
Acara sukuran empat bulan anak Dimas dan mumut akan di mulai setelah sholat dhuhur. Semua para tamu sudah ada yang datang satu persatu. Kini menunjukan jam sembilan pagi ibu-ibu tetangga mumut sedang mempersiapkan semua makanan yang akan di hidangkan untuk tamu-tamu.
"Bu, semua masakan sudah beres 'kan?" tanya mumut pada salah satu tetangganya.
"Udah neng, alhamdulilah.
Meskipun ibu-ibu tetangga mumut yang masak. Namun resep masakan nya dari mumut. semua rasa masaka resep mumut enak semua.
"Makanannya enak semua neng, ibu udah coba semua dari mulai sop, rendang, semur, pokoknya semuanya enak neng." ucap ibu tetangga.
"Makasih bu, ibu bisa aja." ucap mumut sambil tersnyum.
Kue- kue yang di oleh ibu tetangga juga rasanya nikmat, kalo kue mumut tidak memberikan resep. Kue yang di sediakan juga cukup lumayan banyak dan ada juga buah-buahan.
"Ibu-ibu pintar bikin kue, semua kuenya enak." ucap munut sambil tersenyum.
"Neng bisa aja, alhamdulilah kalo enak mah." ucap salah satu ibu tetangga.
Semua makanan sudah di bungkus, tamu-tamu sudai mulai berdatangan. Semua para santri pak kiai ahmad dan abah kiai arip sudah datang semua, sehingga tempat rumah mumut penuh sampai halaman rumahnya penuh dan depan rumah tetangganya pun penuh. Pak kiai ahmad dan arip pun susah duduk di dekat Dimas dan mumut.
"Dimas apa sudah terkumpul semuanya?" tanya kiai ahmad.
"Anak yatim yang Dimas undang belum datang pak." ucap Dimas.
"Ya udah kita tunggu dulu ya."
Anak yatim piatu belum datang, padahal waktu sudah mau di mulai. Dimas dan mumut sudah menghubungi ibu pengurus anak panti tapi tidak di jawab. Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba.
"Assalamualaikum." ucap ibu panti.
"Waalaikumsalam, ibu silangkan duduk di tempat yang sudah di sediakan!" titah Dimas.
"Maaf ustad Dimas saya telat, karena mobil arah ke sini mogok di jalan." ucap ibu panti.
"Ga apa-apa bu."
Acaranya di mulai yang akan memimpin doa kiai ahmad. sebenarnya kiai ahmad tak enak dengan abah kiai arip yang umurnya lebih tua darinya, tapi yang akan memimpin doa kiai ahmad.
"Silahkan bah, abah saja yang mimpin!" titah kiai ahmad.
"Udah pak ahmad saja.!" titah kiai ahmad sambil tersenyum.
Pak kiai arip tak mau memimpin doa, karena ia tak enak dengan kiai ahmad, karena Dimas paling lama tinggal di pesantren kiai ahmad. acara pun di mulai dan yang memimpin doa pak kiai ahmad. Sudah selesai membaca, semua para undangan menyantap hidangan yang tersedia.
"Ayo, silahkan, mari kita makan dulu.!" titah Dimas pada para undangan.
Para undangan satu persatu menyantap hidangan yang sudah di sediakan. Beda dengan pak kiai ahmad dan kiai arip makanan yang di hidangkan di tempat lain, karena guru harus di buat spesial.
"Ayo pak, bah, silahkan masuk,Bapak makan di dalam saja! sudah Dimas sediakan." titah Dimas sambil tersenyum.
"Ah .... Bukannya abah makan di empat itu aja." ucap kiai arip sambil menoleh arah hidangan para undangan.
"Abah dan bapak beda, di saba 'kan ngantri, jadi Dimas sudah menyiapkan yang spesial." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Dimas bisa aja." ucap kiai ahmad sambil tersenyum.
Usai makan, para undangan tidak langsung pulang, Dimas juga membagikan kotak nasi untuk para undangan. beruntungnya para undangan setelah makan mereka juga pas pulang di berikan nasi kotak.
"Dari allah yan." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Kamu pasti punya uang banyak dari hasil ceramah 'kan?" tanya Rian dan Dimas pun hanya menganggukkan kepalanya.
Dimas bisa mengadakan syukuran emat bulan anaknya itu dapet uangnya memang dari hasil ceramah. Setiap ia dapet duit dari hasil ceramah uang itu di tabung mumut. Uang yang di kumpulan lumayan banyak sehingga bisa syukuran empat bulan calon anak mereka yang akan lahir ke dunia. Acara syukuran ibu hamil bisa empat bulan atau tujuh bulan sesuai yang kita mau, bahkan kalo kita punya uang bisa merayakan ke dua-duanya.
"Alhamdulillah sayang, acaranya kini selesai dan makanan yang kita beri cukup semua bahkan masih ada sisa." ucap mumut.
"Alhamdulilah sayang .... Kita juga bisa kasih makanan dan sedikit uang pada yatim piatu." ucap Dimas.
Dimas juga memberikan sedikit uang untuk anak-anak yatim piatu. satu orang anak 50 ribu dan jumlah yatim piatu ada 100 orang. Bagi Dimas berbagi itu penting, karena memberikan sebagian rezeki itu memang sudah kewajiban.
"Terima kasih ya ustad Dimas, mba mumut, semoga Rizkinya makin bertambah." ucap ibu panti.
"Sama-sama bu, semoga bermanfaat Rizki kami, amin." ucap Dimas.
Semua para undangan sudah pulang, pak kiai ahmad, kiai arip dan Rian belum pulang, mereka ingin ngobrol dulu dengan Dimas dan mumut. semua santri kiai ahmad dan kiai arip sudah pulang duluan tanpa menunggu gurunya, merekapun atas izin gurunya.
"Dim, selamat ya! Bapak doa 'kan, anakmu lahir sehat dan selamat." ucap kiai ahmad.
"Amin." ucap Dimas dan mumut.
"Semoga anak Dimas jadi anak yang sholeh sholehah dan panjang umur." ucap kiai arip.
"Amin .... Amin." ucap Mumut dan Dimas.
"Semoga nanti punya anak lagi." sahut Rian sambil tersenyum.
"Amin ... Amin." ucap Dimas sambil tersenyum.
Dimas memberikan makanan banyak pada kiai ahmad dan kiai arip, Dimas juga memberikan uang pada gurunya. Makanan yang di beri Dimas pada gurunya lumayan banyak.
"Ini pak, ada sedikit oleh-oleh." ucap Dimas.
"Banyak amat Dim." ucap abah kiai arip.
"Iyah ... Banyak amat Dim." ucap kiai ahmad.
"Ga apa-apa bah, pak. Ini rezeki Dimas untuk abah dan bapak." ucap Dimas sambil memberikan amplop berisi uang pada kiai amhad dan kiai arip.
Rian pun di beri makanan lumayan banyak juga, karena Rian bagi mumut bukan hanya teman biasa, tapi Rian seperti sodara sendiri. Karena di pesantren Rian suka membantu Dimas.
"Ini juga untuk temanku yang aku sayang." ucap Dimas sambil memberikan makanan di dalam kardus.
"Waduh .... Ngerepotin Dim, tapi ... Lumayan. Ha ... ha ... Ha." ucap Rian sambil ketawa.
Rian juga di berikan uang oleh Dimas, tapi tidak sebesar gurunya. Rian menerima pemberian Dimas dengan senang.
"Eh .... apa ini?" tanya Rian saat Dimas memberikan uang.
"Udah terima aja." ucap Dimas.
"Hem .... Rezeki. Makasih Dim." ucap Rian sambil tersenyum.
Karena waktu sudah sore pak kiai ahmad dan kiai arip pulang, Rian pun juga pulang. Rian tidak langsung pulang ke rumah ia mengantarkan kiai arip dan kiai ahmad dulu menggunakan mobil kiai ahmad.