PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Pergi Malam


Malam sekitar jam 21:30. Mumut pergi untuk bekerja, ia yang sudah tidur harus bangun karena mendadak ada pekerjaan yang harus di selesaikan.



"Mas, bangun! Mas aku pamit kerja ya, aku di suruh ke tempat kerja sekarang, ada kerjaan mendadak." ucap mumut ketika Dimas sudah membuka mata.



"Ini sudah malam mut." ucap Dimas lalu bangun dari tidurnya.



"Iyh mas, tapi ini kerjaan mendadak, kalo aku ga datang pasti aku di marahin." mumut langsung mengganti baju dan memakai jilbab.



"Aku antar kamu ya!" ucap Dimas yang ingin mengantar mumut.



"Ga usah mas, aku sendiri aja."



"Tapi ini udah malam, aku khawatir sama kamu."


"Terima kasih mas, kamu udah mau khawatir sama aku, tapi aku sendiri aja berangkatnya, udah kamu tidur aja."


"Tapi mut." ucap Dimas dengan ekspresi khawatir.


"Udah aku berangkat ya mas, assalamualaikum." ucap mumut lalu mencium tangan Dimas.


"Waalaikumsalam, hati-hati mut!" ucap Dimas sambil melihat mumut di depan rumah yang akan pergi.



"Iyah mas," ucap mumut lalu pergi.


Mumut kerja malam jika ada pekerjaan mendadak, meski sudah malam ia harus tetap datang ke tempat kerja.


"Sebenarnya mumut kerja apa sih? kenapa hatiku tidak percaya kalo dia kerja jadi pembantu." gumam Dimas.


Dimas kembali tidur, sekitar jam tiga pagi ia bangun untuk melaksanakan sholat tahajud lalu berzikir dan mengaji.


Di saat ia sedang membaca al-quran, tiba tiba ada suara yang mengetuk pintu.


Tok ...



Tok ...



Tok ....


Dimas pun segera bangun, terdengar suara istrinya.


"Iyah, sebentar." ucap Dimas menghampiri mumut.



"Mas, tolong aku, perutku sakit," ucap mumut sambil memegang perutnya.



"Kenapa kamu mut? perutmu kenapa? ayo sini duduk dulu!" ucap Dimas sambil menggandeng mumut untuk duduk di sofa.


"Aduh ... Perutku sakit mas, sakit ... tolong ambilkan obat di laci lemariku mas!" ucap mumut sambil memegang perutnya.


"Ini minum mut." Dimas memberikan air putih dan obat.



"Makasih mas."



"Perutmu sakit mungkin kamu masuk angin mut." ucap Dimas sambil melihat wajah mumut yang sedang kesakitan.



"Aku ga masuk angin mas, aku mau ke kamar mandi dulu."



"Mut, kamu sedang haid ya?" tanya Dimas melihat darah di celana panjang berwarna pink yang di pakai mumut.


"Darah apa mas?" aku ga lagi haid ko."ucap mumut sambil memegang celananya.


"Ko berdarah ya!" ucap mumut kaget lalu ia langsung buru-buru menuju kamar mandi.


Dimas bingung dengan istrinya, mengapa mumut di celananya banyak darah sedangkan mumut tidak sedang haid, terus itu darah apa? Dimas berpikiran ke mana-mana.


"Terus itu darah apa ya?" gumam Dimas.


Mumut keluar dari kamar mandi dengan wajah ketakutan ia langsung menuju kamarnya, sedangkan Dimas hanya memperhatikannya di kursi sofa.


Subuh tiba, Dimas berwudhu untuk melaksanakan sholat. Ia melihat istrinya yang sedang tidur, Sepertinya mumut sangat lelah jadi Dimas tidak membangunkannya.


***


Dimas pergi ke mesjid untuk sholat subuh berjamaah. Usai sholat subuh ia berzikir dulu sampe jam 05:30.


***


Sampai di rumah, ia memasuki kamar melihat mumut masih tidur dan dimas melihat di celana mumut ada darah lagi.


"Mut bangun! Ini sudah pagi jam 05:30. Kamu ga sholat? Mut itu di celanamu ada darah lagi." ucap Dimas.



"Apa .... darah lagi! mumut langsung bangun karena kaget dan memegang celananya.


"Itu darah apa sih mut?" tanya Dimas.


"ga tau." ucap mumut lalu pergi ke kamar mandi.


Dimas jadi semakin bingung kenapa istrinya mengeluarkan darah terus.



"ga mas." ucap mumut dengan wajah ketakutan.



"Kenapa tidak mau mut? kalo terjadi apa-apa denganmu bagaimana?" tanya Dimas panik.



"Nanti juga darahnya ga ada lagi ko." ucap mumut dengan wajah ketakutan.



"Tapi mut." ucap Dimas.



"Sudah mas, aku ngantuk, aku cape bangunkan aku jam 7 ya, aku mau berangkat kerja!" ucap mumut dan langsung kembali tidur.


Dimas memikirkan mumut, ia khawatir. tapi mumut tak mau di ajak ke rumah sakit. Lalu Dimas seperti biasa ia pagi-pagi masak membuat sarapan untuk mereka makan.


Mumut yang hanya berpura-pura tidur, karena ia tak mau di tanya-tanya suaminya dan tak mau di bawa ke rumah sakit. Ia ingin menceritakan apa yang terjadi pada suaminya, tapi mumut tak berani.


"Kalo aku cerita sama Dimas apa mungkin ia akan terima aku? aku ga berani cerita, aku takut dia tinggalin aku." gumam mumut.


Jam tujuh pagi tiba, Dimas sudah selesai masak, lalu ia membangunkan istrinya untuk sarapan.


Mendengar suara langkah kali Dimas menuju kamarnya, mumut kembali berpura-pura tidur.


"Mut bangun, ini sudah jam tujuh, kamu sarapan dulu ya!" titah Dimas.



"Iyah mas," ucap mumut lalu bangun dari tidurnya menuju kamar mandi.


Dimas menunggu mumut di meja makan, ia ingin sarapan bareng bersama istinya. Tapi mumut tidak mau sarapan ia langsung pamit kerja.


"Mas, aku berangkat ya." ucap mumut menyalimi tangan suaminya.


"Kamu sarapan dulu mut! aku kan sudah masak untukmu." ucap Dimas.


"Maaf mas, aku buru-buru, nanti aku sarapan di sana aja." ucap mumut lalu pergi.


"Mut tunggu! kamu masih keluar darah lagi ga?" tanya Dimas.


"Udah ga mas." ucap mumut dengan wajah ketakutan.



"nanti kita ke rumah sakit ya."



"Maaf mas, aku buru-buru." ucap mumut yang langsung menyalakan motor lalu pergi.


Dimas akhirnya sarapan sendiri, padahal ia ingin sarapan bareng istrinya.


"Ya udah lah, aku sarapan sendiri aja, aku bingung dengan mumut seperti menyembunyikan sesuatu dariku." gumam Dimas.


Ketika Dimas sedang asik main Hp tiba-tiba ada panggilan telepon. Ia melihat di layar ponselnya tulisan mumut.


("Mas, bisa tolong aku ga? tas aku yang ada di kamarku tolong antarkan ke pasar sekarang juga, aku tunggu di depan pasar, aku mau balik lagi ke rumah males, karena motorku mogok dan aku titip di bengkel. Kamu ke sini naik ojek atau angkot ke yang penting secepatnya sampe.")



("Kamu di pasar mana mut?") tanya Dimas.



("Aku di pasar terdekat kampungku. Buruan kamu ke sini mas.")



("Iyah, aku ke sana sekarang naik ojek aja biar cepat sampe")



("Iyah, hati-hati mas.") ucap mumut lalu memutuskan sambungan telepon.


Saat Dimas membawa tas tersebut, tas itu terbuka tidak di tutup resletingnya. Dimas tak sengaja melihat ada sertifikat sawah di tas itu , lalu ia melihatnya dan sertifikat itu atas nama mumut.


"Ternyata mumut punya sawah juga." gumam Dimas.


Dimas langsung mencari ojek dan pergi ke pasar untuk menemui mumut. Sampai di pasar ia memberikan tas itu pada mumut.


"Ini mut tas nya, kalo boleh tau tas itu isinya apa sih mut ko kayak penting banget? tanya Dimas sambil menyerahkan tas itu.



"Tas ini isinya cuma ada buku aku mas, tulisan belanjaan majikanku, karena bosku ingin aku tulis semua setiap aku belanja keperluan rumah." ucap mumut sambil tersenyum.



"Terus ini kamu mau belanja ke pasar untuk keperluan rumah bosmu?" tanya dimas lagi.



"Ga mas, stock keperluan majikanku masih banyak, jadi aku mau langsung ke rumahnya aja. bukunya mau aku taro aja di rumah bosku, kalo di taro di rumahku suka lupa bawa."



"Oh." ucap Dimas.



"Ya udah aku pamit ya mas," ucap mumut sambil mencium tangan suaminya.


"Kamu pergi naik apa?" tanya Dimas.


"Itu ojek sudah nunggu aku mas, aku pamit mas." ucap mumut lalu pergi bersama tukang ojek.


Dimas tau mumut bohong padanya tentang isi tas itu, tapi ia berpura-pura percaya. ia ingin mencari tau dulu pekerjaan mumut.


"Untuk apa sertifikat sawah itu di bawa mumut? Dan ternyata mumut punya sawah juga, dari mana uangnya beli sawah itu sedangkan ia hanya seorang pembantu, masa seorang pembantu bisa punya dua rumah besar dan bagus. Dan punya sawah juga. Karena setau aku gaji pembantu itu kecil. aku akan cari tau apa sebenarnya pekerjaan mumut." gumam Dimas.