
"Mut, kamu jangan mengerjakan pekerjaan rumah ya!" ucap Dimas yang sedang membereskan kamar sementara mumut asyik main hp.
"Ga ih, aku mau masak, aku libur kerja, jadi aku mau masak, kesel aku kalo hanya diam saja." tolak mumut.
"Jangan mut! Biar aku aja." ucap Dimas saat mumut masuk dapur ingin masak.
"Ih mas, aku kan pengen masak." ucap mumut.
"Aku ingin buat kamu jadi ratu sayang, jadi kamu duduk manis aja ya! Atau mending kamu mandi sana terus dandan!" titah Dimas.
"Apa mas, ratu?" tanya mumut sambil tersenyum.
"Iyah sayang ... Aku ingin jadi ratu yang selalu cantik tanpa harus mengerjakan pekerjaan rumah. Kalo perlu kamu ga usah kerja lagi." ucap Dimas.
"Kamu bisa aja, aku jadi ratu apa mas?" tanya mumut sambil ketawa.
"Jadi Ratu untukku lah. Mangkanya udah mandi sana! Trus dandan nanti kan tinggal makan aja." titah Dimas.
"Iyah ... Iyah ... Iyah, sayang .... Em aku itu istri yang paling beruntung dapet suami seperti mu sayang." ucap mumut.
Dimas yang ingin membuat istrinya seperti ratu, mumut tak di perbolehkan mengerjakan pekerjaan rumah, semua pekerjaan rumah Dimas yang kerjakan. Betapa beruntungnya mumut dapet suami seperti Dimas yang sangat langkan do temukan jaman sekarang.
"Em .... Asyik ... Aku santai deh, aku akan dandan secantik mungkin untuk suamiku sayang." gumam mumut.
Kini mumut sudah mandi dan juga sudah dandan secantik mungkin, dia juga memakai daster pendek yang paling Dimas suakai.
"Hai ... Sayang, aku udah cantik nih." ucap mumut menghampiri Dimas.
"Wah .... Sayang .... Kamu cantik banget sih!" ucap Dimas memuji mumut.
"Mana masakannya udah matang belum? Aku udah lapar sayang." ucap mumut sambil memegang perutnya.
"Ini sudah matang semua tinggal goreng ikan asin." ucap Dimas sambil goreng ikan asin.
Dimas sangat suka dengan ikan asin, karena dari kecil ia selalu di beri ikan asin, karena hidupnya yang sangat miskin.
"Mas, ko ada pete sih?" tanya mumut sambil tersenyum saat membuka tutup meja makan.
"Iyah ... Buat sarapan pagi." ucap Dimas.
"Ha .... Ha ... Ha, masa sarapan pake pete mas." ucap mumut sambil ketewa. Kaena mumut tak pernah sarapan pagi dengan pete.
"Eh ... Enak itu, mantap, kamu nanti coba aja, kamu belum pernah 'kan sarapan dengen pete pagi-pagi gini. Ucap Dimas.
"Belum mas." ucap mumut sambil tersenyum.
"Beh ... mantap banget mut, pasti kamu ketagihan."
"Mas, sarapan pagi-pagi itu 'kan biasanya nasi goreng, roti, bubur atau nasi putih dan lauk pauk atau sayur, tapi ko ini malah pete." ucap mumut sambil tersenyum.
"Udah nanti kamu coba aja. Itu petenya di bakar, ikan asin peda di goreng dan sayur asem." ucap Dimas.
"Mas, ga goreng ayam?" tanya mumut.
"Ini udah aku goreng buat kamu, kalo aku mah lagi ga mau, aku cukup ikan asin sambal terasi dan sayur asem." ucap Dimas.
Mereka kini makan berdua, Dimas langsung mengambilkan nadi untuk mumut dan sayur asem.
"Het .... Aku aja yang ambillin sayang, kamu kan ratu." ucap Dimas saat mumut ingin mengambil nasi.
"Masya allah mas, aku bisa sendiri ko." ucap mumut sambil tersenyum.
"Kamu 'kan ratu sayang, jadi ga boleh." ucap Dimas sambil mengedipkan matanya.
"Ha ... Ha .. Ha, sayang kamu baik banget sih." ucap mumut sambil ketawa.
"Iyah dong istriku sayang, kamu itu ratuku yang harus aku jaga dan sayangi." ucap Dimas sambil tersenyum.
Mumut mencoba makan pete bakar dan ikan asin peda di coel sambel terasi.
"Em .... Enak banget mas." ucap mumut ketagihan dan makan pete lagi.
"Iyah dong enak, ini tuh cocok bangat mut, aku kan orang sunda gini makanan kesukaan orang sunda mah." ucap Dimas.
"Em .... Mantap ini mas, surp ... Surp, wah .... Sayur asamnya juga mantep." ucap mumut sesusah menyeruput sayur tanpa sendok.
"Ga pake Sendok sayang?" tanya Dimas sambil tersenyum.
"Ga ah mas, pake sendok sudah dapat kuahnya, ini kuahnya enak, seger, pokoknya mantap deh mas, kamu pinter banget mas masaknya." ucap mumut.
"Ya udah kalo enak abisin sayang."
Mumut tak makan goreng ayam yang sudah Dimas siapkan untuknya. Saking nikmatnya pete, sambel terasi dan sayur asem mumut jadi ga ingat goreng ayam.
"Itu ayamnya sayang, ko ga di makan?" tanya Dimas sambil tersenyum.
"Ga ih mas, enak 'kan makan ini." ucap Mumut sambil makan.
Mumut sudah nambah dua kali, Dimas yang tertawa menatap istrinya makan sangat lahap, biasanya mumut kalo makan pagi hanya sedikit, tapi ini nambah dua kali.
"Enak ya sayang?" tanya Dimas.
Usai makan, mumut ingin mencuci piring bekas dirinya sendiri, tapi Dimas tak memperbolehkannya.
"Ett ... Jangan! Inget kamu ratu sayang, jadi biar aku aja." ucap Dimas.
"Ya allah mas, ga apa-apa kali, ini 'kan piri g bekas malanku." ucap mumut.
"Udah jangan! Kamu duduk sana ke sofa, istirahat!" titah Dimas.
"Em ... Mas." ucap mumut sambil mencium pipi Dimas.
Kini mumut duduk manis di sofa sambil main hp.
'ya allah nikmat banget hidup ini, bangun tidur mandi, dandan terus langsung makan.' batin mumut.
Ia menikmati hari liburnya itu, dan tiba-tiba Dimas datang menghampiri istrinya lalu memijit pundak mumut.
"Sayang ... Kamu cape ya?" tanya Dimas sambil memijit.
"Mas, ga usah, kamu 'kan cape, duduk aja sini." ucap mumut.
"Aku ga cape sayang, kamu 'kan ratuku jadi aku harus buat kamu enak." ucap Dimas.
"Tapi nanti kamu cape mas, aku ga pegel ko, jadi ga usah di pijit." ucap mumut.
"Emang di pijit harus nunggu badan pegel aja, di pijit itu buat merasakan kenikmatan." " ucap Dimas.
"Ha ... Ha .. Ha, kamu bisa aja mas, tapi enak juga sih." ucap mumut sambil ketawa.
Mumut keenakan di pijat Dimas, tak terasa dia malah tidur.
"Eh ... Kalo abis makan jangan tidur! Takut diabetes." ucap Dimas.
"Masa sih kas? Abis kamu mijitnya enak banget mas, emangnya kamu belajar pijit dari siapa?" tanya mumut penasaran.
"Dari kakekku mut, dulu waktu aku masih kecil, aku suka di ajari pijat dan sampe sekarang ilmu itu aku praktikan, tapi ....." ucap Dimas tak tak meneruskan ucapannya.
"Tapi apa mas?" tanya mumut.
"Tapi ... kakekk sudah meninggal saat aku masih sekolah SD." ucap Dimas sedih.
"Eh .... Maaf mas, aku ga ada bermaksud buat kamu sedih mas." ucap mumut.
"Iyah ... ga apa-apa mut. aku cuma lagi sedih aja kalo inget kakek dan nenekku apa lagi ibuku nasibnya yang sangat malang." ucap Dimas dengan wajah sedih dan berhenti memijit mumut.
"Maaf ya mas, oh ... Iyah, aku 'kan belum tau kelurga kamu mas, aku juga ga tau cerita masa lalu kamu, kata pak kiai ahmad ibumu sudah meninggal waktu kamu kecil, dan kamu hanya hidup bersama kakek dan nenek, tapi setelah itu kakek dan nenekmu meninggal juga 'kan, bapak mu juga meninggalkanmu 'kan waktu kamu masih kecil?" tanya mumut bertubi-tubi.
"Sudahlah, aku ga mau cerita masa laluku yang sangat menderita, aku ga kuat untuk cerita, kalo aku cerita pasti air mata ini keluar." ucap Dimas.
"Maaf ya mas, cerita aja sama aku, aku 'kan istrumu mas, aku juga pengen tau masa kecilmu." ucap mumut.
"Ga mut, aku males ceritanya, toh kamu juga udah tau 'kan dari pak kiai." ucap Dimas.
"Iyah ... Sih." ucap mumut.
Dimas kembali memijit Mumut, dan mengajak bicara hal yang membuatnya senang lagi.
"Mut, kamu suka ga aku pijit?" tanya Dimas.
"Wah ... Suka banget mas kalo kamu yang pijit mah, karena pijitan kamu itu enak mas." ucap mumut.
"Masa sih."
"Iyah mas, bener, aku aja sampe tidur. Ya udah kalo udah selesai di pijit nanti kamu boleh cium aku sepuasnya." ucap mumut beri hadiyah ciuman.
"Bener sepuasnya?" tanya Dimas sambil tersenyum.
"Bener mas, itu hadiyah untukmu." ucap mumut.
Usai di pijit, Dimas mencium pipi mumut berulang kali, sampe pipi mumut merah.
"Udah mas! aku cape." ucap mumut.
"Katanya sepuasnya? Terserah aku lah sampe aku puas." ucap Dimas sambil terus cium mumut.
"Mas ampun!" ucap mumut sambil tersenyum.
"Iyah ... Iyah, udah, aku udah puas ko." ucap Dimas.
Suasana yang tadi sedih ketika Dimas mengingat masa kecilnya, kini kembali cerita, mereka bersuka ria, bermesraan di tempat sofa.