
Usai membeli kosmetik, fatimah langsung mencobanya, ia juga mencoba baju pilihannya untuk di pakai saat bertemu Dimas. Baju yang fatimah beli gamis berwarna hitam dan jilbab hitam. Fatimah tau jika Dimas suka melihat perempuan memakai baju hitam mangkanya ia membelinya.
"Bagus banget baju ini, aku sangat cocok pakai baju ini." gumam fatimah sambil bercermin.
Fatimah menghubungi kakaknya. Ia menyuruh Ridwan masuk kamarnya agar melihat baju barunya. Ridwan pun segera memasuki kamar fatimah.
"Ada apa sih dek? Ganggu aja." ucap Ridwan.
"Emang kakak lagi sibuk?"
"Enggak ko."
"Kak, liat aku pake baju ini pantes 'kan?" tanya fatimah sambil tersenyum.
"Kamu itu cantik dek, jadi mau paka baju model apa pun kamu tetep cantik."
"Ini lebih cantik gak kak?"
"Cantik banget, pantes. Kamu tumben beli baju warna hitam dek?"
"Aku beli baju ini demi Dimas, kalo aku ketemu dia aku akan pakai baju ini kak."
"Ya ampun dek, Jadi demi si Dimas."
"Iyah kak, baju ini mahal harganya 800 ribu." ucap fatimah sambil mengusap baju yang di pakainya.
"Terserah deh. Emang kamu mau ketemu Dimas?"
"Gak tau kak, Dimas susah di ajak ketemu."
"Laki-laki seperti Dimas itu tidak mudah untuk selingkuh."
"Aku yakin dia pasti mau berhubungan denganku."
"Ya udah kakak keluar." ucap Ridwan sambil menggelengkan kepalanya.
***
Usia kandungan mumut kini sudah 8 bulan 2 minggu sebentar lagi ia akan melahirkan. Namun saat-saat bahagianya itu suaminya tidak perhatian lagi seperti dulu. Mumut ingin cerita pada orang tuanya, tapi ia ragu, ia tidak mau orang tuanya kepikiran.
"Nak, kamu sebentar lagi akan melihat dunia." gumam mumut sambil mengusap perutnya.
Mumut ingin sekali suaminya seperti dulu. Ia tidak sanggup jika suaminya bersikap cuek. Semua ada dirinya, jika mumut mau cerita pada suaminya pasti Dimas akan kembali menjadi suami yang sangat perhatian, memanjakan istri setiap hari. Mumut rindu masakan suaminya, mumut juga rindu ingin di manja setiap hari bagaikan ratu.
"Mas, aku ingin di manja kamu lagi. Di saat aku sedang hamil besar gini, kamu cuek, aku sedih mas. Tapi apa lah semuanya gara-gara aku. Kenapa Dimas harus membuka lemariku." gumam mumut.
Mumut mendekati Dimas, ia ingin mengajak suaminya ke rumah sakit. Mumut ingin USG ia ingin di antar suaminya seperti biasa.
"Mas, ini jadwal USG anak kita. Antar aku ke rumah sakit ya!"
"Iyah." ucap Dimas tanpa melihat wajah mumut.
Dimas mau mengantar istrinya. Karena ia tidak tega jika istrinya USG sendiri, apa lagi rumah sakitnya yang lumayan jauh bisa 30 menit dari rumah mumut.
"Mas, kini kandunganku sudah 8 bulan 2 minggu, aku ingin kamu seperti dulu yang selalu manjain aku."
"Maaf aku gak bisa mut. Kalo kamu mau cerita baru aku mau, mulai besok sudah ada orang yang akan mengerjakan pekerjaan rumah jadi kamu gak usah repot-repot beres-beres dan lain-lain."
"Gak usah mas, aku bisa sendiri ko."
"Udah kamu diam! Biar aku yang ngatur semua. Kamu lagi hamil gak boleh kecapean."
"Siapa orang yang akan jadi pembantu di rumah kita?"
"Ada masih orang sini."
"Aku gak mau kalo masih muda, aku takut dia nanti suka kamu. Aku mau pembantu yang sudah berumur 40 ke atas." protes mumut.
"Udah lah kamu jangan banyak ngatur! yang penting ada pembantu."
"Besok pagi orang itu akan ke sini.
Mumut hanya bisa pasrah. Ia tidak bicara lagi, karena wajah Dimas sudah marah. saking sayangnya ia pada suaminya sehingga pembantu yang akan membatunya tidak boleh masih muda. Ia takut jika perempuan itu menyukai suaminya. Jika semua perempuan sudah mengenal Dimas pasti suka, karena Dimas ganteng, pintar dan juga sholeh.
Kini sudah jam 6 pagi, Dimas menunggu seseorang yang akan membantu istrinya. Dimas minum kopi sambil makan roti, kini sudah jam 7 pagi tapi orang yang di tunggunya belum datang juga.
"Lama amat sih, janji datang jam 6 pagi, tapi ini sudah jam 7 pagi belum nongol juga." gumam Dimas.
Mumut membuat sarapan nasi goreng untuknya dan suaminya. mumut juga membuat gorengan tempe sebagai lauk nasi goreng.
"Aku udah sarapan roti, lagian ngapain kamu masak segala 'kan aku udah bilang mau ada pembantu pagi ini."
"Tapi mana mas pembantunya? Aku 'kan laper jadi aku masak. Ayo kita makan mas!"
"Gak, aku uda sarapan roti."
"Kamu 'kan biasanya kalo sarapan roti gak kenyang. Jadi ayo kita sarapan nasi goreng mas! Enak loh mas." ucap mumut merayu Dimas.
"Gak, aku gak mau mut, kamu makan sendiri aja."
Mumut pergi ke dapur, ia makan sediri dengan perasaan sedih. Tak lama kemudian pembantu itu datang. Pembantu itu datang jam 9 pagi. Dimas kesal menunggunya, karena Dimas tidak suka menunggu.
"Maaf mas, saya telat, tadi di jalan macet." ucap perempuan itu.
"Kamu seperti." ucap Dimas.
"Seperti siapa mas?" tanya pembantu itu.
"Gak, nama kamu siapa?"
"Namaku Lela mas."
"Ya sudah lela sini masuk." ucap Dimas
Dimas memperkenalkan lela dengan istrinya. Mumut tidak suka dengan adanya lela, karena lela cantik dan masih muda. Ia takut lela menyukai suaminya.
"Kamu pakai kaca mata apa matamu minus?" tanya mumut.
"Iyah bu."
"Usia kamu berapa?"
"25 bu."
"Masih muda, kamu bisa masak 'kan?"
"Bisa bu. Saya jadi pembantu sudah 8 tahun."
"Oh. Berarti kamu bisa masak apa saja." ucap mumut dengan tatapan mencurigai.
"Bisa bu."
"Oh. Bagus silahkan kamu masuk dapur! kamu masakin saya sayur asem, goreng ikan bawal, sambal terasi dan goreng tempe. Dan kamu juga jangan lupa nyuci baju!"
"Baik bu." ucap lela lalu masuk dapur.
Mumut curiga pada lela menurutnya lela itu seperti orang yang pernah ia temuai. Tapi ia lupa lagi namanya siapa.
"Ko lela seperti." gumam mumut.
Mumut mendekati suaminya dan bertanya. Ia ingin tau dari mana pembantu itu asalnya.
"Mas, aku bolah tanya gak?"
"Tanya apa?"
"Pembantu itu asalnya dari mana?"
"Aku gak tau orang mana, aku dapet dia dari tetangga kita. Kata tetangga kita dia pembantu yang sudah berpengalaman dan pintar."
"Tapu 'kan kita gak tau dia asalnya dari mana?"
"Kamu bawel, iyah nanti aku tanya ke tetangga kita si lela itu orang mana."
Dalam waktu 50 menit lela sudah selesai masak. makanan semua sudah ada di atas meja dan lela menyuruh majikannya untuk makan.
"Pak, bu, mari makan saya sudah selesai masak." ucap lela sambil tersenyum.
"Iyah. Kamu nyuci sana!" ucap mumut.
Dimas langsung makan, ia nambah dua kali, karena rasa masakannya lela sangat enak. Mumut cemburu dengan lela, karena suaminya menyukai masakan lela.
"Enak bangat ini semua masakannya. Enak 'kan masakan lela dari pada kamu mut." cetus Dimas.
Mumut tidak menghabiskan makannya, ia tidak suka suaminya bicara seperti itu. Dimas tidak minta maaf, Dimas tetap melanjutkan makannya.
"Gitu doang marah, kamu mah cepat marah." ucap Dimas.