
Sampai di rumah, Dimas dan mumut langsung makan. Sedangkan Rian sudah kembali pulang. Mumut ingin makan mie instan.
"Mas, laper aku, masak mie instan aja ya."
"Jangan sayang! kata dokter kamu ga boleh sering-sering makan mie instan."
"Dua minggu lalu aku makan mie. Sekarang aku pengen banget. ayo bikinin mas!"
"Hum, ya sudah, aku bikinin."
"Pake telor dua, pake saos dan pake cabe!"
"Jangan pake saos dan cabe nanti pedes kasian anak kita!" titah Dimas. Dimas tidak mau jika istrinya makan pedes, karena dokter kandungan selalu mengingatkan itu.
"Satu aja cabenya, boleh ya?" tanya mumut yang ingin sekali mie instannya pake cabe."
"Jangan!"
"Hum. Ya udah kalo gitu telornya tiga." ucap mumut dengan wajah cemberut.
"Emang abis mie pake telor tiga?" tanya Dimas.
"Abis." ucap mumut sambil cemberut.
Dimas pun masak mie instan menuruti kemauan istrinya. Ia masak mie punyanya mie satu telor satu sedangkan istrinya mie satu telor tiga. usai masak mereka langsung menikmati mie instan. Mumut bisa menghabiskan mie instan satu dengan telor tiga.
"Ya ampun abis, maklum ibu hamil." gumam Dimas dalam hati.
"Mas, aku mau kupas mangga, kamu mau ga?" tanya mumut yang makan buah mangga, padahal ia sudah makan mie instan dengan telor tiga.
"Kamu belum kenyang sayang?" tanya Dimas sambil tersenyum.
"Udah sih, tapi aku mau buah, buat cuci mulut."
"Hum. Iyah aku mau sayang. Tolong kupasin ya!"
***
Fatimah sedang duduk santai di kasur, ia menatap poto Dimas. Ia ingin ke rumah Dimas hari ini. Tapi ia malas untuk izin pada ayahnya.
"Aku harus alasan apa sama ayahku, aku ingin pergi menemui Dimas, aku rindu." gumam mumut dalam hati.
Fatimah membaringkan tubuhnya di kasur sambil memeluk bantal guling. Ia memikirkan cara agar bisa ke luar dari rumahnya. Fatimah kini susah untuk bisa ke luar rumah, karena semua jendela rumah di tralis dan setiap ayahnya kerja pintu rumah selalu di kunci dan kuncinya di diumpetin mimi.
"Aku seperti di penjara, aku ga bisa ke luar rumah lagi, ayah dan ibu keterlaluan." gumam fatimah.
Semenjak iman dan mimi mengetahui masalah fatimah. Kini iman dan mimi semakin ketat membuat peraturan untuk fatimah. Fatimah hanya boleh ke luar rumah jika bersama orang tuanya dan kakaknya.
"Neraka ini mah, aku ga bebas. Kesel aku hidup gini, sudah tiga minggu aku di kurung di rumah." gumam fatimah.
Mimi memasuki kamar fatimah, mimi menyuruh fatimah untuk makan. Fatimah jika di suruh makan susah semenjak orang tuanya membuat peraturan yang ketat.
"Sayang, ayo makan dulu! kamu belum makan dari pagi."
"Ibu aja yang makan, ibu ga usah suruh-suruh aku, nanti juga kalo aku laper tinggal ngambil sendiri." ucap fatimah tanpa melihat wajah mimi.
"Ini udah siang sayang, kamu belum makan."
"Aku males bu, ibu dan ayah tega kurung aku di rumah, aku ga boleh ke luar rumah."
"Ibu dan ayah enggak kurung kamu sayang, kan kata ibu dan ayah kalo mau keluar rumah bisa sama ibu, ayah dan kakakku. Ibu dan ayah seperti ini karena ingin menjaga kami sayang."
"Menjaga bagaimana bu? Aku itu udah gede, masa aku mau main harus di ikuti ibu, ayah dan kakak!" ucap fatimah marah.
"Maaf 'kan ibu sayang, ini semua demi kebaikanmu. Ya udah ayo kita ke luar rumah sama ibu! kamu mau ga sayang? Kita jalan-jalan ke taman bunga terus kita makan kue di toko kue kesukaanmu. Ajakan mimi tidak di jawab fatimah. Putrinya diem saja dan tidak melihat wajah mimi.
"Mau kan sayang?"
"Ga bu, ibu aja sana yang pergi! Aku males." ucap fatimah marah.
Mimi pun meninggalkan fatimah menuju ruang tamu. Mimi melihat Ridwan sedang santai di kursi sofa dan dia menghampirinya.
"Kakak, ibu minta tolong, kamu mau 'kan?"
"Apa bu?"
"Tolong ajak adikku pergi ke luar rumah. Ajak dia jalan-jalan ke mana aja asal kamu temani, jaga adikmu. Semenjak ayah dan ibu buat peraturan baru fatimah makan jadi susah dan dia jarang ke luar rumah."
"Kakak, ibu dan ayahmu seperti ini 'kan demi kebaikan adikmu."
"Tapi ga gitu juga bu, kalo fatimah di teken gitu dia malah makin sedih."
"Sudahlah, bagaimana orang tua aja, kamu ajak sana adikmu! Rayu dia supaya jalan sama kamu."
"Ya sudah, aku samperin fatimah dulu." ucap Ridwan lalu pergi menuju kamar fatimah.
Dua puluh menit Ridwan merayu fatimah, akhirnya adiknya mau di ajak ke luar rumah. Tapi saat mendengar adiknya mau ke rumah matanya yang sudah menikah, Ridwan kaget dan ragu untuk menemani adiknya.
"Dek, jangan gitu! Dia 'kan udah nikah, kalo kamu ke sana malu dek."
"Bodo amat, kalo kakak ga mau antar aku ke sana, aku ga mau jalan sama kakak, aku juga ga mau makan." ucap fatimah dengan wajah marah.
"Kalo ibu dan bapak tau nanti kakak di marahin."
"Ka, tolong bantu aku, aku cuma mau temui Dimas, aku rindu."
"Hum, ya sudah, tapi jangan lama-lama."
***
Kini Fatimah dan Ridwan sudah di depan rumah Dimas. Fatimah langsung mengetuk pintu rumah Dimas, tapi Ridwan menahannya.
"Dek, malu dek, kalo ada istrinya gimana?" Ridwan merasa malu jika adiknya menghampiri suami orang.
"Kalo kakak malu, kakak tunggu aja di bawah pohon mangga, sana kakak!" titah fatimah.
"kamu harus malu dek, kalo ada istrinya bagaimana?" tanya Ridwan sambil mengerutkan alisnya.
"Bodo amat ada istrinya juga, ya udah sana kakak!"
Ridwan pun pergi ke pohon mangga yang ada di depan rumah Dimas, Ridwan bersembunyi di dekat pohon mangga yang besar itu. Fatimah mengetuk pintu rumah Dimas.
"Tok"
"Tok"
"Tok"
Pintu di buka, yang membuka pintu mumut. Fatimah langsung memasang wajah takut, tapi dia harus berani demi bertemu Dimas. Mumut terdiam dan menatap wajah fatimah dengan tatapan marah.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya mumut dengan wajah marah.
"Aku ingin bertemu Dimas, aku rindu." ucap fatimah membuat mumut tersenyum kecut.
"Enggak salah kamu? Kamu ga tau malu datang ke rumah suami orang."
"Aku ga malu, mana Dimas?"
"Pergi kamu! Pergi! Ini rumahku kamu ga pantes ada di sini." mumut semakin marah dan mengusir fatimah.
"Aku ga akan pulang sebelum bertemu Dimas."
"Pergi kamu! Dimas ga ada."
"Bohong, aku yakin Dimas ada di dalam. Ka Dimas, ka Dimas!" seru fatimah.
Dimas yang sedang mandi mendengar suara fatimah. ia langsung memakai baju dan menghampirinya dengan perasaan kesal.
"Ada apa fatimah? Mau apa kamu ke sini?" tanya Dimas dengan wajah marah. Dimas sangat kesal pada fatimah yang beraninya menemui dirinya.
"Aku rindu kamu Kaka! Kita jalan yu!" ucap fatimah sambil tersenyum.
"Kamu gila fatimah, tolong ya fatimah jangan ganggu aku! Aku sudah punya istri dan sebentar lagi aku akan punya anak. Jadi berhenti berharap cintaku. Sampai kapan pun aku ga akan kembali padamu.
"Ayo masuk mas! Jangan di layani perempuan seperti dia! ga punya harga diri beraninya nyamperin suami orang." titah mumut dan mumut menutup pintu rumahnya dengan kencang.
"Bruk"
"Hai, buka pintunya! kamu yang sudah ambil Dimas darimu. Aku akan terus dekati suamiku.
"Kasian sekali adikku. Dia sampe seperti itu, berarti cintanya begitu besar pada Dimas." gumam Ridwan lalu menghampiri fatimah.
"Ayo dek, kita pulang!"