mencintai istrinya. Rian kini sudah di luluskan oleh pak kiai ahmad. Kini ia telah menjadi seorang guru agama di sekolah madrasah. Keahlian Rian memang kurang, Rian tak bisa ceramah, sedangkan dimas sangat pandai berdakwah. Semua manusia memiliki keahlian masing-maring. Rian di luluskan karena sudah pintar menurut pak kiai ahmad, tapi Rian setiap satu minggu sekali mengaji ke pak kiai ahmad untuk melancarkan isi kita kuning. Sedangan Dimas sudah cerdas tak melancarkan lagi.
"Duh ... Aku ga mau Dim, ga bisa aku ceramah mah, suka gugup gitu, itu bukan keahlianku." tolak Rian.
"Kalo ceramah di pengajian ibu-ibu hampir sama ko dengan cara mengajar di sekolah madrasah." ucap Dimas mencoba merayu.
"Ga lah, Dim, aku belum siap, insya allah kapan-kapan aja." ucap Rian sambil tersenyum.
Kini mumut sudah keluar dari kamar mandi, ia memasuki kamarnya. Lalu Dimas melanjutkan obrolannya dengan Rian.
"Ya sudah kalo kamu belum bisa yan, sayang aja itu ga ada yang ngisi, paling kalo ga ada aku nyuruh orang lain." ucap Dimas.
"Entah kenapa aku itu ga pede kalo ceramah, pokoknya ga nisa lah." ucap Rian.
"Bukan ga nisa yan, tapi kamu itu belum biasa." ucap Dimas.
Kini sudah menunjukan jam sembilan malam, mereka masih melanjutkan obrolan. Dua orang yang sangat bersahabat itu makin semangat untuk bercerita, karena mumut sudah tidur jadi tak bisa dengar lagi.
"Dim .... Kamu 'kan udah nikah, gimana sih rasanya?" tanya Rian.
"Nikmat yan, apa lagi kalo istri kita baik, nurut, em ... Pokoknya nikmat banget deh." ucap Dimas.
"Nikmat apanya sih?" tanya Rian sambil ketawa.
"Ya pokoknya nikmat, dulu pas masih bujangan belum tau rasanya nikmat bercinta, tapi setelah menikah beh .... Itu rasa bercinta nikmat banget yan." ucap Dimas.
"Ha ... Ha ... Ha, jadi pengen segera ngerasain aku." ucap Dimas sambil ketawa.
"Mangkanya buruan nikah Yan, pokoknya nikmat deh. pas udah selesai bercinta pun rasanya nikmat. Cape tapi nikmat." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Ih aku jadi pengen cepat ngerasain ini, tapi aku calon juga belum punya, kapan ya aku nikah." keluh Rian.
"Nanti juga ada ko jodohmah. Tenang aja yan, kamu mau ga aku jodohkan?" tanya Dimas.
mendengar Dimas bicara perjodohan, Rian langsung semangat. Dan ia tersenyum lebar.
"Mau aku Dim, tapi cantik ga? Sholehah ga?" tanya Rian semangat.
"Cantik lah, wanita itu seorang guru bahasa Inggris di sekolah smp. orangnya juga baik." ucap Dimas.
"Boleh ... Mana no hpnya." ucap Rian makin semangat.
"Tapi cewek itu sukanya sama aku yan."
"Huh ... Kamu gimana sih Dim, mau jodohkan aku, tapi orangnya malah suka sama kamu.
"Jadi gini ceritanya, ibunya 'kan suka ngaji di pengajian, dan ibunya ingin aku jadi menantunya, aku udah bilang kalo aku sudah menikah, tapi ibu itu ga percaya. Setiap jadwal pengajian ibunya membawa anaknya ke pengajian. dari situ anaknya juga naksir aku. Tapi aku ga kasih no telpon." ucap Dimas.
"Dari mana kamu tau kalo anaknya naksir kamu?" tanya Rian.
"Dia ngasih surat ke aku yan, dan dia lang sung yang ngasih." ucap Dimas.
"Em .... Udah lah jangan di jodohkan ke aku, orang sukanya juga ke kamu." ucap Dimas sambil menggelengkan kepalannya.
"Soal itu gampang yan, nanti aku deketin.
"Ogah lah Dim."
Rian ingin menikah, tapi belum memilki kekasih, imas yang mencintainya, tapi Rian tidak tau perasaan imas. Andai Rian tau, mungkin Rian akan menerima imas.
Rian tipe laki-laki yang ga bisa merayu perempuan, ga romantis juga, dan ia juga selalu jual mahal pada perempuan. Mangkanya imas ga berani ungkapkan perasaannya.
"Yan, nginep aja di sini ya! Ini 'kan sudah jam sebelas malam."
"Aku ga enak sama mumut."
"Lita tidur di sofa aja. Memang kamu ga takut pulang jam segini? 'kan arah ke rumahmu lumayan jauh dan lewat sawah juga.
"Ah .... Takut apa sih, aku kan naik motor. Ga takut aku Dim."
"Takut ada begal yan." ucap Dimas.
"Begal doang, tinggal di sikat aja pada jatuh." ucap Rian.
"Ya sudah, aku pulang ya, assalamualaikum.
"Waalaikumsalam, hati-hati yan." ucap Dimas.
Rian memang orangnya pemberani seperti Dimas, mereka tak takut setan bahkan mereka juga tak takut begal, karena mereka memiliki ilmu untuk menjaga diri yang di beri pak kai ahmad. Dan ilmu itu kuasai mereka saat masih di pesantren.