PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Di Goda


Dimas masih seperti kemarin sikapnya cuek. Sekarang yang mengerjakan semua pekerjaan rumah mumut. Sudah dua hari mumut melakukan semua pekerjaan rumah. Ia merasa lelah, tapi Dimas cuek saja.


"Mas, aku cape, besok kamu ya yang mengerjakan pekerjaan rumah." ucap mumut dengan suara pelan.


"Ya sudah kalo kamu cape gak usah di kerjakan. Suruh orang aja yang mengerjakan nanti aku bayar. Aku lagi males." ucap Dimas tanpa melihat wajah mumut.


"Kenapa kamu sekarang jadi males mas? Biasanya kamu rajin?"


"Tidak apa-apa aku hanya malas saja. Udah suruh orang aja yang mengerjakan pekerjaan rumah, masak dan lain-lain."


"Tapi kalo orang lain yang masak aku takut gak bersih mas. Aku takut sayuran dan bumbu-bumbunya gak di cuci."


"Ya sudah kalo gitu kamu aja yang masak."


"Aku cape mas, aku pengen kamu yang masak. Aku kangen masakanmu."


"kalo gitu suruh orang aja yang masak, tapi kamu perhatikan orang itu pas lagi masaknya."


Mumut tidak bicara lagi. ia masuk kamar lalu menangis. Mumut menangis karena sedih, suaminya bersikap cuek padanya padahal ia sedang hamil besar depan bulan.


"Memang semua salah aku mas, aku tidak jujur padamu, tapi tidak begini juga. Kamu biarkan aku kecapean, sedangkan kamu tiap hari hanya santai. Aku 'kan cape, kasiyan anakku juga dalam perut." gumam mumut.


Mumut menangis tidak terasa suara tangisannya terdengar Dimas yang sedang duduk di sofa sambil baca buku. Dimas menghampiri mumut lalu mendekat.


"Kenapa kamu menangis? kamu sedih, karena aku tidak mengerjakan semua pekerjaan rumah?" tanya Dimas.


"Aku gak apa-apa." ucap mumut sambil mengusap air matanya di pipi.


"Aku tau kamu menangis, suara tangisanmu terdengar olehku. kalo kamu ingin aku kembali mengerjakan pekerjaan rumah mangkanya kamu jujur padaku. Aku paling tidak suka dengan orang yang suka boong. apa lagi kita ini berumah tangga, aku tidak mau jika kamu menutupi sesuatu dariku."


"Maksudmu apa mas?" tanya mumut pura-pura tidak tau."


"Sudah lah, kamu jangan pura-pura! Kamu cerita sama aku."


"Apa mas? cerita apa?"


"Ya sudah kalo kamu masih belum mau jujur padaku, aku tidak akan mengerjakan pekerjaan rumah." ucap Dimas lalu ke luar dari kamar.


Mumut terdiam dengan wajah ketakutan, mumut bingung harus bagaimana. Untuk saat ini ia tidak mau cerita rahasianya pada Dimas. Ia akan bercerita pada Dimas setelah rumah tangganya lima tahun. tapi Dimas hampir tau rahasianya.


"Ya allah, mampukah aku menyimpan rahasia ini sampe lima tahun pada suamiku? Sementara suamiku sudah hampir tau rahasiaku. Dia bersikap tidak perduli aku. Aku tidak ingin Dimas seperti itu. Apa kamu cerita aja ya, tapi." gumam mumut dalam hati.


Dimas kesal dengan istrinya, karena tidak mau jujur. Dimas pergi ke taman bunga sendiri. Ia ingin minum kopi sambil santai di taman bunga. Saat motornya di nyalakan mumut langsung keluar kamar dan menghampiri Dimas.


"Mas, kamu mau ke mana?" tanya mumut.


"Aku mau ngopi dulu."


"Ke mana? ngopinya di rumah saja aku buat 'kan ya."


"Aku lagi malas ngopi di rumah."


"Terus mau ngopi di mana."


Dimas langsung pergi, dia tidak menjawab pertanyaan istrinya. Tidak biasanya Dimas seperti itu. Dimas jika ingin pergi ke luar rumah pasti izin istrinya. Dimas seperti itu karena kesal pada mumut.


***


Sampai di taman bunga Dimas memesan kopi di pedangan yang pangkal di pinggir taman bunga tersebut. Ia menikmati secangkir kopi sambil merokok. Dimas adalah pria yang suka merokok jika dirinya sedang pusing, kecewa, kesal, dan galau. Dia bisa menghabiskan satu bungkus rokok surya yang isinya ada 16 batang dalam tiga jam.


Dimas tidak akan merokok jika hatinya sedang damai dan bahagia.


"Aku akan habiskan rokok ini." gumam Dimas.


Jika istrinya tau, pasti mumut marah, karena mumut tidak suka pria merokok. Dimas menikmati kopi dan rokok tersebut tanpa memikirkan istrinya yang sendiri di rumah.


***


"Kakak mau ke mana sih, kenapa aku tidak boleh ikut?" tanya fatimah.


"Kakak mau pergi dulu sebentar, aku jangan ikut!"


"Aku ikut kak."


"Gak bisa, kamu di sini aja!"


"Tapi kakak janji padaku ya, cari 'kan nomer hp Dimas sampe dapet."


"Kak tolong." ucap fatimah dengan wajah memohon.


"Sudahlah, nanti aja. Kakak pergi."


Ridwan pergi meninggalkan rumah, ia ingin bertemu dengan temannya. Tidak sengaja ia melihat Dimas sedang asyik merokok. Ridwan berhenti sejenak untuk memastikan apakah itu benar Dimas. Ridwan lebih mendekat dan yang di liatnya itu benar Dimas.


"Benar itu Dimas, sedang apa ia di sini? Mana istrinya? Ternyata dia cowok perokok juga. Kirain aku ustad itu tidak merokok." gumam Ridwan dalam hati.


Ridwan tidak jadi bertemu dengan temannya. Ia kembali pulang, ia ingin adiknya tau jika laki-laki yang di cintai adiknya sedang berada di taman bunga sendiri.


"Ini kesempatan adikku, siapa tau fatimah bisa merayu Dimas untuk kembali padanya. Dari pada adikku galau terus." gumam Ridwan .


***


Sampai di rumah, Ridwan langsung memasuki kamar adiknya. Dan menarik tangan adikku untuk ikut pergi bersamanya.


"Kak, ada apa? Jangan tarik aku seperti ini!"


"Udah, kamu jangan banyak omong, ayo ikut kakak! Kamu mau 'kan bertemu Dimas?"


"Ini gak mimpi 'kan?" tanya fatimah.


"Enggak, Dia sedang berada di taman bunga, tapi tidak dengan istrinya.


Fatimah mengganti baju ,berdandan dan memakai minyak wangi. Dia ingin tampil cantik di depan Dimas.


"Ngapain sih dandan segala? Buruan keburu dia tidak ada!"


"Iyah. Ayo kak!"


***


Sampai di taman bunga, fatimah langung turun dari motor. Dia langsung menghampiri Dimas tapi di tahan oleh Ridwan.


"Eh tunggu dulu, kamu jangan main langung temui dia aja? liat dulu di sini ada istrinya tidak.


"Tadi kata kakak gak ada istrinya?"


"Tadi sih aku liat gak ada, dia cuma sendiri. Coba kita perhatikan dulu di sini 15 menit saja, apa akan ada istrinya datang, kalo tidak ada baru kamu samperin dia. Tapi kamu jangan kelihatan seperti sengaja ingin bertemu dengannya. Kamu harus berpura-pura tidak tidak sengaja bertemu dia. Kakak akan pantau kamu dari jarak jauh."


"Oke kak." ucap fatimah semangat.


15 menit sudah tapi tidak ada mumut. Fatimah mulai beraksi. Ia pura-pura membeli kopi ke pedagang yang ada di dekat Dimas. Dan fatimah juga pura-pura tidak melihat Dimas. Sementara Dimas sudah melihatnya, tapi dia tidak menyapa mantan pacarnya itu.


Tidak lama kemudian Setelah fatimah membeli kopi dan berjalan, Dimas memanggilnya.


"Fatimah, fatimah." seru Dimas dengan sura kencang.


Dimas menghampiri fatimah dan menanyakan kabarnya. Mereka duduk saling tatap wajah. Fatimah tersenyum bahagia.


"Akhirnya berhasil juga." gumam fatimah dalam hati.


"Fatimah, kamu sedang apa di sini?" tanya Dimas.


"Aku lagi nyantai aja kak, aku bosan di rumah."


"Kamu sama siapa ke sini nya?"


"Sendiri kak."


"Kalo kakak kenapa ada di sini? Mana istri kakak ko gak ikut?" tanya fatimah semangat.


"Aku ke sini cuma lagi beli kopi aja. Mampir ke sini, tadi abis pulang dari pengajian."


"Oh. Fatimah boleh tidak ngobrol sebentar sama kakak?"


"Ngobrol apa fat?"


"Tapi kita ngobrolnya di dalam taman aja ya, sambil santai duduk di kursi."


"Tapi ..... A_ku." Dimas ragu, tapi karena ia melihat senyuman fatimah yang sangat cantik dia jadi mau.


Seorang suami jika istrinya tidak jujur, meski ia setia, jujur dan sayang istri. Bisa saja ia tergoda lagi pada mantannya. Apa lagi fatimah perempuan cantik, putih, tinggi giginya bersih, rapih dan senyumnya itu sangat manis. Meski Dimas seorang ustad bisa saja jatuh cinta lagi pada sang mantan yang dulu sangat ia cintai.