
Terdengar suara dari HP dimas, Dimas langsung mengambil HPnya, saat ia melihat hpnya tertera nama pak kiai ahmad.
'pak kiai, ada apa ya?' tanya Dimas dalam hati.
("Dim, hari ini ikut bapak ya, kita akan pergi ke luar kota, ada undangan ceramah, bapak ingin Dimas yang tampil di acara itu.") ucap kiai ahmad.
("Insya allah, Dimas siap pak.") ucap Dimas semangat.
("Ya udah bapak tunggu ya, jangan lama-lama, karena kita langsung berangkat!") titah kiai ahmad.
("Iyah pak.")
("Nanti nginep dua malam Dim, di rumah saudara bapak, bapak ada perlu juga.") ucap kiai ahmad.
("Iyah, pak.")
("ya udah, bapak matikan ya telponnya, assalamualaikum.") pak kiai ahmad memutuskan sambungan teleponnya.
Dimas bahagia mendapatkan undangan ceramah, apa lagi ke kuar kota, karena dulu waktu itu Dimas pernah di undang ngaji qori ke luar kota dan bayarannya tinggi nyampe 5 juta sekali pentas, di acara maulid nabi. Apa lagi ini ceramah bisa dapet lebih dari itu.
'Alhamdulilah ya allah, aku dapet undangan lagi, apa lagi ini ke luar kota, em .... Pasti amplopnya tebal. Astagfirullah, maafkan aku ya Allah, kenapa aku sangat berharap bayarannya, ini kan sudah menjadi kewajibanku memberikan sebagian ilmuku ke orang-orang agar ilmuku bermanfaat. Ya allah maaf kan aku karena terlalu berharap uangnya, mau besar atau kecil aku harus bisa ikhlas.' batin Dimas.
Dimas sangat senang jika ia di suruh ceramah, karena memang dari kecil ia bercita-cita ingin jadi pendakwah.
Dimas langsung bersiap-siap, ia mandi lalu menyiapkan baju untuk ganti ke sana.
"Mas, kamu mau ke mana?" tanya mumut yang baru bangun tidur.
"Eh .. Sayang udah bangun, baru aja, aku mau bangunin kamu. Eh kamu udah bangun sayang." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Kamu mau ke mana mas, pagi-pagi gini?" tanya mumut mengerutkan keningnya.
"Mut, aku di suruh ceramah ke luar kota oleh pak kiai ahmad, pak kiai ingin aku yang ceramah, aku di suruh nginep dua malam di rumah saudara pak kiai." ucap Dimas.
"Kenapa ga pak kiai ahmad aja yang ceramahnya? Kenapa harus kamu?" tanya mumut bingung.
"Aku ga tau, mungkin biar aku terkenal di kota sana dan nanti kan aku bisa ke panggil lagi mudah-mudahan." ucap Dimas.
"Terus kenapa kamu harus nginep juga sih? Aku kan sendiri mas." ucap mumut mengerutkan alisnya.
"Pak kiai ada perlu di rumah saudaranya, jadi harus nginep di sana." ucap Dimas.
"Kamu langsung pulang aja sih, jangan nginep, izin ke pak kiai!" titah mumut.
"Aku ga enak mut, masa berangkat bareng pulang sendiri, kurang sopan mut, apa lagi pak kiai guruku." ucap Dimas tak mau menuruti keinginan mumut.
"Em ... Ya sudah lah sayang, kamu jaga diri baik-baik ya. Eh ... Terus ini kamu mau ke pesantren pak kiai ahmad dulu apa du jemput ke sini?" tanya mumut takut, karena ia takut Dimas bertemu dengan fatimah.
"Akh ke pesantren dulu mut." ucap Dimas sambil memasukan bajunya ke dalam tas.
"Waduh ... Waduh, jangan ke pesantren pak kiai mas! aku takut kamu bertemu dengan gadis itu!" ucap mumut takut.
"Hei .... Sayang, kamu cemburu?" tanya Dimas sambil tersenyum lalu memegang pipi mumut.
"Iyah lah, aku cemburu mas, aku kan cinta kamu." ucap mumut cemberut.
"Mut, dengar ya! aku sudah janji akan selalu menjagamu dan insya allah aku setia padamu, jujur kini hatiku perlahan-lahan mulai mencintaimu." ucapan mumut membuat mumut bengong.
'Dimas ternyata belum bisa mencintaiku dengan sepenuh hati, mungkin rasa cinta dia padaku masih setengah? mungkin dia masih mencintai gadis itu?' batin mumut bertanya-tanya.
"Sayang, kenapa kamu diam saja, hei ... Jangan bengong sayang!" ucap Dimas.
"Eh .. ga, mas, kamu belum bisa mencintaiku mas? Apa kamu masih mencintai gadis itu?" tanya Mumut sambil cemberut.
"Tadi kan aku udah bilang mut, kini hatiku pelan-pelan mulai mencintaimu." ucap Dimas.
"Iyh berarti, kamu masih cinta gadis itu kan?" tanya mumut penasaran.
"Duh ... Mut, kamu pernah jatuh cinta ga sih? Ya udah kita bahas nanti aja, aku di suruh cepat-cepat ke sana, pak kiai udah nunggu." ucap Dimas tak meneruskan pertanyaan mumut.
"Kamu bawa motorku aja mas!" titah mumut.
"Aku naik greb mut, udah pesan tadi, sekarang tukang grab nya bentar lagi sampe." ucap Dimas sambil memakai peci.
Mumut ke dapur mengambilkan air putih dan roti untuk bekal Dimas.
"Mas, ini ada air minum da roti buat kamu." ucap mumut sambil memasukan air putih dan roti ke dalam tas Dimas.
"Udah ga apa-apa, kamu juga kan belum sarapan mas, bekalnya buat kamu di jalan takut kamu laper. Ucap mumut sambil tersenyum.
"Ya udah, makasih istriku sayang!" ucap Dimas sambil mencium kening mumut.
Sekarang Dimas sudah terbiasa mencium mumut tanpa ragu lagi.
"Cium lagi mas! Kan kamu bakal lama di sana, aku pasti rindu." ucap mumut manja.
"Emuchhh ...umachh. dua kali ciumanku untuk istriku sayang. Ucap Dimas sambil tersenyum.
"Em ... Gitu dong mas, kamu harus terbiasa cium aku."
"Ya udah, akh berangkat ya mut, ojeknya udah di depan." ucap Dimas sambil membuka pintu depan rumah.
"Mas Dimas ya?" tanya tukang ojek online.
"Iyah."
"Sayang, aku berangkat ya, kamu jaga diri baik- baik, kalo ada apa-apa hubungi aku ya! " titah Dimas.
"Iyah mas, kamu hati-hati, kamu jga jaga diri baik-baik." ucap mumut sambil mencium tangan Dimas.
"Assalamualaikum." ucap salam Dimas.
"Waalaikumsalam." ucap salam mumut sambil melambaikan tangannya.
***
Sampai di rumah pak kiai ahmad, Dimas langsung di sambut pak kiai ahmad dan Rian.
"Hai Dim .... aku juga ikut ke sana bersamamu, jadi kita bisa menghabiskan waktu berdua. aku di suruh jadi MC oleh pak kiai ahmad." ucap Rian sambil tersenyum.
"Wah ... Alhamdulilah, jadi kita bisa ngobrol lama, melampiaskan kerinduan kita." ucap Dimas sambi tersenyum.
"Dim, kamu, sarapan belum?" tanya pak kisi ahmad.
"Udah pak." ucap Dimas bohong, ia sebenarnya belum sarapan, karena tadi pagi belum sempat masak. Dimas bohong karena pasti pak kiai akan menyuruh ia sarapan, ia tak mau merepotkan pak kiai.
"Rian udah sarapan?" tanya pak kiai.
"Udah pak." ucap Rian juga bohong.Rian belum sarapan juga karena ia abis sholat subuh, ngaji tidur lagi, jadi belum sempat sarapan.
"Alhamdulillah, kalo sudah sarapan semua, ayo kita langsung berangkat sekarang! Supirnya udah nunggu. Titah pak kiai dan mereka langsung mengikuti langkah pak kiai menuju mobil.
Di perjalanan bogor menuju jakarta, lumayan jauh juga, Dimas yang biasa jam 7 pagi suda sarapan namun kini sudah jam setengah sembilan belum sarapan. Ia merasa lapar lalu membuka tasnya.
'Eh ... aku kan ada roti di tas, bekal dari mumut, aku makan ah ... lumayan buat ganjal perutku.' ucap Dimas di dalam hati.
Dimas membuka tasnya lalu mengambil roti dan roti itu ada dua, ia memberi roti satunya untuk Rian.
"Yan, ini mau ga?" tanya Dimas sambil memberikan roti.
"Ya allah ... Kebetulan aku belum sarapan." ucap Rian dengan suara kecil karena takut terdengar pak kiai yang duduk di depan dekat supir.
"Tadi kamu bilang udah sarapan, pas di tanya pak kiai." ucap Dimas dengan suara kecil.
"Aku bohong." ucap Rian dengan suara kecil sambil tersenyum.
"sue." ucap Dimas sambil ketawa.
***
Sampai di tempat tujuan, mereka langsung di sambut oleh orang yang mengundang. Mereka di undang untuk acara pernikahan teman pak kiai. Yang mengadakan pengajian di malam harinya sebelum besok pagi akad nikah. Dimas di tugaskan ceramah, Rian di tugaskan jadi MC dan pak kiai baca doa sesudah acara pengajian.
"Terima kasih pak kiai sudah mau mengadiri pernikahan putri saya." ucap teman pak kiai.
"Alhamdulilah, perkenalkan ini murid saya namanya Dimas, dimas yang akan jadi penceramahnya. Ucap Pak kiai sambil melihat wajah Dimas.
"Pak, saya Dimas." ucap Dimas sambil bersalaman.
"Dan ini juga murid saya, namanya Rian, Rian yang akan jadi MC." ucap Pak kiai.
"Saya Rian pak." ucap Rian sambil bersalaman.
Mereka di sediakan makanan yang enak-enak, buah-buahan, dan kue-kue yang rasanya nikmat.
"Wah ... Ini mah rezeki kita Dim" bisik Rian.
"Sist ... Udah jangan nora, makan saja!" ucap Dimas dengan suara kecil sambil tersenyum.
"Lihat Dim, makanannya, beh ... Enak semua, daging rendang, semur jengkol, ada sayur asem juga, beh ... ini mah banyak banget kita, semua makanan ada, sunda ada, betawi ada dan jawa juga ada." ucap Rian dengan suara kecil.
"Bukan daging rendang kali, tapi rendang daging." ucap Rian dengan suara kecil sambil ketawa.
"Ah ... Sama aja." ucap Rian.
"Liat Dim, tenda pernikahannya bagus bangat ya, itu mah mungkin harganya mahal banget." ucap Dimas dengan suara kecil sambil melihat di jendela tenda yang sangat bagus.
"Sust ... Udah ih, jangan nora! Udah diem!" titah Dimas.
Rian takjub dengan semuanya, karena ia belum pernah melihat pernikahan semewah itu dalam hidupnya.
"Ayo, makan, silahkan di makan!" titah teman pak kiai ahmad.
"Pak kiai, silahkan di makan!" titah teman pak kiai sambil tersenyum.
"Iyah." ucap pak kiai.
"ayo makan Dim, yan!" titah pak kiai pada Dimas dan Rian.
'Huh ... Akhirnya makan juga, aku sudah lapar dan ga sabar pengen cicipi makanan ini.' batin Rian.
Mereka baru datang saja, sudah di sediakan makanan yang banyak dan enak-enak. Apa lagi isi amplopnya nanti.
'Wah .. ini mah rezeki nomplok, baru datang aja udah di sambut gini, apa lagi isi amplopnya.' batin Rian sambil makan.