PERNIKAHAN KAGET

PERNIKAHAN KAGET
Kedatangan Woto


Saat mumut sudah berangkat kerja, Dimas kembali mencari kunci lemari.


"Aku cari lagi lah kunci lemarinya." gumam Dimas sambil membuka tas kecil mumut yang di gantung.



"Duh ... ga ada, di mana ya?" gumam Dimas.


Dimas mencari ke atas lemari mumut, ia naik ke bangku, berharap di atas lemari mumut ada kunci itu.


"Duh ... ga ada." gumam Dimas lalu turun dari bangku.


Dimas sudah mencari di kamar mumut, tapi tidak ada, ia mencari ke ruang tamu, membuka rak kecil tempat menyimpan buku-buku mumut.


"Ga ada juga, di mananya munut taro kunci lemarinya." gumam Dimas.


Usai mencari di ruang tamu, Dimas mencari ke dapur juga, berharap akan menemukan kunci lemari mumut di dapur.


"Aku cari ke dapur lah, siapa tau ada di dapur." gumam Dimas.


Dimas juga membuka rak kecil yang berisi garam, dan gula pokoknya penyedap rasa.


'masa mumut naro kunci di sini, ga mungkin ada lah.' batin Dimas.


Dimas juga membuka rak piring, berharap ada kunci di rak piring itu.


"Duh ... ga ada, di mana ya mumut naro kuncinya, apa mungkin di bawa sama dia." gumam Dimas.


Saat Dimas sudah cape mencari kunci, ia duduk di sofa sambil minum kopi.


'Huh ... Udah jam setengah empat aja, bentar lagi ashar, kunci mah ga ketemu.' Batin Dimas.


Karena waktu sholat ashar suda tiba, Dimas bangun dan mandi, usai mandi ia langsung sholat.


Kini sudah jam setengah lima, ia santai duduk di sofa sambil nonton tv.


'Bentar lagi, mumut datang, aku angetin masakan dulu lah.' batin Dimas.


Dimas menghangatkan makanan yang tadi pagi ia masak. Ia hanya masak sekali pagi doang, siang dan sore makan makanan pagi tinggal di hangatkan. Biasanya kalo lagi rajin masak sehari dua kali, karena ini lagi malas, jadi ia hanya masak satu kali.


Saat Dimas sedang menghangatkan makanan, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


tok ....



tok ...



tok ....


Dimas segera menghampiri, ia melihat di jendela siapa yang datang.


"Woto." ucap Dimas sambil tersenyum saat membuka pintu.



"Assalamualaikum, ka Dimas." ucap salam woto dan mencium tangan Dimas.


"Waalaikumsalam." jawab salam Dimas.


"Sehat ka?" tanya woto sambil tersenyum dan memeluk Dimas.



"Alhamdulilah, aku sehat wot, ayo masuk, silahkan duduk!" titah Dimas sambil tersenyum.


"Bagaimana kabarmu woto?" tanya Dimas.


"Alhamdulilah saya sehat ka." ucap woto sambil tersenyum.


"Ah .... Jangan panggil kaka, panggil Dimas aja!" titah Dimas sambil tersenyum.


"Ga mau ka, aku harus panggil ka Dimas kaka, karena ka Dimas guruku." ucap Woto sambil ketawa.


"Dimas aja wot!"


"Ga, ka. aku ga mau."



"Ya udah, gi mana kamu aja wot, sebenarnya aku malu kalo di panggil kaka." ucap Dimas sambil tersenyum.


"Jangan malu-malu ka! Kaka itu pantes di panggil kaka atau ustad karena kaka adalah guruku." ucap woto sambil tersenyum.


"Siap ... Siap." ucap Dimas sambil ketawa.


woto merasa bahagia bertemu dengan Dimas, ia tau alamat Dimas, karena woto waktu itu pinta no hp Dimas.


"woto, hebat bisa sampe sini, padahal lumayan jauh." ucap Dimas sambil tersenyum.



"Ah ... Kaka bisa aja, kan, sekarang udah jaman canggih, tinggal tanya bah google." ucap Woto sambil ketawa.



"Ka, aku ke sini, karena aku rindu kaka! aku di pesantren selalu ingat kaka, aku selalu ingat pesan kaka." ucap Dimas



"Terus pesan yang aku beri, woto kerjakan ga?" tanya Dimas.



"Alhamdulilah ka, aku kerjakan, aku rajin menghapal dan belajar. Sampe ada santri putri yang nembak aku, karena katanya aku cerdas dan rajin." ucap Woto tersenyum bahagia.


"Alhamdulilah, terus semangat ya wot, aku doa kan, kamu biar cepat lulus. terus itu cewek yang nembak kamu di terima ga?" tanya Dimas sambil tersenyum.


"Aku ga terima ka, karena aku ga suka, orangnya aga centil gitu, aku suka dengan wanita yang kalem." ucap woto sambil tertawa.


"Dulu, di tolak cewe, sekarang nolak cewe, kalo nyari yang kita inginkan memang susah wot."


"Ga mau aku ka, nanti juga kalo aku udah sukses aku akan cari sendiri perempuan yang aku suka, karena kan laki-laki itu prinsipnya memilih buka di pilih." ucap woto.



"Iyah benar, mangkanya kamu harus rajin belajar, berbakti sama guru dan orang tua kita insya allah, kamu cepat sukses wot."




"Kita sebagai laki-laki akan jadi pemimpin bagi perempuan, jadi kita harus cerdas, punya keahlian." ucap Dimas



"Iyah ka, aku akan ingat terus pesan kaka.



"Alhamdulilah."



"Ka, ina ada sesuatu buat kaka." ucap woto sambil memberikan plastik berisi buah-buahan dan lontong atau buras.



"Wah ... Lontong." ucap Dimas tersenyum sambil membuka plastik itu.


Dimas suka dengan lontong atau buras, Woto tau kesukaan makanan Dimas.


"ngapain woto bawa ini buat aku, jadi ngerepotin, kalo mau ke sini jangan bawa apa-apa wot! Kan aku jadi ga enak." ucap Dinas sambil tersenyum.


"Ga apa-apa ka, anggap aja ini hadiah dariku, karena kaka sudah mengajari aku waktu di pesantren." ucap woto sambil tersenyum.


"Masya allah wot. Makasih ya hadiahnya, woto tau aja kalo aku suka lontong." ucap Dimas laku makan lontong.


" Tau lah ka, kan kaka teman sekaligus guru baik aku." ucap woto sambil tersenyum.



"Ini ada sambelnya ka." ucap woto sambil membuka plastik berisi sambel.



"Eh .. Ada sambelnya juga, em mantap ini." ucap Dimas sambil mencocol lontong itu ke sambel.


Tak terasa kini sudah jam setengah enam, mumut belum pulang.


'Ko, mumut belum pulang ya, ini kan udah jam sengat enam.' batin Dimas.


Woto ingin pulang malam, ia ingin ngobrol lama dengan Dimas.


"Ka, boleh ga, aku di sini nya aga lama, sampe jam 8 malam? karena aku pengen ngobrol dulu sama kaka, maklum udah lumayan lama aku ga ketemu kaka."



"Boleh ... Wot, mau nginep juga boleh." ucap Dimas sambil tersentum.



"Aku belum liat istri kaka, mana istri kaka?" tanya Woto.


"Istrinya masih kerja, belum pulang."


"Oh, memangnya, istri kaka kerja apa?" tanya woto lagi.


"Jadi pembantu wot, di perumahan dekat sini."


kini sudah jam 7 malam, tapi mumut belum pulang juga, Dimas sudah menghubungi mumut, tapi tidak aktip.


'Ya allah, mumut ke mana jam segini belum pulang, di hubungi ga aktip HPnya.' batin Dimas cemas.


Tak lama kemudian, sekitar jam setengah delapan malam, mumut datang.


"Assalamualaikum." ucap salam mumut.



"Waalaikumsalam." jawab salam Dimas dan woto bareng.



"Eh ... ada tamu." ucap mumut sambil mencium tangan suaminya dan tersenyum pada woto.


"Iyah mut, ini temenku waktu di pesantren abah kiai arip." ucap Dimas.


"Oh ... Kenalin saya mumut, istri Dimas." ucap Mumut sambil bersalaman pada woto tapi tak menyentuh tangan.


"Saya woto mba." ucap wota sambil tersenyum.


"Sepertinya aku pernah ..... eh, ga jadi." ucap woto, ia seperti pernah liat mumut tapi lupa di mana. Wajah mumut tak asing bagi woto.


"Kenapa wot." tanya Dimas.


"Ga, ka." ucap Dimas sambil tersenyum.



'Sepertinya aku pernah liat istri ka Dimas tapi di mana ya? aku lupa.' batin woto.


Karena Mumut sangat cape, mumut langsung beristirahat di kamar, ia tak menemani Ngobrol Dimas bersama temannya.


'Duh ... Cape bangat hari ini kerja, aku langsung tiduran aja lah.' batin Mumut.


Karena ini sudah jam delapan malam, woto pamit pulang, woto pulang ke rumahnya, karena ia rindu pada ayahnya. Ia izin ke abah kiai arip satu minggu untuk di rumah.


"Ka, aku pamit pulang ya, ini sudah jam delapan." ucap woto.


"Nginep aja wot! banti pulang pagi." ucap Dimas.


"Kapan-kapan aja ka, aku udah janji sama ayah akan pulang malam ini." ucap woto.


"Ya udah, hati-hati ya wot, bawa motornya jangan ngebut-ngebut!" titah Dimas sambil tersenyum.



"Aku pamit ka." ucap woto sambil mencium tangan Dimas.


"Iyah." ucap Dimas.


"Assalamualaikum." ucap salam woto



"Waalaikumsalam." jawab salam Dimas.