
"Ayo lah kita pulang! Ini bentar lagi magrib." titah Dimas.
"Dim, udah jam 6, bentar lagi adzan kita cari mesjid aja yu! Ke dalam mall itu pasti ada mushola." ajak Rian.
"Masuk mall lagi dong." ucap Dimas.
"Iyah lah. dari pada kita kemagriban di jalan." ucap Rian.
Usai mereka sholat magrib, Rian langsung memesan ojek online.
"Tuh ... Udah sampe ojeknya Dim." ucap Rian.
"cepat juga ya."
Sampai mereka tiba Di rumah neneng, pak kiai sedang santai di depan rumah.
"Pak, maaf Dimas lama perginya." ucap Dimas sambil cium tangan pak kiai.
"Yan, juga maaf pak."
"Ngapain kalian minta maaf, kalian salah apa? kalo mau jalan-jalan aja, ini juga kan baru jam 7 malam. Kirain bapak kalian mau pulang jam 10 malam." ucap kiai ahmad sambil tersenyum.
"He ... He, takutnya bapak marah ke kita kalo terlalu lama." ucap Rian sambil ketawa.
Mereka pulang jam 6 pagi ke bogor. neneng memberikan oleh-oleh untuk pak kiai juga Dimas dan Rian.
"Ini ada sedikit oleh-oleh ya ka." ucap neneng.
"Eh ... Ga usah neng, kaka juga di mobil banyak oleh-oleh dari teman kaka." ucap kiai.
"Ga apa-apa ka. Nanti di bagi-bagi aja oleh-olehnya sama Dimas dan Rian." ucap neneng.
'Em .... Rezeki lagi ini. Lumayan.' batin Rian.
***
Kini mereka sudah sampai di pesantren.Dimas dan Rian menurunkan oleh-oleh.
"Ayo turunin semua!" titah pak kiai.
Usai semua di turunin. Dimas ke kamar mandi, ia ingin membuka amplopnya, karena ia berniat ingin memberi pak kiai.
"Pak, saya numpang ke kamar mandi dulu ya." ucap Dimas.
"Iyah ... Ngapain bilang-bilang, kan Dimas sudah biasa di rumah bapak." ucap pak kiai sambil tersenyum.
Di dalam kamar mandi, Dimas membuka amplopnya, ia dapet dua amplop.
"Masya allah 5 juta." gumam Dimas saat membuka amplop dan menghitung uangnya.
Dimas membuka amplop satunya lagi.
"Ya allah 5 juta lagi." gumam Dimas saat membuka amplop dan menghitung uangnya.
Dimas dapat dua amplop, mungkin uang 10 juta tidak muat untuk satu amplop jadi pak yanti memberi Dimas dua amplop.
"Aku akan beri amplop satunya untuk pak kiai." gumam Dimas.
Dimas kini berada di samping pak kiai yang sedang duduk di kursi bambu.
"Pak ini buat bapak." ucap Dimas sambil memberikan amplop.
"Apa ini Dim?" tanya pak kiai bingung.
"Itu amplop dari pak yanto pak, Dimas dapet dua amplop." ucap Dimas.
"Masya allah Dimas. Dengerin bapak, kamu kan yg ceramah jadi uang untuk mu dan kasih pada istrimu jangan ke bapak. Bapak juga dapet amplop ko." ucap pak kiai.
"Tapi pak." ucap Dimas.
"Udah jangan tapi-tapi! Sekalipun Dimas paksa bapak ga bakal terima." ucap kiai ahmad sambil memberikan kembali amplopnya.
Dimas pamit pulang, ia sudah Rindu dengan istrinya, dua hari Dimas tidak bertemu dengan mumut.
"Pak, Dimas pamit pulang ya." ucap Dimas sambil mencium tangan pak kiai.
"Iyah ... Kamu pulang naik mobil bapak aja, Rian yang antar." titah pak kiai.
"Ga usah pak Dimas naik ojek online aja!" ucap Dimas.
"Naik mobil bapak aja Dim." ucap Pak kiai dan Dimas pun menganggukkan kepalanya.
"Rian Siap mengantar Dimas pak." ucap Rian sambil tersenyum.
Rian mau pun mengantarkan Dimas, semua oleh-oleh untuk Dimas di bawa pulang.
"Ini kebanyakan pak." ucap Dimas.
"Itu kan sudah di bagi sama pak yanto, untuk bapak udah ada, untuk Rian juga udah ada, jadi ini untuk Dimas." ucap pak kiai.
"Ga kebanyakan pak?" tanya Dimas.
"Ga Dim." ucap pak kiai.
Di perjalanan pulang, Rian ingin mampir dulu di tukang eh buah.
"Dim, kita mampir dulu di sini." ucap Rian sambil memberhentikan mobil.
"Mau ngapain sih?" tanya Dimas.
"Minum es buah dulu, kamu mau ga? Aku traktir." ucap Rian sambil tersenyum.
"Em ... Kamu ada-ada aja memperlambat waktu, bungkus aja lah, aku kan udah ngan istriku." ucap Dimas.
"Cie .... Cie ...cie, kamu sekarang suda cibta istrimu, Alhamdulillah, aku senang dengarnya." ucap Rian menggoda Dimas. Namun Dimas hanya sedikit tersenyum.
"ya udah, ayo Dim!" Titah Rian.
Ketika sedang menikmati eh buah di pinggir jalan, tiba-tiba suara HP dimas bunyi.
"Eh ... Istriku nelpon." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Beh ... Kangen itu istrimu Dim." goda Rian.
"Eh ... Ko di matiin." ucap Dimas.
"Ha ... Ha, ga ada sinyal mungkin Dim." ucap Rian sambil ketawa.
"Masa sih ga ada sinyal, udah yu, pulang!" titah Dimas.
"Tah ih ... Belum abis esnya." tolak Rian.
Usai minum es, mereka langsung pulang, tak lupa juga Dimas membeli satu es buah buat mumut.
"Eh belum bayar." ucap Rian lupa bayar.
"Udah, aku bayar tadi." ucap Dimas.
"Ko kamu jadi yang bayar Dim, kan aku yang mau traktir mu, ya udah ini aku ganti." ucap Rian sambil mengambil uang di dompetnya.
"Sit ... Udah jangan." tolak Dimas.
***
Sampai di rumah, Dimas menurunka eleh-olehnya di bantu Rian.
"Dim, aku langsung pulang aja ya, aku mau istirahat." ucap Rian pamit.
"Ga mau mampir dulu yan? Ngopi dulu!" titah Dimas.
"Ga lah, aku cape Dim, lain kali aja, aku pelang ya, assalamualaikum." ucap salam Rian.
"Waalaikumsalam, makasih ya Rian!" ucap Dimas.
"Oke ... Oke, nanti lain waktu aku main ke rumahmu. Dah." ucap Rian sambil melambaikan tangan.
Dimas mengetuk pintu, baru saja satu ketukan pintu, langsung di buka oleh mumut.
"Assalamualaikum sayang." ucap salam Dimas.
"Waalaikumsalam, jawab salam mumut sambil cemberut.
"Ko cemberut sih?" tanya Dimas sambil tersenyum.
"Kamu itu ga khawatir sama aku mas." ucap mumut marah.
"Ya khawatir lah mut." ucap Dimas.
"Ah ... Bohong, buktinya kamu ga ada nelpin aku."
"Maaf sayang aku ga inget."
"Iyah ... Itu kamu ga khawatir aku, kalo kamu khawatir sama aku pasti kamu hubungi aku!" ucap mumut marah.
"Iyah .. Iyah. Maaf sayang. Ini buka amplop buat kamu sayang.
Mumut tak mau menerima amplop pemberian Dimas, karena ia kesal pada Dimas.
"Hei ... Sayang jangan ngambek dong, maaf kan aku." ucap Dimas sambil mencium pipi mumut.
Dimas memasukan oleh-olehnya ke dalam rumah.
"Itu apa?" tanya mumut dengan wajah cemberut.
"Ink oleh-oleh sayang." ucap Dimas
"Ko banyak banget sih?" tanya mumut bingung.
"Iyah ... Dong, ini khusus buat istriku." ucap Dimas.
"Masa di kasih oleh-oleh sebanyak ini?" tanya mumut kurang percaya saat membuka kardus yang berisi buah-buahan. "Ada buah-buahan juga." ucap mumut.
"Iyah ... Dong sayang, semua buat kamu. Dan ini juga amplopnya buat kamu. Buka dong amplopnya!" titah Dimas merayu sambil mencolek pipi mumut.
"Ko amplopnya tebal banget dua-duanya. Wah .... Banyak banget mas, aku hitung ya! Waw ..... Semuanya ada 10 juta!" Ucap mumut kaget saat sudah menghitung uang isi amplopnya.
"Iyah .... Alhamdulilah, ini uang khusus buat istriku sayang." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Ini uang dan oleh-oleh itu dari hasil ceramah kamu mas?" tannya mumut semangat.
"Iyah sayang." ucap Dimas.
Setelah mumut di beri uang, ia tak marah lagi, mumut juga senang dan tak menyangka jika suaminya dapat uang sebanyak itu.
"Mas, aku ga nyangka ternyata jadi ustad itu gampang ya dapet uang, sekali pentas kamu dapet 10 juta dan oleh-oleh yg begitu banyak." ucap mumut.
"Iyah ... Alhamdulilah, aku juga ga nyangka, dalam hidupku, aku baru kali ini ceramah dapet uang 10 juta." ucap Dimas.
Mumut membuka semua oleh-oleh pemberian pak yanto.
"Wah ... Ini daging mentah banyak banget mas, lumayan buat stock makan kita." ucap mumut.
"Wah .... Ini juga ada sayuran banyak, ini juga berasnya bagus lagi. Dan buah-buahannya banyak banget." ucap mumut.
"Iyah itu rezeki kita mut." ucap Dimas.
"Ini mah ga perlu ke pasar." ucap mumut sambil tersenyum.
Dimas senang bisa kasih uang banyak pada mumut, karena ia ingin sekali memberi uang banyak pada istrinya.
"Mut, uangnya kamu simpan ya! Itu buat kamu semua." titah Dimas sambil tersenyum.
"Buat aku semua mas? Kamu ga mau? kita bagi dua aja ya!" ucap mumut sambil mengambil uang. "Nih sayang, aku lima juta aja." ucap mumut sambil memberikan uang pada Dimas.
"Eh ... Ga usah sayang, ini semua buat kamu aja, nanti kalo aku butuh aku baru minta ke kamu. Aku yakin kamu bisa pegang uang." ucap Dimas.
"Kamu baik banget sih mas." ucap Mumut sambil memeluk Dimas.
"Iyah dong. kamu jan istriku, apa yang aku punya buat kamu sayang." ucap Dimas sambil mencium kening mumut.
"Ah ... Soswittt." mumut terus memeluk Dimas makin kencang.
'Dasar perempuan, tadi marah, sekarang tiba-tiba jadi baik lagi, memang perempuan itu harus di beri uang dan di beri kasih sayang.' batin Dimas.