
Jam 9 malam, Dimas di panggil MC untuk ceramah, saat Dimas sudah maju banyak ibu-ibu yang tertarik.
"Wah .. Ini ustad nya ganteng, ceramahnya mantep lagi, isi ceramahnya menyentuh hati." ucap salah satu ibu pengajian.
"Udah nikah belum ya itu ustad? Kalo belum mah, em ... buat anakku saja." ucap ibu pengajian.
"Dari mana sih ustad nya, lain kali kalo anak aku nikah mau ngundang ustad ini aja lah." sa ucap salah satu ibu pengajian.
"Andai aku punya menantu seperti ustad ini, beh ... Pasti aku sebagai ibunya bahagia." ucap salah satu ibu pengajian.
"Aku pengen punya mantu kaya ustad ini." ucap salah satu ibu pengajian.
"Iyah bu, saya juga pengen punya mantu kaya ustad ini." ucap salah satu ibu pengajian sambil tersenyum.
Begitu lah Dimas, saat ia sedang ceramah pasti banyak ibu-ibu yang menyukainya, karena ia ganteng, cerdas, dan cara berdakwahnya selalu menyentuh hati tidak banyak bercanda. Ia juga memiliki suara yang sangat merdu, ketika ia membacakan firman allah, suaranya terdengar menyentuh hati.
Dimas selesai ceramah, sekitar satu jam lebih ia berdakwah, lalu ia duduk lagi di tempat yang sudah di sediakan.
"Ustad, silakan di minum!" titah teman pak kiai ahmad, memberikan air minum.
"Makasih pak." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Ustad, saya sangat kagum mendengar ustad ceramah, hati saya tersentuh, teringat dosa-dosa saya di masa lalu. Apa allah akan mengampuni saya ustad?" tanya teman pak kiai ahmad.
"Allah maha pengampun, setiap manusia yamg bertaubat pasti Allah akan ampuni." ucap Dimas.
"Meski dosanya banyak ustad?" tanya teman pak kiai ahmad.
"Seumpama dosa kita selautan, jika bertaubat, insya allah, allah akan ampuni.
Usai acara pengajian, Dimas dan Rian beristirahat di kamar yang sudah di sediakan, mereka akan pulang besok pagi.
"Dim, ceramah mu, mantep banget, aku juga tersentuh. Kamu hebat Dim, bisa membuat banyak orang tersentuh hatinya!" ucap Rian memuji Dimas saat sedang duduk di kasur.
"Alhamdulillah, semua ini karena allah, allah yang bisa buat aku seperti itu." ucap Dimas.
"Dim, pasti kamu dapet amplop nomplok, ini mah pasti jutaan dapetnya, ha .. ha .. ha." ucap Rian sambil ketawa.
"Jangan terlalu mengharapkan isi amplop nya! kalo dapet kecil nanti kecewa lagi, gi mana di kasihnya aja lah." ucap Dimas sambil makan kue.
"Iyah ... iyah, ustad, eh ... Itu apa Dim?" tanya Rian.
"Iyah ... aku tau itu kue, tapi ko akh belum pernah liat kue itu ya." ucap Rian sambil memegang kue tersebut.
"Kamu nora sih ya, ini namanya brownis." ucap Dimas sambil ketawa.
"Bukan bolu?" tanya Rian
"Bukan yan, masa sih kamu belum pernah liat kue ini?" tanya Dimas sambil senyum.
"Bener, aku belum liat, di kampungku bidanya paling bolu." ucap Rian lalu mencobanya.
"Buset deh ... ini enak banget, gurih, manis nampol dan rasa coklatnya nikmat banget." ucap Rian sambil makan brownis.
"Rian ... Rian, aku aja orang kismin udah pernah coba kue ini, ini kamu liat aja belum pernah." ucap Dimas sambil tersenyum.
Di kamar mereka pun, di sediakan makanan, buah-buahan, dan minuman.
"Beh .. Coba liat, ini buah anggur ijo, biasanya kan, anggur itu ungu." ucap Risn sambil makan anggur.
"Duh ... Udah deh yan, jangan nora makan aja!" ucap Dimas sambil maka buah jeruk.
"Pasti kita pulang nanti di beri oleh-oleh makanan dan buah-buahan juga dim." ucap Rian.
"Ga tau, ya udah, ayo kita tidur ini sudah jam dua belas lewat! Nanti kan besok pagi kita akan berangkat ke rumah saudara pak kiai.
"Duluan aja lah, aku lagi menikmati buah-buahan ini! Em .... Enak banget ini buah." ucap Rian sambil makan buah anggur.
"Rian ... Rian." ucap Dimas sambil menggelengkan kepalanya.
Pagi tiba, sekitar jam 7, Dimas dan Rian sudah bangun dari subuh, usai sholat subuh mereka tidur lagi. Dan Dimas terbangun karena ingin kencing.
"Ya allah, sudah jam 7 pagi!" ucap Dimas kaget melihat sudah jam 7 pagi.
"Hei .... Yan, bangun! Ini sudah jam 7 pagi." ucap Dimas membangunkan Rian sambil memukul pelan tangannya.
"Eh ... Ini anak diem aja." ucap Dimas lalu ke kamar mandi.
Usai dari kamar mandi, ia melihat Rian masih tidur.
"Yan ... Bangun yan! Hei .. Bangun yan!" ucap Dimas dengan suara kencang.
"Duh ... Apa sih, ganggu aja. ada apa?" tanya Rian lalu bangun.
"Ini sudah jam 7 pagi, bangun! Kita ga enak di rumah orang masa tidurnya sampe jam segini."
"Ah ... Bodo amat lah, kita kan tamu." ucap Rian sambil tidur lagi.
"Hei .... Ayo bangun! Jangan gitu!" titah Dimas.
Tak lama kemudian, ada suara orang mengetuk pintu.
"Dimas, Rian." ucap pak kiai ahmad membangunkan.
"Duh ... Itu suara bapak kiai, ga enak banget aku sampe di bangunin gini." gumam Dimas.
"Maaf pak, Dimas kesiangan." ucap Dimas merasa bersalah.
"Rian mana? Ayo kita berangkat! tapi sarapan dulu, sudah di sediakan sarapannya, bapak tunggu di ruang tamu." ucap pak kiai ahmad.
Mereka juga di sediakan sarapan pagi, dan sarapan pagi itu juga makanannya enak-enak.
"Yan ... bangun!" ucap Dimas sambil mencubit pantat Rian.
"Aw ... Sakit Dim." ucap Rian bangun karena merasa sakit di cubit Dimas.
"Kamu mah kebiasaan, kalo bangunin aku nyubit pantat, mana nyeri bangt." ucap Rian kesal.
"Kamu sih, lama bangunnya. Tadi ada pak kiai bangunin kita untuk sarapan." ucap Dimas.
"Wah ... Sarapan, siap ... Siap, aku mandi dulu bentar. Ucap Rian lalu pergi ke kamar mandi.
"Giliran denger makanan aja, langsung buru-buru mandi." gumam Dimas.
Usai mandi, Dimas dan Rian menuju ruang tamu, pak kiai dan temanya sudah sarapan duluan.
"Ayo sarapan dulu, ustad Dimas dan Rian! Ucap teman pak kiai sambil tersenyum.
"Ayo sarapan dulu, Dim, yan!" tatah pak kiai ahmad.
"Bapak ke depan dulu ya." ucap kiai ahmad lalu pergi bersama temannya.
"Beh ... Mantap Dim." ucap Rian sambil mengambil nasi.
"Bismilah!" titah Dimas.
"Iyah, alhamdulilah ya, kita dapet rizki nomplok. Pagi-pagi dapet sarapan yang lezat-lezat gini. Ucap Rian sambil tersenyu.
"Udah, jangan banyak ngomong! takut ada yang dengar, kan malu." ucap Dimas.
Usai mereka makan, mereka langsung pamita pulang.
"Maaf pak yanto, saya harus pulang sekarang." ucap kiai ahmad
"Saya yang harus minta maaf, karena sudah merepotkan pak kiai dan murid-murid bapak." ucap teman pak kiai sambil menyerahkan amplop pada pak kiai ahmad.
"Masya Allah ... Makasih ya pak." ucap kiai ahmad sambil tersenyum.
"Dimas juga pamit pak." ucap Dimas sambil salaman, dan pak yanto memberikan amplop ke tangan Dimas.
"Makasih pak." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Rian juga pamit pak." ucap Rian sambil tersenyum, lalu salama, dan pak yanto memberikan amplop.
'Beh ..... Amplopnya tebal banget ini, isinya pasti jut jut.' batin Rian saat sudah memegang amplop.
mereka pun, di berikan oleh-oleh beras, sayuran dan buah-buahan.
"Ini juga ada sedikit oleh-oleh pak. Ini untuk bapak, Ini untuk Dimas dan ini untuk Rian." ucap pak yanto sambil memberikan oleh-oleh.
"masya allah pak, terima kasih ya!" ucap pak kiai ahmad sambil tersenyum.
"Sama-sama pak." ucap pak yanto.
"Terima kasih pak." ucap Dimas.
"makasih ya pak." ucap Rian.
"Iyah ... Sama-sama." ucap pak yanto.
"bang, tolong beras yang di dalam masukan ke dalam mobil pak kiai ahmad." titah pak yanto pada sodaranya.
pak kiai kaget saat di masukan beras sampe 4 karung ke dalam mobilnya.
"Pak yanto, ga usah banyak- banyak pak!" ucap Pak kiai kaget.
"Ga apa-apa pak. Itu untuk bapak 2 karung, Dimas 1 karung dan Rian juga 1 karung." ucap pak yanto.
Pak yanto adalah teman pak kiai, ia yang mengundang mereka ke acara pernikahan putrinya. Pak yanto orang kaya, ia juga sangat baik.
"Bang, tolong ambilkan daging di kulkas!" titah pak yanto pada saudaranya
"Iyah pak.
"Sudah-sudah, jangan pak yanto! karena saya mau nginep satu malam di rumah saudara saya, jadi nanti dagingnya ke buru bau." ucap pak kiai.
"Masukin kulkas saudara bapak aja!" titah pak yanto.
"ya allah ... Pak, makasih ya." ucap kiai ahmad.
mereka kini sudah naik ke dalam mobil, mobilnya penuh dengan oleh-oleh.
'Mimpi apa aku ya, dapet amplop setebal ini.' batin Rian.
"Dim, ini rezeki nomplok, amplopnya tebal dan kita juga di beri oleh-oleh." bisik Rian sambil tersenyum.
"Sust ... Udah jangan berisik!" ucap Dimas dengan suara kecil.
"Huh, ga asyik." ucap Rian dengan suara kecil.