PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Teringat


Pagi jam setengah enam, lela sudah di suruh ke pasar oleh mumut. Ia di suruh belanja sayuran. Namun saat lela ingin mengganti jilbabnya ternyata mumut mengintipnya dari pintu kamar yang terbuka sedikit. Saat lela membuka kaca matanya, mumut teringat pada seseorang yang pernah ia temui.


"Astagfirullah, dia 'kan si fatimah, tapi ah gak mungkin fatimah kan putih, cantik dan di pipinya juga tidak ada tai lalatnya." gumam mumut.


Mumut langsung kembali duduk di sofa agar tidak di ketahui lela. Mumut sangat kaget dan merasa abah pada lela.


"Mengapa saat di buka kacamatanya mirip sekali dengan fatimah?" gumam mumut dalam hati.


Mumut memberikan uang belanjaan kepada lela. Lela di beri uang 1 juta untuk membeli kebutuhan pokok beras, dan lain-lain. lela ke pasar di suruh naik angkot saja, mumut tidak mau jika motornya di pake orang asing.


"Ya udah kamu belanja sana! kamu naik angkot saja ya!"


"Iyah gak apa-apa bu." ucap lela sambil tersenyum.


"Lela, kamu bisa mengendarai motor?" tanya mumut.


"Bisa sih bu, tapi kurang lancar."


"Tapi kalo ke pasar 'kan bisa lewat jalan tikus, kamu bisa kira-kira?"


"Bisa bu, insya allah."


"Hum. Ya udah berangkat sana, meskipun bisa saya gak akan penjamin motorku padamu."


"Baik bu." ucap lela sambil mengangguk lalu pergi ke pasar.


Mumut duduk santai di sofa sambil minum susu bumil, mumut juga mengusap-usap perutnya dan mengajak bicara anaknya di dalam perut. Mumut sudah tidak sabar ingin segera melihat anaknya.


"Tolong buatkan kopi untukku mut!" ucap Dimas.


"Iyah mas."


"Kamu suruh lela bikinin aku pisang goreng!"


"Iyah, tapi lela lagi ke pasar mas, biar aku aja ya yang buatin." ucap mumut sambil tersenyum.


"Tidak usah, kamu buatkan aku kopi saja, Kamu istirahat saja! kamu jangan kecapean karena bentar pagi kamu mau melahirkan."


Mumut membuatkan kopi Dimas, ia memberikan kopi itu dengan senang hati. Pagi itu Dimas perhatian padanya dan sedikit senyum.


"Ini mas kopinya." ucap mumut sambil menaruh kopi di meja.


"Iyah, makasih ya! Kamu sarapan belum?" tanya Dimas sambil tersenyum.


"Udah mas, tadi aku udah minum susu dan makan roti."


"Tapi kamu belum makan nasi, itu berarti belum sarapan. Kalo orang suda kalo belum makan nasi itu artinya belum makan."


"Mas bisa aja." ucap mumut sambil tersenyum.


"Iyah, bener, orang sunda memang begitu, aku kan orang sunda."


Dimas pagi itu perhatian pada istrinya dan tidak cuek lagi. Dimas menjadi seperti itu karena ia di nasehati pak kiai ahmad. Saat ia ke rumah pak kiai ahmad ia bercerita tentang mumut bahwa istrinya menyembunyikan sesuatu darinya. Pak kiai ahmad menasehati Dimas agar selalu baik pada istri meski istri belum mau jujur. Dan pak kiai ahmad juga meyakinkan Dimas bahwa yang di sembunyikan mumut bukan hal yang buruk tapi demi kebaikan rumah tangga.


"Ya allah ampuni dosaku, karena aku telah berbuat salah pada istriku." gumam Dimas dalam hati.


Dimas dan mumut duduk di sofa, mumut menyandarkan kepalanya di bahu Dimas dan Dimas mengelus-elus perut istrinya sesekali mencium kening mumut. Mumut bahagia karena suaminya kembali baik padanya.


"Mas, kamu udah maafin aku?"


"Udah sayang."


"Bener?"


"Iyah."


"Meski aku belum mau cerita rahasiaku padamu?"


"Iyah, meski kamu belum cerita tentang rahasiamu, aku sudah maafin kamu. Aku yakin kamu menyembunyikan sesuatu dariku demi kebaikan."


"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"


"Semua karena guruku."


"Maksudmu pak kiai ahmad."


"Iyah, pak kiai yang meyakinkan aku jika kamu menyembunyikan sesuatu dariku itu demi kebaikan dan aku sangat percaya guruku."


Di saat mereka sedang asyik bermesraan, lela datang tanpa mengetuk pintu. Dimas dan mumut kaget dan lela pun juga kaget ketika melihat majikannya sedang berciuman bibir.


"Maaf bu, pak.


"Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu? Gak sopan." ucap mumut.


"Maaf bu. Maaf 'kan saya." ucap lela sambil menundukkan kepalanya.


"Ya sudah, kamu masuk dapur sana!"


Mumut kesal karena lela melihat kemesraannya dengan suaminya. Mumut kurang suka pada lela karena menurutnya lela seperti bukan orang baik. Penampilannya saja seperti orang polos.


"Mas, aku mau ngomong ke kamu, ayo kita masuk kamar!"


"Ngomong apa? Di sini aja!"


"Gak mas, di kamar aja."


Dimas pun mengikuti kemauan istrinya. Mereka kita masuk kamar. Dimas langsung senyum-senyum tidak jelas, Dimas mengira istrinya ingin minta bercinta karena mumut membuka jilbabnya.


"Sayang ini masih pagi, aku juga belum sarapan, jadi gak ada tenaga buat goyangngin kamu nya." ucap Dimas sambil tersenyum.


"Maksud kamu apa sih mas?"


"Kamu mau bercinta 'kan?"


"Bukan sayang, aku cuma mau ngomong sesuatu."


"Oh, kirain aku kamu pengen." ucap Dimas lalu ketawa.


"Gini mas, aku sempat liat si lela gak pake kacamata, dia itu mirip banget sama mantanmu si fatimah."


"Hah, masa sih?" gak mungkin mut, lela itu kan item dan ada tai lalatnya di pipi sedangkan fatimah 'kan putih dan tidak ada tai lalatnya di pipi."


"Bisa aja dia nyamar supaya bisa dekat denganmu."


"Jangan berburuk sangka mut! Kita 'kan gak ada bukti, lagian man mau fatimah jadi pembantu dia itu orangnya manja."


"Tapi kenapa aku merasa dia itu bukan orang baik, kaya ada sesuatu gitu."


"Udah lah sayang, jangan di pikirin gak penting! Mending kamu siap-siap buat menghadapi lahiran anak kita. Kamu harus jaga kesehatan! jangan banyak pikiran! Ini dede bentar lagi keluar." ucap Dimas sambil mencium perut mumut.


"Iyah sayang."


Sesuai permintaan Dimas, ia ingin makan pisang goreng. Lela sudah membuatkannya Dan menaruh pisang goreng itu di meja kursi sofa.


"Ini pak, bu pisang gorengnya."


"Iyah, makasih ya." ucap Dimas.


"Kamu masakin aku sayur tumis bayam, goreng ikan kembung dan sambal terasi tapi sambelnya jangan pedas!" titah mumut.


"Baik bu." ucap lela sambil menganggukkan kepalanya.


Mumut mengintip saat lela masak, karena ia curiga pada lela, mumut takut jika lela berbuat jahat padanya dan suaminya. Dimas menghampiri mumut dan berbisik "Sayang jangan terlalu seperti ini, nanti kalo dia tau jadi gak enak."


"Aku curiga mas." ucap mumut dengan suara kecil.


"Iyah, karena kamu berburuk sangka padanya. Coba kalo tidak berburuk sangka gak akan ngintip dia seperti ini." ucap Dimas dengan suara kecil.


Makanan sudah jadi dan di sajikan di meja makan, lela menyuruh makan majikannya. Mumut langsung kembali buru-buru duduk ketika lela hendak berjalan.


"Bu, pak makanan sudah jadi, silahkan makan!"


"Iyah, saya mau makan, ayo mas kita makan!"


Mumut segera makan, karena ia yakin masakan yang di masak lela tidak ada racunnya karena ia mengintip saat lela masak sampai selesai. Entah kedepannya akan seperti apa? Masa mumut harus setiap hari mengintip saat lela sedang masak.


"Enak juga masakan si lela." gumam mumut saat makan.


"Enak ya sayang." ucap Dimas.


"Enakkan masakanku." ucap mumut dengan wajah cemberut karena tidak suka jika suaminya memuji masakan orang lain.


"Iyah enak 'kan masakanmu sayang." ucap Dimas sambil tersenyum.