
Iman dan mimi kini sudah mengetahui masalah putrinya. Mereka sedih mendengar cerita imas tentang putrinya. Iman tidak menyangka jika putrinya telah dikhianati laki-laki. Kini iman dan mimi sudah di rumah, mereka ingin menanyakan baik-baik pada fatimah.
"Ayah, ayo kita tanya sekarang ke fatimah! Ibu ingin dengar langsung dari mulutnya."
"Sabar bu, tunggu fatimah ke luar dulu. Nanti kalo dia lagi santai kita tanya dia."
"Ibu pengen cepat-cepat yah."
"Sabar bu, jangan langsung tanya cari waktu yang senggang."
mimi yang sudah tidak sabar ingin mendengar dari mulut putrinya sendiri apakah benar yang di ceritakan imas. Iman percaya imas, karena menurutnya imas itu teman yang baik. Fatimah ke luar dari kamarnya menuju ruang tamu, ia duduk di kursi sofa sambil ngemil kue.
"Ayah, itu fatimah sepertinya sedang santai. ayo yah kita tanya!" ucap mimi ketika melihat fatimah sedang santai.
"Iyah, bu."
iman dan mimi pun menghampiri putrinya. Kini karena sedang duduk di sofa bersama fatimah.
"Kamu lagi apa sayang?" tanya mimi basa basi tidak mau langsung bertanya ke tujuan utama.
"Eh ibu, ayah, fatimah lagi santai."
"Enak ga kuenya sayang?" tanya iman.
"Enak, ayah. Ini ayah beli di mana?" tanya fatimah.
"Beli di toko kue kesukaanmu nak." ucap iman sambil tersenyum.
"Pantesan enak banget."
Iman dan mimi ingin mulai bertanya, tapi fatimah tiba-tiba bertanya duluan. Fatimah bertanya tentang masa depannya.
"Ayah, ibu, fatimah ingin jadi pengusaha aja lah. Apa ayah mau kasih modal padaku?"
"Kamu mau usaha apa nak?" tanya iman.
"Aku ingin buka toko kue yah, aku 'kan suka kue dan aku juga bisa bikin beberapa kue, nanti aku tinggal belajar lagi."
"Boleh saja, ya sudah berarti kamu harus belajar bikin kue lagi nak."
"Tapi ayah mau 'kan kasih modal ke aku? Aku mau toko kuenya yang besar."
"Insya allah ayah mau sayang yang penting kamu ada kemauan, tapi ada satu syarat."
"Apa ayah?" tanya fatimah sambil mengerutkan alisnya.
"Kamu harus lulus dulu dari pesantren psk kiai ahmad."
Syarat yang iman beri tidak mudah untuk fatimah. Ia tidak mau lagi ke pesantren, tapi karena iman mau memberikan modal fatimah jadi ingin kembali ke pesantren lagi.
"Tapi, kalo pindah pesantren boleh ga yah?
"Ga boleh, ayah maunya kamu di pesantren pak kiai ahmad, karena ayah sudah percsya pak kiai ahmad dan pesantren pak kiai ahmad sangat bagus cara belajarnya. Gurunya pun cerdas dan baik. Aya ingin kamu di situ sampe lulus setelah lulus ayah janji akan buatkan toko kue yang besar untuk mu sayang."
Mendengar ucapan iman fatimah tertarik, tapi ia tidak langsung ambil keputusan. Ia butuh waktu dulu untuk memikirkannya.
"Kenapa kamu mau pindah sayang?" tanya iman santai.
"Aku bosen di situ yah."
"Kan ada imas temanmu yang paling baik." ucap iman sambil tersenyum.
"Iyah sih ada imas, tapi aku bosen di situ yah."
"Pokoknya kalo kamu mau ayah bikinin toko kue yang besar syaratnya kamu harus lulus dari pesantren pak kiai ahmad." keinginan iman untuk fatimah itu yang terbaik meski ia harus membuatkan toko kue yang besar.
"Iyah nak, ayah boleh bertanya padamu sayang?" tanya iman.
"Tanya apa ayah?"
"Apa kamu sudah punya kekasih baru sayang?" tanya iman sambil tersenyum, sementara mimi dari tadi hanya terdiam. Mimi tidak mau banyak bicara biar iman saja yang bertanya, karena iman lebih pandai.
"Ko ayah tanya gitu sih." ucap fatimah sambil ketawa.
"Ayah 'kan pengen cepat liat kamu nikah sayang."
"Tadi katanya ayah suruh aku pesantren lagi, gimana sih yah?"
"Kalo calon suami ya harus punya nak, kalo udah punya 'kan setelah kamu lulus dari pesantren ayah nikahin" ucap iman sambil tersenyum.
"Fatimah belum mau nikah ayah. Fatimah hanya mau nikah de _ dengan." ucap fatimah tidak di lanjut.
"Dengan siapa nak? Dengan Dimas?"
Fatimah tidak menjawab pertanyaan ayahnya, ia menundukkan kepala dan terdiam. Iman sudah tau jawaban putrinya meski fatimah tidak menjawab.
"Tapi Dimas sudah menikah nak, memangnya kamu mau jadi istri ke dua Dimas?" pertanyaan iman membuat fatimah mengerutkan keningnya.
"Mau ga nak kamu jadi istri ke dua Dimas, kalo mau nanti ayah akan bicara baik-baik pafa Dimas."
"Ga mau ayah. aku hanya ingin jadi istri satu-satunya Dimas."
"Tapi Dimas sudah punya istri nak, Dimas laki-laki sholeh mana mungkin mau ceraikan istrinya."
"Ya sudah, berarti ayah jangan bantu aku." ucap fatimah lalu pergi meninggalkan iman dan mimi menuju kamar.
"Fatimah ayah belum selesai bicara." ucap iman menahan amarahnya, iman mencoba sabar menghadapi putrinya.
"Sudah yah! lagian ayah kasih pertanyaan itu ke fatimah, mana ada yah seorang perempuan yang mau jadi istri ke dua, apa lagi putri kita cantik." ucap mimi.
"Ayah 'kan ingin anak kita bahagia bu."
"Bukan dengan cara seperti itu yah."
***
Mumut mengganti sprei kasurnya, setiap satu minggu sekali ia mengganti sprei kasurnya. tapi kali ini ia mengganti sprei yang berbeda. Biasanya mumut mengganti sprei dengan warna kesukaannya saja, tapi kali ini, ia mengganti sprei dengan warna ijo daun kesukaan Dimas. Sprei yang di pakai juga seprei merek kendra. Sprei merek kendra bagus dan juga bahannya halus.
"Wah, sprei nya bagus sayang, lembut. Aku juga suka warnanya! Kamu tau aja wzrna kesukaanku sayang." ucap Dimas saat memasuki kamar lalu Dimas langsung tiduran di kasur tersebut.
"Iyah dong, sayang, biar kamu seneng." ucap mumut sambil tersenyum.
"Iyah dong, kalo istri buat senang suaminya dapet pahala gede sayang." ucap Dimas sambil merayu.
"Bisa aja kamu mas."
"Benet sayang, ada kitabnya juga. apa lagi kalo istri layani suami sekarang juga, pahalanya makin besar." Dimas merayu mumut agar mau bercinta di siang hari.
"Nanti malam aja mas, aku mau bobo siang dulu." tolak mumut.
"Hum. Berarti ga mau pahala besar. Di saat suami lagi kepengen istri malah nolak, dosa sayang." ucap Dimas terus merayu mumut.
"Diem ih. Aku mau tidur siang dulu mas. Nanti bercintanya malam aja." ucap mumut.
"Hum.
Dimas pun tidak mau paksa istrinya, meski ia ingin sekali bercinta. Hasrat ingin bercinta sudah tidak kuat akhirnya dia cuma bisa memeluk mumut dari belakang sambil tidur. Tapi sebenarnya Dimas tidak ngantuk, dia hanya ingin menemani mumut tidur siang.
"Aku ga ngantuk, aku temani mumut aja sambil peluk dia, aku harus tunggu sampe malam, aku ga mau paksa istriku, kasiyan takut dia cape." gumam Dimas dalam hati.