
"Kaka makasih ya udah mau ikut aku." ucap fatimah.
"Ya udah kamu ngomong sekarang! Aku ga bisa lama-lama bersamamu.
"Kita pesan minum dulu ka!" titah fatimah sambil tersenyum.
"Kamu aja, aku engga!"
"Ga apa-apa ka, aku pesanin aku yang bayar."
"Ga usah." tolak Dimas.
"Kalo kaka ga mau pesan aku juga engga lah." ucap fatimah sengaja pura-pura tidak mau pesan minuman agar Dimas merasa tidak enak dan ikut pesan juga.
"Ya udah terserah kamu."
Fatimah memanggil pelayan kape, untum memesan minuman. Tapi fatimah izin ke toilet, ternyata fatimah bukan mau ke toilet, tapi ia ingin mengambil minuman yang akan di beri ke Dimas.
"Bang, sini minumannya saya yang antar."
"Saya aja mba, saya 'kan, pelayan di sini ga enak kalo mba yang anterin."
"Udah ga apa-apa kalo bos mu liat dan kamu di marahin aku yang akan tanggung jawab." ucap fatimah pelayan itu hanya menganggukkan kepalanya.
Fatimah memberikan obat tidur untuk Dimas, ia ingin menjebak Dimas. Rencana ini sudah lama ia inginkan, dan kita rencananya akan berhasil.
"Kamu hanya milik aku, aku yakin dengan cara ini si mumut akan minta cerai dan ninggalin kamu. Dan kamu akan menjadi milik aku selamanya." ucap fatimah dengan senyum licik di bibirnya sambil memasukan obat tidur ke minuman Dimas.
***
Sementara iman dan mimi sedang khawatir mencari putrinya, sampai iman ingin melaporkan kejadian ini. Iman dam mimi kini masih berada di taman bunga mencari ke sana sini mengelilingi taman bunga yang sangat besar.
"Bu, kita harus laporkan ke polisi, ayah ga mau ada apa-apa dengan putri kita!" titah iman.
"Ini belum 24 jam pak, biasanya kalo belum 24 jam polisi belum bisa menerima laporan." mendengar ucapan mimi, iman hanya menganggukkan kepalanya.
"Yah, ibu laper, kita makan dulu yu!" titah mimi.
"Iyah bu .... Ayah juga lapar." ucap iman yang juga sama lapar.
orang tua yang setengah paruh baya itu pergi ke tempat makan yang ada di taman bunga. Iman memesan soto ayam dan mimi memesan pecel ayam. Fatimah bener-bener tega pada orang tuanya yang sedang kesusahan mencarinya.
"Yah, nanti kita cari lagi ya fatimah!" titah mimi.
"Iyah bu, kita makan dulu."
Usai makan iman dan mimi mencari fatimah lagi. Kini sudah jam setengah sembilan tapi mereka tidak menemukan fatimah. Mimi yang sudah sangat lemas ia tak sanggup untuk mencari lagi, matanya juga sudah ngantuk.
"Yah ... Kita pulang aja yu, atau cari fatimah di tempat lain.!" titah mimi.
"Ayah ga mau pulang sebelum menemukan fatimah. Di rumah juga percuma ayah ga bakal bisa tidur mikirin fatimah. Kalo gitu kita cari di tempat aja ya."
"Kita ke toko kue yu, fatimah 'kan suka makan kue di toko kota bogor!" titah mimi.
"Ibu tau tempatnya?" tanya iman.
"Tau pak."
***
Iman dan fatimah pun bergegas keluar dari taman bunga itu menuju toko kue, dalam perjalanan 20 menit mereka sudah sampai. Mereka langsung masuk ke dalam toko kue, mata iman dan mimi tengok kanan, kiri.
"yah .... ga ada bu, coba kita ke lantai atas siapa tau fatimah ada di atas!" titah iman.
Sampai di atas mereka lirik kanan dan kiri, tapi tidak ada fatimah. Iman dan mimi pun turun lagi ke lantai bawah mencari-cari fatimah lagi, sampai menanyakan pada pelayan toko kue.
"Mas, liat orang ini ga?" tanya iman pada salah satu pelayan sambil memperlihatkan poto fatimah.
"Ini .... Tadi perasaan ada di sini makan kue." ucap pelayan.
"Terus adek liat ga ke mana perginya perempuan ini?" tanya iman.
"Saya ga tau pak, sekita Maghrib perempuan itu keluar dari kafe ini." ucap pelayan menegaskan.
mendengar ucapan pelayan, iman semakin semangat mencari fatimah. Ia meminta pada semua pelayan toko kue jika ada fatimah makan kue ke toko lagi tolong segera menghubunginya. Iman juga bertemu dengan pemilik toko tersebut untuk meminta tolong agar semua karyawannya menghubunginya kika ada fatimah.
"Pak, saya minta tolong ya jika ada perempuan ini datang ke toko kue bapak lagi tolong segera hubungi saya. Saya juga sudah bilang ke semua pelayan bapak jika ada perempuan ini tolong hubungin saya."
"Iyah pak, memang perempuan itu siapnya bapak?" tanya pemilik toko kue.
"Ini anak saya pak, sore tadi pergi, tapi tanpa sepengetahuan saya. saya dangat khawatir pak." ucap iman.
"Sabar pak, mungkin anak bapak main ke rumah temannya."
"Saya sudah menemui semua teman anak saya, tapi tidak ada yang tau."
Mimi yang sudah lemas menyandarkan tubuhnya di kursi yang ada di toko tersebut. Iman menghampiri mimi dan mengantarkannya pulang.
"Bu ... Ibu lemas ya? Ayo ayah antarkan pulang aja, biar ayah aja yang mencari fatimah." titah iman.
"Ayah juga mending pulang, nanti besok pagi kita lanjut mencari fatimah."
"Ayah enggak bisa bu, mana bisa tidur ayah di rumah jika fatimah belum ketemu."
"Ibu juga ga mau pulang kalo ayah ga pulang.
"Ibu jangan gitu, nanti ibu sakit, ayah aja yang cari fatimah sendiri."
Mimi memang gampang lemas, karena ia memiliki penyakit gula. Mimi tak bisa kecapean dan jika ia banyak pikiran ia juga bisa pusing kepalanya. Akhirnya mimi di antarkan pulang oleh iman dan iman balik lagi mencari fatimah.
"Ya allah semoga aku bisa menemukan putriku. jaga puriku ya allah." gumam iman dalam hati.
***
"Kaka, ini minumnya, silahkan di minum!" titah fatimah sambil menyerahkan minuman pada Dimas.
"Ko, kamu yang antar? Kenapa bukan pelayannya?" tanya Dimas dengan wajah curiga.
"Tadi aku kebetulan ketemu pelayannya, jadi sekalian aja aku yang antar." ucap fatimah sambil tersenyum.
"Oh." ucap Dimas sambil melihat minuman yang ada di hadapannya.
Dimas tidak langsung minum, ia meneliti minuman itu dan membaca doa. Setelah ia membaca doa, ia tidak mau minum minuman itu. Sementara fatimah terus merayu Dimas agar mau minum.
"Ayo Kaka di minum!" titah fatimah sambil tersenyum.
"Iyah, banti aja."
"Sayang ka, kalo ga di minum, mubajir, ini minumannya enak loh ada rasa kopinya gitu." ucap Fatimah merayu Dimas.
"Iyah, nanti juga aku minum.
Fatimah kesal dengan Dimas yang belum juga minum minumannya. ia merasa rencananya akan gagal.
"Apa Dimas tau ya, kalo dalam minuman itu ada obatnya." gumam fatimah dalam hati.
Dimas pun hanya terdiam melihat tingkah Fatimah yang manis di depan tapi hatinya jelek. Dimas tau kalo minuman itu ada obat tidurnya, ia tau setelah membaca doa yang di kasih pak kiai ahmad waktu di pesantren. Doa itu bisa melihat ada racun dalam minuman atau makanan. ilmu itu sudah Dimas kuasai waktu masih di pesantren untuk menjaga diri.