
"Kamu, minum teh dulu sayang." titah mimi sambil memberikan teh hangat.
"Makasih bu!" ucap fatimah sambil tersenyum.
"Kenapa kamu hujan-hujanan nan sayang? kenapa tidak berhenti dulu sejenak? Ini kan semua bajumu basah dan pasti kamu kedinginan sayang." ucap mimi sambil mengelus kepala fatimah.
"Aku males berhenti bu, pengen cepat-cepat sampe rumah." ucap fatimah.
"Ya sudah ganti baju dulu sana nak! Nanti langsung nakan ibu sudah siapin makan untukmu." titah mimi dan fatimah segera masuk kamar untuk mengganti baju.
Usai ganti baju, fatimah membaringkan tubuhnya di kasur, ia menangis dan menyobek-nyobek poto-poto kenangannya bersama Rizal. Ia kesal tak mau poto itu ada lagi di kamarnya. Lelaki yang selama ini ia cintai ternyata berdusta.
"Poto ini ga pantes ada di kamarku lagi, aku ga sudi." gumam fatimah sambil melempar sobekan poto-poto kenangannya bersama Rijal.
Ada satu poto Dimas yang ia simpan, fatimah mengambilnya dan ia menatap poto Dimas dengan rasa sedih. Ia sudah menyia-nyiakan Dimas bertahun-tahun, ia merasa menyesal.
"Dimas, maaf kan, aku telah mengkhianatimu, dan maafkan aku yang sudah menyia-nyikanmu, memberi harapan palsu dan berpura-pura mencintaimu. kini aku sadar dengan apa yang telah terjadi, bahwa kamu lah yang terbaik. Aku rindu saat kamu menatapku, saat membaca suratmu, dan saat mendengar dakwahmu." gumam fatimah sambil menatap poto Dimas.
"Fatimah, buka pintunya! Kenapa kamu di dalam kamar saja? Sini keluar kita makan bareng!" titah iman sambil mengetuk pintu.
"Fatimah masih kenyang yah, ayah duluan aja makan!" ucap fatimah tidak membuka pintu kamarnya.
Iman pun kembali ke tempat meja makan menghampiri mimi yang sudah duduk di kursi makan.
"Kenapa fatimah tidak mau ke luar kamar dari sore?" tanya iman.
"Tidak tau yah, tadi dia hujan-hujanan, .mungkin dia kelelahan, nanti ibu rayu dia biar ke luar kamar." ucap mimi sambil mengambilkan nasi ke piring iman.
"Ko fatimah hujan-hujanan sih? Dia kan tak suka kalo kehujanan, kenapa bisa seperti itu?" tanya iman sambil mengerutkan keningnya.
"Ibu juga tidak tau, alasannya sih tadi dia buru-buru pengen cepat sampe rumah." ucap mimi.
kini sudah pagi, tapi fatimah belum ke luar kamar juga.
'Duh ... Perutmu lapar, makan ah.' batin fatimah lalu ke luar kamar.
"Akhirnya, anak ibu keluar juga, sini sayang sarapan dulu!" titah mimi yang akan membangunkan fatimah.
"Baru saja ibu mau ke kamar kamu, eh kamu nya sudah ke luar sayang." ucap mimi sambil tersenyum.
"Ayo, makan sayang!" titah mimi sambil tersenyum.
"Iyah bu, makasih." ucap fatimah sambil mengambil nasi.
"Kamu kenapa nak, ga keluar kamar dari sore?" tanya iman.
"Ga apa-apa yah, aku lagi pengen di dalem kamar aja, nanti juga kalo aku kapar aku pasti makan." ucap fatimah santai.
Usai makan fatimah pamit pergi, ia ingin menemui Dimas.
"Fatimah, kamu mau ke mana?" tanya iman, melihat fatimah sudah rapih dan memakai tas.
"Fatimah mau ke luar rumah sebentar, ada perlu sama temen." fatimah yang berusaha diam-diam ke luar rumah, ketahuan oleh ayahnya, fatimah mengira ayahnya sudah berangkat kerja ternyata belum.
"Ini kan, masih pagi, mau ke mana?" tanya iman sambil mengerutkan alisnya.
"Plis ayah, ini penting, aku janji jam 10 pagi udah pulang." Fatimah merengek agar di izinkan ayahnya ke luar rumah.
"Tapi sampe jam 10 aja, jangan lebih!" titah iman.
"Oke ... Yah, aku berangkat ya, ayah, ibu." ucap fatimah sambil mencium tangan iman dan mimi.
"Aku kan ga tau rumah istrinya Dimas, bagaimana aku bisa bertemu Dimas jika rumahnya tak tau." gumam fatimah.
Ia merenung memikirkan cara agar bisa bertemu Dimas.
"Ah... Aku kan, punya no hp Dimas, aku akan pura-pura jadi Rian." gumam fatimah ketika sudah mendapat ide.
Fatimah mengirim pesan, ia berpura-pura menjadi Rian.
("Assalamualaikum, Dim, ini aku Rian, aku ganti nomer baru, aku mau ke rumahmu, tapi motorku bodong, aku mau lewat jalan kota, tapi ada polisi sedang mengadakan rajia. Tolong kirimkan alamat mu lagi aku mau lewat jalan tikus ke rumahmu.") fatimah mengirim pesan, ia membohongi Dimas agar bisa ke rumahnya.
("Waalaikumsalam, oke aku kirim yan. Nanti kalo kamu sudah sampe jalan rel kereta kamu lulus aja.") Dimas sudah mengirim alamatnya ke fatimah.
Fatimah langsung berangkat mengikuti google maps alamat rumah Dimas.
"Akhirnya aku bisa menemui kamu Dimas, aku yakin aku masih nencintaiku." gumam fatimah.
Fatimah sudah sampai di rumah Dimas, ia mengetuk pintu.
" Tok! Tok! Tok!, assalamualaikum." ucap salam Fatimah sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," jawab salam Dimas sambil membuka pintu.
Ketika pintu sudah di buka, Dimas kaget dengan adanya fatimah di depannya.
"Fatimah, kenapa kamu bisa ada di sini!" ucap Dimas kaget.
"ka, kamu sehat?" tanya fatimah sambil tersenyum lebar.
"Alhamdulilah aku sehat, ada apa kamu ke sini?" tanya Dimas dengan wajah malas.
"Apa ada istri mu di dalam?" tanya fatimah.
"Ga ada, mau apa kamu ke sini? dari mana kamu tau alamat rumah ini." tanya Dimas tanpa melihat wajah fatimah.
"Maaf mas, tadi aku yang kirim pesan ke kamu, aku berpura-pura jadi Rian, karena aku ingin bertemu denganmu, aku rindu kamu!" ucap fatimah dengan wajah sedih.
"Rindu?" tanya Dimas sambil mengerutkan alisnya.
"Iyah ... Aku rindu kamu ka! apa kamu tidak rindu aku? Apa kamu sudah mencintai istrimu?" tanya fatimah sambil menatap wajah Dimas.
"Fat, maaf, aku ini sudah punya istri, jadi kamu ga baik datang ke rumah suami orang." ucap Dimas sambil menatap wajah fatimah.
"Kamu masih mencintaiku kan? aku ingin kamu bersamaku lagi, aku ingin kamu menceraikan istrimu dan kita kembali lagi seperti dulu." ucap fatimah tanpa rasa malu.
"Maaf fat, tidak segampang itu, mumut bukan seperti barang yang bisa di buang kapan saja, jika kamu ada di posisi dia, apa kamu mau di buang begitu saja? Pasti kamu juga tak mau kan?" tanya Dimas.
"Kenapa kamu bela dia, apa kamu sudah mencintainya?" tanya mumut dengan wajah kesal.
"Fat, memang dulu aku sangat mencintaimu, bertahun-tahun aku mencintaimu, tapi kini perasaan cintaku ke kamu hilang begitu saja, aku juga tidak tau, selama aku menikah dengan mumut, aku mengenalnya, lama-kama aku jadi suka. Jadi maaf fat, kamu jangan datang lagi ke sini ya! Bukannya kamu sudah punya hendrik?" tanya Dimas.
"Hendrik putusin aku ka." ucap fatimah bohong. Ia ingin Dimas merasa kasian padanya, padahal Dimas sudah tau ceritanya.
"Oh .... Ya udah kamu pulang ya! Ga baik perempuan datang ke rumah suami orang, nanti banyak fitnah, mungkin kita bukan jodoh fat, aku doain kamu agar cepat punya pengganti aku yang benar-benar tulus mencintaimu." ucap Dimas lalu menutup pintu.
"Ka .... Ka .... Ka, buka pintunya! aku rindu kamu!" ucap fatimah sambil bercucuran air mata, ia menangis tersedu-sedu. Tapi Dimas tak membuka pintu, padahal Dimas mendengar fatimah menangis.
'Maaf 'kan aku fatimah, semua sudah terjadi, aku cuma bisa doain kamu.' batin Dimas.
Karena Dimas tak membuka pintunya, fatimah pun pergi, dalam perjalanan mengendarai motor, ia menangis mengingat semua kenangan masa lalunya bersama Dimas yang tulus mencintainya.
'Aku akan terus berusaha untuk kita kembali lagi Dimas, aku yakin di hatimu masih ada aku.' batin Fatimah yang belum menyerah.