
Dimas sudah sampai di rumah. Mumut menunggu di depan rumah dengan wajah kesal.
"Maaf ya, aku pergi lama." ucap Dimas.
"Kamu dari mana sih mas, aku menunggumu dari tadi, aku hubungi kamu, tapi hpmu tidak aktif.
"Aku tadi ngopi di taman."
"Sama siapa?"
"Sendiri." ucap Dimas dengan wajah takut.
"Kenapa tidak ajak aku?"
"Aku lagi pengen sendiri." ucap Dimas lalu masuk rumah."
Dimas masuk ke kamar mandi, ia mandi usai ia langsung istirahat. Sementara mumut duduk di sofa dengan wajah cemberut. Dimas tidak memperdulikan istrinya ia tidur sendiri.
"Mas, aku mau martabak tolong beliin!" titah Mumut saat ia menghampiri suaminya yang sedang istirahat.
"Mas, bangun dulu!" Dimas diam saja, ia pura-pura tidur.
Mumut mencubit tangan Dimas dengan keras, tapi Dimas tetap pura-pura tidur. Lalu mumut menggigit pipinya sampe pipi Dimas merah. Dimas terbangun karena kesakitan. Ia marah pada istrinya.
"Ngapain kamu gigit aku? sakit tau! mau apa kamu?" ucap Dimas dengan wajah marah.
"Kamu sih gak mau bangun aja, aku mau martabak, tolong beliin!"
"Males aku, aku mau istirahat."
"Aku lapar mas." ucap mumut sambil mengelus perutnya.
"Ya kamu makan sana! Nasi ada, lauk ada, ngapain beli martabak."
"Aku maunya martabak."
"Dasar manja." ucap Dimas lalu turun dari kasur.
Dimas dengan terpaksa membelikan martabak untuk mumut. Ia sebenarnya malas, tapi ia kasian pada anaknya yang di dalam perut mumut.
"Terpaksa lah aku beliin, dari pada anakku kelaparan." gumam Dimas.
Dimas sudah kembali ke rumah membawa martabak manis kesukaan mumut rasa coklat dan susu. Dimas memberikan martabak itu ke mumut dengan wajah marah.
"Kenapa sih mas, kamu bersikap gini terus sama aku?"
"Aku tidak apa-apa aku lagi malas saja."
"Kamu malas sama aku? kamu udah gak sayang lagi sama aku?" ucap mumut.
"Aku sayang kamu, tapi kamu yang tidak jujur sama aku jadi aku malas." ucap Dimas lalu masuk kamar.
Mumut hanya terdiam, ingin rasanya dia cerita pada suaminya. Mumut tidak tau harus bagaimana lagi menghadapi suaminya, karena Dimas paling tidak suka jika di bohongi. Dimas merasa tidak di percaya istrinya, padahal selama ini Dimas selalu jujur padanya. bagi Dimas rumah tangga itu yang di utamakan kejujuran, jika kejujuran sudah tidak ada lagi maka rumah tangga bisa hancur. Bagaimana Dimas tidak kesal dan marah pada istrinya jika selama ini mumut menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku kesal ya allah, ampuni aku ya allah, aku kasar pada istriku." gumam Dimas dalam hati.
Dimas tidur tanpa menunggu mumut. ucai makan martabak mumut langsung masuk kamar dan tidur di samping Dimas. Tapi saat mumut tidur di sampingnya, Dimas membelakangi mumut.
"Maaf 'kan aku mumut." gumam Dimas dalam hati.
Kini sudah jam tiga subuh, Dimas sudah bangun, ia menjalankan sholat tahajud, ngaji dan zikir sampai waktu sholat subuh. Usai sholat subuh Dimas tidur lagi. Sementara mumut baru bangun. mumut sholat usai sholat ia langsung membuat sarapan untuknya dan suaminya. Pagi itu mumut membuat sarapan bubur ayam, karena Dimas suka beli bubur ayam. Mumut ingin suaminya sarapan bubur ayam buatannya saja. Usai masak, mumut langsung mandi, dandan dan memaksi parfum.
"Mas, bangun! Sarapan dulu yu! Aku masak bubur ayam untukmu sayang." ucap mumut sambil mengelus rambut suaminya.
"Mas, ayo sayang!" ucap mumut berusaha sabar agar tidak mencubit atau mengigit suaminya lagi."
"Mas, ayo sayang! Enak loh buburnya." ucap mumut terus merayu suaminya.
Karena mumut sudah lapar dan cape mengajak Dimas makan. ia makan sendiri dengan perasaan sedih. Mumut menikmati bubur ayam buatannya.
"Kamu pasti suka mas bubur ayam buatanku." gumam Mumut dalam hati.
Kini sudah jam sembilan pagi, Dimas bangun untuk sholat duha. usai sholat duha Dimas minum kopi, ia tidak langsung sarapan.
"Mas, aku masak bubur ayam, enak loh. Kamu pasti suka. aku ambilkan ya!" ucap mumut saat menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa.
"Gak usah, aku belum lapar."
"Kamu 'kan biasanya kalo pagi udah pengen cepat sarapan? Aku angetin buburnya ya untuk kamu sayang."
"Aku bilang gak usah, aku belum lapar, kalo nanti aku lapar aku bisa beli makan di warung nasi depan."
"Ngapain beli mas, aku kan udah masak, nanti siang aku juga masak lagi, nanti siang aku masakin kesukaan kamu. Sayur asem, sambal terasi, ikan asin dan pete di bakar." ucap mumut sambil tersenyum.
"Kamu gak usah masak buat aku, kamu masak buat kamu aja sendiri. Selama kamu gak mau jujur sama aku, aku akan bersikap seperti ini terus sama kamu."
"Ya allah mas, kamu 'kan faham agama, tapi kamu kenapa seperti ini, dosa kamu mas."
"Aku tau dosa, aku seperti ini gara-gara kamu, kamu dosa mut tidak jujur sama aku." ucap Dimas dengan suara keras.
"Aku belum bisa cerita sama kamu sekarang mas, kalo rumah tangga kita sudah lima tahun baru aku akan cerita."
"Lima tahun? Apa kamu gak salah? Mumut aku tidak bisa berumah tangga jika kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Kalo kamu tidak mau cerita mana bisa aku bertahan sampe lima tahun denganmu." ucap Dimas dengan suara keras.
"Ini yang terbaik mas."
"Terbaik apa? Kamu menyembunyikan sesuatu dari suami itu terbaik. kamu salah mumut justru rumah tangga itu terbuka tidak ada yang di tutup-tutupi."
"Aku belum bisa cerita mas, maaf." ucap mumut dengan wajah sedih.
"Ya sudah berarti aku akan bersikap seperti ini terus."
***
Fatimah menghubungi Dimas, padahal ia sudah berjanji tidak akan menghubungi Dimas. Fatimah mengingkari janji karena ia tidak tahan ingin bicara pada Dimas.
"Ngapain kamu telpon aku, kamu sudah berjanji tidak menghubungiku." ucap Dimas dengan suara pelan karena takut terdengar mumut.
"Aku kangen kak, aku merasa kamu sedang tidak bahagia dengan istrimu. Ayo kita ketemu yu sayang!"
"Maaf aku gak bisa."
"Kak, aku yakin ko kakak lagi butuh aku."
"Ya sudah tapi nanti." ucap Dimas dan langsung memutuskan sambungan telepon.
Dimas duduk di depan rumahnya sambil minum kopi, ia teringan pada sang mantan yang sangat cantik.
"Astagfirullah, kenapa aku jadi ingat dia." gumam Dimas dalam hati.
***
Fatimah pagi itu pergi ke tempat kosmetik, ia ingin membeli kecantikan agar ia semakin cantik. ia juga pergi ke butik untuk membeli baju. Ia akan membeli baju yang bagus. fatimah akan menggunakan baju itu pas dia bertemu Dimas meski belum tentu ketemunya kapan.
"Dimas pasti akan mengajak aku untuk bertemu. Aku sangat yakin." gumam fatimah.