PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Tak mau


Tak terasa kini fatimah sudah dua minggu di rumah, peraturan di pesantren padahal hanya satu minggu untuk izin. Namun fatimah kini telah melanggar peraturan. Ia belum mau ke pesantren lagi, ia masih ingin di rumah.



"Fatimah, kamu mau kapan berangkat ke pesantren? ini sudah dua minggu, ayah akan antar kamu ke pesantren besok." ucap hasan yang tiba-tiba masuk ke kamar fatimah tanpa mengetuk pintu.


"Aku belum mau berangkat ke pesantren yah, aku masih pengen di rumah." ucap fatimah tanpa menatap wajah iman.


"Kenapa kamu seperti ini? Biasanya kamu semangat, bahkan baru tiga hari aja di rumah kamu sudah ingin ke pesantren, tapi ini kenapa jadi begini?" tanya hasan sambil mengerutkan alisnya.



"Sudah lah ayah, jangan ngatur-ngatur aku! Aku ini udah gede yah, jadi terserah aku." ucap fatimah.



"kamu ga sopan ngomong gitu sama orang tua! Memang kamu sudah gede, tapi kamu belum jadi apa-apa! mau ngapain kamu terlalu lama di rumah hah?" tanya iman sambil marah.


"Berisik ayah, sudah diam!" ucap fatimah lalu pergi meninggalkan iman.


"Astagfirullah!" iman kaget mendengar ucapan putrinya yang tidak sopan.


Fatimah tidak biasanya seperti itu terhadap mimi dan iman, biasanya ia selalu sopan pada mereka, tapi kini fatimah berubah gara-gara putus cinta, ia merasa kecewa dengan Rijal.


"Bu ... fatimah tidak mau berangkat lagi ke pesantren? Ini kan sudah dua minggu, pak kiai juga hanya memberi izin satu minggu ini sudah dua minggu, aku ga enak bu sama pak kiai." ucap iman.



"Mungkin fatimah masih ingin di rumah yah, sudahlah jangan terlalu keras pada anak! Lagian itu kan pesantren salafi bukan modern jadi peraturannya tidak keras seperti pesantren modern. ayah nanti tinggal ngomong aja ke pak kiai ahmad kalo fatimah masih belum mau berangkat." ucap mimi, sedikit membela fatimah.



"Ini ibu malah bela fatimah, aku ga enak bu sama kiai ahmad." ucap iman.



"Terus ayah mau bagaimana? Masa ayah mau paksa fatimah," tanya mimi.



"Iyah nanti ayah mau paksa dia bu!" ucap iman sedikit kesal.



"Jangan di paksa! Kita liat aja beberapa hari lagi, kalo tidak mau berangkat lagi, baru ayah paksa!" titah mimi.


"Ya sudah, kita liat dulu beberapa hari lagi." ucap iman.


Iman memang sangat keras pada anaknya, ia ingin fatimah sukses, ia ingin fatimah menjadi ustadzah, ia tak mau fatimah seperti Ridwan kakaknya fatimah yang kini tak punya pekerjaan, hanya jadi pengangguran. Iman berharap fatimah anak ke duanya bisa sukses. Anak iman hanya dua Ridwan dan fatimah, satu-satunya harapan kini hanya pada fatimah.


'Ya allah, aku ingin putriku sukses hidupnya, jadi anak sholehah. Dan bisa membanggakan orang tuanya.' batin iman saat sedang memikirkan fatimah, duduk sendiri di depan rumah.


Mimi seorang ibu yang lemah lembut, ia tidak keras pada anak. Melihat iman sedang melamun duduk sendiri di depan rumah mimi menghampiri suaminya.


"Yah, sedang apa, ko ngelamun? Sudah lah jangan di pikirin fatimah! nanti juga dia ke pesantren lagi." ucap mimi menenangkan iman.



"Bu ... Ibu, jangan terlalu lembut sama anak, buktinya Ridwan anak kita gagal!" ucap iman sedikit kesal.



"Loh .... Ko ayah malah ngomong ke mana-mana? dulu kan salah ayah, Ridwan kan pengen jadi dokter, tapi malah ayah paksa jadi polisi. jadi Ridwan seperti itu gara-gara ayah, bukan ibu!" ucap mimi marah.



"Sudah lah, aku pusing! kenapa anak-anak tidak mau nurut sama orang tua, buktinya fatimah pernah bilang pengen jadi ustadzah tapi ini malah ga mau ke pesantren lagi." ucap iman.



Fatimah tiba-tiba pamit pergi, ia sudah rapih memakai tas dan juga sepatu.


"Aku pergi dulu yah, bu." ucap fatimah tanpa mencium tangan ayah dan ibunya.



"Hai ... Fatimah, kamu mau ke mana? Fatimah ... Fatimah." seru iman. Namun fatimah langsung menyalakan motor dan lalu pergi tanpa menghiraukan ayahnya.


"Fatimah ...fatimah." seru iman sambil mengejar fatimah.


"Sudah ayah! Mungkin Fatimah sedang ada masalah, mangkanya seperti itu." ucap mimi menghampiri iman.


"Ibu kenapa tenang aja putri kita ke luar rumah? kita ga tau putri kita mau ke mana? anak kita perempuan bu. Ayah khawatir bu!" ucap iman yang sangat menghawatirkan putrinya.



"Bukannya, ibu ga khawatir yah, ya udah nanti ibu coba tanya ke fatimah kenapa dia seperti itu. Sepertinya fatimah sedang ada masalah yah." ucap mimi.



"Mangkanya kamu itu deketin dia. Kamu itu kan ibunya, kamu harus bisa tau anak kita kenapa jadi seperti itu! Aku kan tiap hari kerja ga ada di rumah." ucap iman marah.



"Iyah yah, ibu akan tanya fatimah." ucap mimi sambil menundukkan kepalanya.


***


Fatimah pergi ke suatu tempat yang lumayan jauh dari rumahnya, ia pergi ke dekat gunung, tempat itu lumayan sepi, ia ingin menenangkan hatinya. Fatimah juga tidak takut ke tempat itu, padahal di tempat itu sepi. Di tempat itu ia berteriak, menangis melampiaskan semua masalahnya.


"Aaaaaaa ...... Aaaaaa ...... Aaaaa. Tuhan aku menyesal." ucap fatimah berteriak.


fatimah menyesal, karena sudah menyia-nyiakan Dimas. Ia juga menangis karena telah di khianati Rizal.


"Allah, ternyata yang menurutku baik, itu tidak baik, aku malah menyia-nyiakan Dimas lelaki yang sangat baik." gumam fatimah sambil menangis.


Fatimah menangis sekencang-kencangnya, ia kecewa dan tak menyangka Rizal berdusta padanya. Padahal fatimah sudah memberikan apa yang Rizal mau.


"Tuhan .... Kenapa takdirku seperti ini. Aku hancur tuhan. Aku ingin cerita pada orang tuaku, tapi aku takut." gumam fatimah sambil menangis.


Jilbab yang fatimah pake basah oleh air mata yang terus mengalir, ia ingin cerita pada orang tuanya, tapi ia takut.


Mata fatimah juga sudak menjadi sipit akibat terlalu lama menangis. Ia menangis karena dua hal. Satu, di khianati Rizal. Dua, ia telah menyia-nyiakan Dimas bertahun-tahun.


"Andai ka Dimas belum menikah, dia pasti mau lagi kembali padaku. Ka Dimas, aku menyesal telah menyia-nyiakan mu dan menduakan mu." gumam Fatimah sambil menangis.


Nasib sudah menjadi bubur, kini Dimas telah menikah, fatimah hanya bisa menyesal.


Kini sudah sore jam empat, tapi fstimah masih di tempat itu dari jam 10 pagi. Ia memandang sawah, sambil menangis. Ia juga memikirkan bagaimana Dimas agar bisa kembali padannya.


"Aku ingin, Dimas kembali padaku, aku kini baru sadar jika Dimas yang terbaik untuk aku." gumam fatimah sambil senyum licik.


Karena waktu sudah sore, ia pergi dari tempat itu. Namun ia tak pulang ke rumah. Iman sudah menghubungi beberapa kali, tapi fatimah tak mau menerima panggilan ayahnya, dia malah mematikan hpnya.


Fatimah mampir ke taman bunga, tempat dulu ia pacaran bersama Rizal.


"Di tempat ini, banyak kenangan bersamamu Rizal dan di tempat inilah aku menemukan bukti perselingkuhanmu." gumam fatimah sambil menangis.


Fatimah juga memandangi kursi yang di kelilingi bunga, yang ada di taman itu. Dulu ia duduk bersama dimas di kursi itu dan Dimas sangat bahagia bisa jalan bersamanya. Dimas ketika ingin jalan berdua dengan fatimah ia selalu minta izin pada iman, tidak seperti Rizal yang diam-diam jika. Dimas pun hanya dua kali pergi jalan bersama fatimah saat waktu pacaran.


"Kaka, maaf 'kan aku, aku sayang kaka." gumam Fatimah sambil menangis dan memandang kursi yang dudu ia pernah duduki bersama Dimas.