
Waktu sudah menunjukan jam sembilan malam. Saatnya Dimas meminta jatah pada istrinya. Mumut sudah bersiap-siap untuk bercinta, karena ia sudah janji pada Suaminya.
"Em, istriku sudah cantik." ucap Dimas mendekati mumut lalu naik ke kasur.
"Ya udah ayo mas! Ke buru malam."
"Siap ... Siap."
Dimas mendekati mumut lalu mencium kening dan bibirnya. Usai mencium bibir Dimas langsung melakukan hubungan intim tanpa lama-lama pemanasan.
"Enak sayang." ucap Dimas.
"Em ... Iyah tapi jngn kenceng-kenceng sayang kasiyan anak kita."
Satu jam mereka bercinta, mumut sangat puas, tapi Dimas belum puas. Dimas ingin melakukannya lagi, tapi mumut tidak mau karena ia sudah lelah.
"Sayang, aku belum puas, lagi ya?" ucap Dimas sambil menatap dengan napsu.
"Mas, aku udah cape, cukup mas jangan melakukannya lagi! Ingat ada anak kita kalo aku cape anak kita juga dalam perut ikut cape."
"Hum, tapi ini senjataku belum bisa kuncup."
"Sudah mas, kuncupin aja sendiri aja sendiri. Jangan paksa aku mas!"
"Iyah ... Iyah."
Dimas pun menahan hasratnya yang belum puas, biasanya kalo bercinta paling sedikit satu jam setengah. Tapi ini cuma satu jam mumut udah cape dan ga kuat. Dan terpaksa Dimas berhenti.
"Em, belum tuntas semua hasratku, tapi udah ga kuat istriku. Aku harus bisa nahan, kasian istri dan anakku dalam perut." gumam dalam hati.
Esok harinya Dimas menghubungi Rian, ia ingin pergi ke kampungnya menengok saudara. Rian pun menyetujui dan segera menuju rumah Dimas.
"Sayang, pagi ini aku mau ke kampungku, aku mau tengok bibiku. Entah kenapa aku tiba-tiba ingat bibi terus."
"Aku ikut mas."
"Jangan sayang jauh! Kamu di rumah aja. Sore juga aku pulang lagi."
"Ga, pokoknya aku mau ikut, jarak dari bogor ke banten itu deket mas, Aku kuat ko." ucap mumut yang kekeh pengen ikut.
"Takutnya macet sayang."
"Ga ah, aku mau ikut titik."
Dimas pun mengijinkan mumut ikut dengannya, walaupun sebenarnya ia tak mau mumut ikut. Mumut sudah mengganti baju, ia sudah dandan cantik.
"Cantik 'kan?" tanya mumut sambil tersenyum.
"Iyah cantik sayang. Kamu mau ngenep ga yang?" tanya Dimas.
"Terserah kamu mas."
"Ngenep aja ya, takutnya kalo langsung pulang nanti kamu kecapean sayang."
"Ya sudah, aku siapkan bajuku dan bajumu mas."
Dimas belum bilang ke Rian jika ingin bermalam di kampung Dimas. Lalu Dimas menghubungi Rian kembali agar Rian juga membawa baju salin.
"Yan, nanti kita nginep di rumah saudaraku ya, kamu mau 'kan?"
"Loh. go ga bilang dari tadi, aku sudah jalan ini, tapi belum jauh sih. Ya sudah aku balik lagi ambil baju, tapi nginapnya berapa malam Dim?" tanya Rian.
"Satu malam yan."
"Oke bisa, kalo dua malam ga bisa Dim, soalnya ini mobil mau di pake pamanku."
"Oke."
Rian kini sudah sampai di rumah Dimas, sebelum mereka berangkat tidak lupa untuk sarapan dulu. pagi itu Dimas tidak membuat sarapan. Dimas hanya membeli bubur ayam untuk sarapannya dan membeli lontong dan gorengan untuk bekal di perjalanan.
"Sarapan dulu Yan! Kamu udah sarapan belum?" tanya Dimas.
"Belum nih, wah bubur ayam enak nih kayaknya." ucap Rian.
"Iyah enak itu buburnya. Ya udah makan yan!"
Usai sarapan mereka langsung berangkat menuju kampung Dimas yaitu di banten kabupaten lebak. Dalam perjalanan dari bogor menuju lebak banten empat jam. Kini sudah sampai di rangkas bitung, Dimas berhenti dulu untuk membeli oleh-oleh. Dimas membeli mie rebus tiga kardus, beras satu karung, minyak enam liter, telor enam kilo, roto tawar sepuluh bungkus, sirup marjan empat botol, susu cap bendera enam, sarden sepuluh dan bermacam-macam buah-buahan.
"Buset deh, banyak banget oleh-olehnya Dim." ucap Rian sambil tersenyum.
"Iyah, mempeng aku lagi ada duit sekali-kali aku senengin bibiku, karena dulu bibi banyak sangat baik padaku."
"Iyah, bagus Dim.
Semua belanjaan di masukan ke dalam mobil sehingga mobil tersebut penuh oleh oleh-oleh. Mumut bengong suaminya belanja sebanyak itu.
"Mas, ini kamu mau bagi-bagi?" tanya mumut sambil mengerutkan alisya.
"Ini oleh-oleh buat bibiku sayang, ga apa-apa 'kan aku beli sebanyak ini? Uang hasil ceramah kemarin ini belum aku kasih ke kamu sayang. Ini masih ada sisanya sayang." ucap Dimas sambil menyerahkan uang pada istrinya.
"Udah kamu pegang aja mas, nanti 'kan di sana kita bagi-bagi rezeki juga untuk saudara-saudaramu mas."
"Makasih ya sayang! Kamu baik." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Iyah ... iyah." ucap mumut.
"Wah, aku juga dapet jatah nih." sahut Rian sambil tersenyum.
"Iyah tenang aja yan, aku pasti bayar kamu."
"Ha .. Ha .. Ha. Mantep, semangat ini aku." ucap Rian sambil ketawa.
Dari pasar rangkas bitung menuju kampung Dimas setengah jam. Kini Dimas sudah ada di depan rumah bibinya. Dimas langsung mengetuk pintu rumah bibinya.
"Tok"
"Tok"
"Tok"
Belum ada yang buka pintu. Dimas kembali lagi mengetuk pintu, baru di buka oleh bibinya. saat bibi siti membuka pintu rumahnya, bi situ tidak begitu mengenali Dimas, karena dulu Dimas kumel, dekil, kurus, hitam, tapi sekarang Dimas bersih, badannya berisi dan ganteng.
"Eh ... Siapa ya?" tanya bi siti saat membuka pintu.
"Coba tebak ini siapa." ucap Dimas sengaja agar bibinya sadar jika yang di hadapannya itu keponakannya yang dulu suka di beri makan.
"Siapa ya? Saya ko kaya pernah liat tapi di mana ya?"
"Ini keponakan bibi yang dulu suka kelaparan terus bibi kasih makan, padahal bibi juga susah hidupnya."
Mendengar ucapan Dimas, bi siti menangis dan langsung memeluk Dimas. bi siti senang bercampur sedih saat ada Dimas.
"Dimas keponakan bibi, Dimas maaf 'kan bibi dulu bibi tidak berusaha mencari kamu ke kota, karena bibi tidak punya ongkos."
"Tidak apa-apa bi, kenalin bi, ini istri Dimas dan teman Dimas." ucap Dimas memperkenalkan mumut dan Rian, bi siti kaget ketika mendengar istri.
"Istri? ini istri Dimas?" tanya bi siti sambil melihat wajah mumut.
"Iyah bi."
"Loh ko bibi tidak di undang kepernikahmu Dim."
"Ceritanya panjang bi, nanti Dimas certain."
"Istrimu cantik Dim." ucap bi siti sambil tersenyum.
"Saya mumut, bibi." ucap mumut memperkenalkan diri.
"Saya Rian, bibi." ucap Rian memperkenalkan diri.
"Saya bi siti, bibinya Dimas." ucap bi siti sambil tersenyum.
Bi siti pun mempersilahkan mereka masuk rumahnya. Sebelum masuk Dimas dan Rian mengambil oleh-oleh. Semua oleh-oleh sudah di masukan semua ke dalam rumah bi siti.
"Ko banyak banget ini Dim! Buat siapa?" tanya bi siti kaget melihat banyak makanan.
"Ya, buat bibi lah." ucap Dimas sambil tersenyum.