PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Dimas Ngidam


Sepulang Dimas berdakwah tiba-tiba ia ingin rujak dan buah durian. Rasa itu tidak bisa di tahan lagi seperti.


"mut, kica cari rujak dan duren yu! Aku lagi pengen banget makan itu." titah Dimas mendekati mumut yang sedang asyik makan buah.


"Kamu cari sendiri aja mas, aku lagi males ke luar rumah, apa lagi ini tengah hari panas banget."


"Sayang, ayolah, aku pengen belinya sama kamu dan langsung di makan di sana."


"Aku 'kan ga boleh makan duren mas."


"Kamu temani aju aja sayang atau kamu beli es krim aja."


"Humm. Ya sudah."


***


Mereka kini sedang berada di tukang rujak tempat dulu mumut membeli rujak saat dia sedang ngidam. Dimas sangat menikmati rujak tersebut tanpa menawari istrinya.


"Mas, kamu lagi ngidam mungkin, tapi ko ngidamnya saat perutku udah enam bulan, biasanya 'kan kalo suami ikut ngidam pas pertama hamil."


"Iyah, mungkin aku lagi ngidam sayang, karena aku tiba-tiba pengen banget makan rujak dan duren. Nanti abis ini kita ke tempst duren ya!" mendengar ajakan suaminya mumut pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


***


Sudah habis makan rujak, kini menuju ke tempat duren, duren yang di jualnya duren di pinggir jalan, kebetulan lagi musim furen jadi mudah di carinya. Sebelum berhenti di tempat duren mereka berhenti dulu di toko Indomaret membeli es krim untuk mumut.


"Mas, kamu aja yang masuk sana! Aku tunggu di sini. Beli es krimnya tiga es krim magnum rasa coklat semua!"


"Banyak banget mut, ga boleh banak-banyak sayang."


"Pokoknya aku mau tiga."


Es krim itu langsung di makan mumut saat di bonceng Dimas menuju tempat duren. Saat sudah sampai di tukang duren, Dimas langsung memilih Duren yang manis. Dimas pandai memilih duren, karena ia waktu kecil suka di ajarin kakeknya saat masih punya kebun duren.


"Em, mantep ini manis banget." ucap Dimas saat makan duren sedangkan mumut hanya memperhatikannya, sebenarnya mumut juga pengen makan duren ia ga kuat cium wangi duren itu."


"Mau dong mas, dikit aja."


"Ga boleh. Orang hamil ga boleh makan duren."


"Dikit aja."


"Jangan!"


Mumut kasiyan hanya bisa memperhatikan suaminya yang sedang asyik menyantap duren. Sementara mumut sedang mengabiskan es krimnya sambil membayangkan es krim itu buah duren.


"Kamu tega mas, ajak aku ke sini cuma dapet baunya doang." ucap mumut sambil cemberut.


"Nanti kalo anak kita sudah lahir dapat beberapa bulan baru kamu makan duren. Nanti aku puasin sayang." ucap Dimas sambil tesenyum.


***


"Fatimah sini duduk! Ayah mau bicara padamu." fatimah pun mendekat dan duduk di samping iman dan mimi.


"Ada apa ayah?"


"Coba kamu cerita sama ayah dan ibu apa masalahmu nak? Jangan di pendam sendiri aja, ayah dan ibu ini orang tua kamu jadi kalo ada apa-apa coba cerita, insya allah ibu dan ayah pasti bantu nak." ucap iman tidak marah, ia merayu putrinya agar mau cerita, meski sebenarnya hatinya kesal dengan tingkah fatimah yang kemarin. Tapi karena pak kiai ahmad sudah mengingatkan jangan di marahi fatimah jika sudah pulang. Iman pun menahan rasa marahnya demi putrinya.


"Masalah apa ayah? Aku tidak ada masalah apa-apa, aku pergi dari rumah, karena ingin cari hiburan."


"Maaf ayah ibu, karena kalo fatimah izin pasti ayah ga bakal izinin fatimah pergi."


"Kamu selama dua malam nginep di mana?" tanya iman dengan santai menahan amarahnya.


"Di rumah teman ayah." mendengan ucapan putrinya iman tau jika itu bohong, karena semua teman fatimah sudah di datangi semua. Iman pun hanya pura-pura tidak tau saja tanpa bicara dan iman semakin yakin bahwa putrinya sedang ada masalah, namun tidak mau cerita.


"Ya sudah kamu istirahat sana! Nanti makan siang bareng ibu dan ayah." ucap iman.


"Iyah ayah."


Iman dan mimi mencurigai putrinya memiliki masalah, tapi mereka tidak mau memaksa putrinya untuk cerita. mereka akan mencari tau sendiri atau akan bertanya pada imas.


"Bu, ayah yakin fatimah pasti sedang ada masalah."


"Iyah ayah, ibu juga yakin, karena tidak biasanya seperti itu fatimah."


"Apa fatimah seperti itu gara-gara di tinggal nikah Dimas? Nanti kita ke pesantren pak kiai ahmad kita temui imas, mudah-mudahan imas tau masalah fatimah. Ayah tidak mau fatimah memendamnya sendiri, kita sebagai orang tua harus bantu."


"Iyah ayah, ibu ga mau fatimah seperti itu terus. Ibu pengen fatimah seperti dulu lagi dan kembali ke pesantren lagi."


Fatimah kini sedang berada di dalam kamarnya, ia mencoba menghubungi Dimas lagi. Sampe 60 panggilan tidak dapat di hubungi. Ia kesal lalu membanting hpnya ke kasur.


"Dimas pasti ganti nomernya. Dimas aku harus dapatkan kamu." gumam fatimah.


Fatimah ke luar dari kamarnya menuju meja makan, iman dan mimi sudah menunggunya. lalu fatimah duduk di samping mimi dan langsung mengambil nasi.


"Makan yang banyak ya sayang." ucap mimi sambil tersenyum.


"Iyah bu."


"Fatimah, ayah dan ibu ada keperluan sebentar kamu jangan ke mana-mana ya!"


"Memangnya ibu dan ayah mau kemana?" tanya fatimah.


"Ayah dan ibu mau kondangan."


"Hum."


Mendengar ayah dan ibunya akan pergi hati fatimah sangat senang, karena ia bebas untuk pergi ke luar rumah menemui Dimas. Tapi iman mengunci pintu rumahnya dan kunci motor milik fatimah di diumpetin. jendela kamar fatimah sudah di beri tralis agar fatimah tidak bisa kabur lagi lewat jendela.


"Kenapa pintu rumah di kunci? Ya udah aku ke luar lewat jendela kamarku saja." gumam fatimah.


Saat ia memasuki kamarnya, lalu ia membuka hordeng kamarnya. Ia kaget melihat jendela kamarnya di tralis. Lalu fatimah melihat jendela bagian ruang tamu. Dan jendela ruang tamu pun kini di beri tralis. Semua jendela rumahnya di beri tralis.


"Kenapa semua jendela rumah di beri tralis, gimana aku mau bisa ke luar rumah." gumam fatimah.


Fatimah tidak bisa ke luar rumah, ia kesal dan marah-marah sendiri. Ia membanting piring yang ada di dapur.


"Dasar ayah kenapa aku di kurung di rumah." gumam fatimah sambil membanting piring.


Fatimah pun kembali ke kamarnya, ia menangis sekencang-kencangnya. Ia juga menatap poto Dimas dan memeluk poto Dimas.


"Ka, aku sayang kamu, aku ingin kamu kembali bersamaku." gumam fatimah sambil memeluk poto Dimas.


Dua jam fatimah menangis, iman dan mimi kembali pulang. Melihat ada pecahan piring di dapur, mimi langsung mengetuk pintu kamar fatimah, tapi fatimah tidak mau membukanya.