
Tengah malam mumut bangun, ia membuka lemari. Mumut ingin memastikan apa suaminya membuka lemarinya. Saat lemari sudah di buka tas dan koper tidak tersimpan sepert semula, tapi ketika mumut membuka laci. mumut kaget, karena dompetnya terbuka.
"Aku semakin yakin kalo Dimas membuka dompetku ini. Gawat ini, kalo Dimas tau rahasiaku belum tentu dia bisa tulus mencintaiku." gumam mumut dalam hati.
Mumut pun tidur mengunci kembali lemarinya dan menyimpan kunci lemari di tempat rahasianya. Mumut kembali tidur dengan perasaan tidak tenang.
"Dimas kenapa tidak jujur padaku? kalo dia sudah membuka lemariku." gumam mumut dalam hati sambil melihat wajah Dimas.
Jam enam pagi Dimas tidak membuat sarapan seperti biasanya. Dimas tidak suka dengan orang yang tidak jujur. dia ingin selalu istrinya jujur tidak ada yang di sembunyikan.
"Mas, kamu gak masak sarapan?" tanya mumut menghampiri Dimas yang sedang asyik main hp.
"Gak mut, aku lagi males. Nanti sarapan bubur ayam aja tunggu tukang bubur lewat rumah."
"Males aku mas sarapan bubur, ya udah aku aja lah yang masak sarapan."
"Hum, terserah." ucap Dimas tanpa melihat wajah mumut.
"Dimas ko tidak mencegahku? Biasanya 'kan kalo aku mengerjakan pekerjaan rumah selalu di cegah." gumam mumut dalam hati.
Setengah jam mumut masak nasi goreng dan telor dadar. Sarapan sudah tersedia di meja makan. Ia mengajak suaminya untuk sarapan.
"Mas, ayo kita sarapan? Aku bikin nasi goreng dan telor dadar."
"Iyah."
Mereka pun makan, tapi Dimas makannya tidak lahap. Dimas males makan karena istrinya tidak jujur selama ini.
"Mas, kamu ko makannya kaya males gitu? Kenapa mas? Apa gak enak nasi goreng buatanku?"
"Enak ko mut, aku lagi gak napsu makan aja."
"Kamu sakit mas? Atau kamu mau bubur ayam?"
"Aku tidak sakit, aku juga tidak ingin bubur ayam."
Mumut semakin yakin jika suaminya sudah membuka lemarinya, melihat sikap suaminya yang menjadi cuek. Mumut sebenarnya ingin cerita, tapi dia takut. Mumut tidak mau bercerita tentang rahasianya sebelum lima tahun rumah tangganya.
"Rumah tanggaku belum lima tahun. satu tahun juga belum, aku belum siap cerita yang sebenarnya, aku takut." gumam mumut dalam hati sambil menguyah nasi goreng.
Jam 9 pagi mumut menyetrika baju. Dimas pun hanya terdiam. Dimas tidak mencegah mumut. Dimas sengaja tidak mencegah, karena ia ingin mumut cerita yang sebenarnya.
"Dimas juga diam saja padahal aku menyetrika bajunya banyak." gumam mumut dalam hati.
Jam 11 siang biasanya Dimas masak untuk makan Siang, tapi ini tidak. Dimas malah asyik ngobrol sama tetangganya. Akhirnya usai menyetrika mumut yang masak.
"Duh cape juga." gumam mumut.
Dimas melihat istrinya masak, tapi di diam saja. Dimas membeli baso gerobak yang lewat depan rumahnya.
"Mas, kamu mau beli baso? Aku 'kan ini lagi masak buat makan siang kita. Aku masak sayur asem kesukaanmu."
"Aku bosan makan sayur asem. kalo kebanyakan makan sayur asem nanti takut hidupku jadi asem."
"Loh, ko gitu? terus aku ini cape masak nanti kamu gak makan?"
"Ya makan sama kamu." ucap Dimas lalu meninggalkan mumut menuju tukang baso.
Mumut melanjutkan masak, ketika makanannya udah matenh. Ia memanggil Dimas, tapi Dimas tidak mau makan dengan alasan masih kenyang. Masakan yang ia buat cape-cape tidak di makan suaminya. Mumut makan sendiri dengan perasaan kecewa.
"Sedih aku cape-cape masak tapi suamiku gak mau makan." gumam mumut.
mumut mendekati Dimas yang sedang asyik main hp di kusri sofa. Mumut memeluk Dimas, tapi suaminya diam saja tidak seperti biasa.
"Mas, kamu ko diam saja? Peluk aku dong!" ucap mumut sambil tersenyum.
"Udah kamu istirahat sana! Aku lagi santai jangan di ganggu." Dimas cuek tidak mau memeluk istrinya.
Karena mumut kesal, ia langsung masuk kamar dan berbaring di kasur sambil memikirkan Dimas. Dimas sebenarnya tidak mau bersikap seperti itu pada istrinya. Ia bersikap cuek karena kesal pada mumut yang tidak mau jujur.
"Dimas maaf 'kan aku tidak cerita sama kamu, ini belum saatnya sayang." gumam mumut.
***
"Kak, aku minta tolong, bisa gak?"
"Apa?
"Kakak tolong dapetin nomer hp Dimas."
"Untuk apa sih dek? Dia itu udah nolak kamu mentah-mentah."
"Meski Dimas sudah menolak ku, tapi aku gak akan menyerah untuk dapatkan Dimas. Aku mohon kak, tolong dapatkan nomer hp Dimas!"
"kamu itu kenapa kekeh banget pengen sama Dimas? Apa gak ada cowok lain? Apa mungkin Dimas yang mengambil kesucianmu?"
"Bukan Dimas kak? Mana mungkin Dimas bisa lakukan zina itu."
"Terus kenapa kekeh banget pengen sama dia?"
"Karena aku cinta dia kak."
"Fatimah sadar, kamu itu udah di tolak beberapa kali. Kamu juga di hina istrinya. Apa kamu enggak malu?"
"Mangkanya kakak bantu aku, biar aku bisa balas dendam sama si mumut itu. Dulu dia kak yang merebut Dimas dari aku."
"Tapi kata ayah Dimas di jodohkan sama gurumu. Iyah 'kan?"
"Iyah. Gara-gara cewe itu Dimas di rebut dariku." ucap mumut dengan wajah marah.
"Bukan salah cewe itu lah, yang salah itu Dimas, kenapa dia mau aja di jodohkan. Seharusnya kalo dia benar-benar cinta kamu. Dia pasti tolak perjodohan itu."
"Pada saat itu Dimas terpaksa kak."
"Iyah. Aku sudah tau ceritanya dari ayah."
"Meskipun terpaksa jika dia benar-benat cinta kamu, dia pasti nolak. Sudah lah fatimah lupakan Dimas."
"Enggak kak, aku gak bisa lupakan dia." mendengar adiknya bicara, ridwan hanya menggelengkan kepalanya. Ridwan kasiyan pada adiknya mencintai orang yang tidak mencintainya.
"Fatimah, Ridwan ayo sini kita makan siang!" titah mimi, menghampiri kedua anaknya.
"Iyah bu, aku laper nih, ibu masak apa?" ucap Ridwan.
"Ibu masak sambel balado udah dan sayur capcay. Ayo makan!"
Ridwan dan fatimah mengikuti mimi menuju meja makan. Mereka makan cuma bertiga. Iman belum datang karena masih kerja.
"Bu, ayah belum pulang? biasanya 'kan ayah pulang dulu makan siang."
"Mungkin ayah sibuk." ucap mimi.
Fatimah hanya makan sedikit. Nasi yang ia makan hanya satu sendok. fatimah galau karena Dimas. Rasa cintanya terhadap Dimas besar. Dulu dia menyanyikan Dimas, tapi sekarang ia tergila-gila.
"Sayang ko kamu makannya dikit banget?" tanya mimi.
"Aku lagi diet bu."
"Diet? sayang kamu itu udah langsing, cantik ngapain diet?"
"Aku pengen lebih langsing lagi bu."
"Hum. Jangan diet sayang! Ayo nambah lagi nasinya!"
"Gak bu, nanti aku makan buah aja yang banyak."
"Ya sudah. Nanti jangan lupa makan buah ya sayang!"
"Iyah bu." ucap fatimah.
"
"