
Kini Dimas dan fatimah sudah berada di dalam taman. mereka duduk di kursi yang ada di taman bunga itu. Dimas tidak memandang wajah fatimah. Sementara fatimah terus merayu mantannya itu sampai Dimas melihat wajahnya fatimah, kini dua insan itu sedang bertatap mata. Fatimah tersenyum di depan Dimas membuat Dimas sedikit tergoda.
"Kak, aku seneng bisa bertemu kakak di sini. Mimpi apa aku semalam bisa bertemu kakak." ucap fatimah semangat.
"Mungkin lagi kebetulan aja fat." ucap Dimas sedikit senyum.
"Iyah. Kakak aku sudah beberapa kali minta kakak untuk kembali lagi sama aku, tapi kakak selalu tolak aku. Andai kakak tau jika di hati ini cuma ada kakak. Aku belum bisa lupakan kakak. Mungkin seumur hidup aku tidak akan menikah kecuali sama kakak." ucap fatimah dengan wajah sedih.
"Jangan ngomong gitu fat! Kamu 'kan cantik, masih banyak pria yang lebih baik dariku." ucap Dimas tanpa melihat wajah fatimah.
"Apa? Kakak tadi bilang aku cantik!" aku kaget kak, kakak masih bisa ngomong aku cantik." ucap fatimah semangat sambil tersenyum.
"Iyah memang semua perempuan itu cantik."
"Hum, tapi 'kan perempuan juga ada yang jelek kak."
"Perempuan itu akan terlihat cantik jika ia sholehah, baik dan cerdas. Cantik atau ganteng itu relatif fat."
"Hum, gitu. tapi menurut kakak aku cantik 'kan?" tanya fatimah sambil tersenyum lebar di depan Dimas. Dimas sedikit melihat senyumannya.
"Fat, kita gak bisa lama-lama di sini, gak baik, karena kita bukan muhrim dan aku juga udah punya istri."
"Dulu 'kan kita pernah ke tempat ini, kakak goda aku, kakak terakhir aku makan bakso dan es krim. Aku masih ingat aja kak, aku gak bisa lupa. Kak meski kakak sudah menikah aku mau kok jadi teman kakak. Istri kakak gak bakalan tau. Aku siap kak kapanpun kakak butuh aku, aku bisa atur waktu untuk kita bertemu."
"Tapi." Dimas tidak melanjutkan bicaranya.
"Tapi apa mas?"
"Aku gak bisa fat, semua tentang kita hanya masa lalu. Kita harus lupakan itu. Kini aku punya masa depan yaitu mumut dan calon anakku. Jadi fatimah tolong jangan berharap kita untuk kembali lagi ya! aku gak mungkin tinggalin mumut, itu dosa besar."
"Kakak jangan tinggalin dia! Kakak tetep sama istri kakak. Tapi kalo kakak ingat aku dan pengen ketemu aku siap kak. Tolong kak kasih waktu untuk aku, aku ingin hari-hariku bahagia bersama kakak." ucap fatimah dengan wajah sedih.
"Maaf fat, aku harus pergi ya. Assalamualaikum."
Ketika Dimas sudah berjalan dua langkah fatimah pingsan. Dimas langsung menghubungi pihak rumah sakit agar di bawakan mobil ambulance Dan Dimas membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Fatimah pingsan, apa dia cuma pura-pura? Tapi kalo di bawa ke rumah sakit kalo dia pura-pura bisa ketahuan dokter." ucap Ridwan yang terus memantau adiknya dari jarak jauh.
***
Ridwan pun mengikuti mobil ambulance. Sampai di rumah sakit, fatimah di bawa ke IGD dan di periksa dokter. Sementara Ridwan mengintip di depan IGD memakai masker dan topi yang menutupi wajahnya.
"Badannya dingin, dan sepertinya selalu telat makan mungkin dia banyak pikiran juga mangkanya pingsan." ucap dokter.
Dalam waktu 30 menit setelah dokter memberikan infusan. Fatimah bangun dan kaget melihat keberadaanya di rumah sakit.
"Kak, kenapa aku ada di sini? Aku kenapa?"
"Tadi kamu pingsan fat. Fat kamu hubungi orang tuamu atau kakakmu suruh ke sini! Aku mau pulang gak enak sama istriku. Aku takut dia menungguku."
"Kenapa aku bisa pingsan kak?"
"Kata dokter kamu badannya dingin, selalu telat makan dan kamu juga banyak pikiran. Jangan gitu ya! Kamu harus makan tepat waktu dan jangan banyak pikiran!"
"Kak, aku kayak gini karena kakak, aku banyak pikiran karena mikirin kakak." ucap fatimah sambil menangis.
"Fatimah kamu jangan seperti itu! Buat apa kamu mikirin orang yang sudah jelas bukan jodohmu."
"Tapi aku yakin kita berjodoh kak." ucap fatimah sambil menyentuh tangan Dimas tapi Dimas langsung melepaskannya."
"Maaf fat, jangan pegang tanganku kita bukan muhrim. Sebaiknya kamu cepat hubungi orang tuamu atau kakakmu suruh ke sini!"
"Gak kak, aku gak mau orang tua dan kakakku tau kalo aku pingsan."
"Kenapa? Tanya Dimas.
"Ya sudah kalo gitu aku pesenin ojek online aja ya, kamu pulang sendiri aja. Maaf aku gak bisa antar."
"Tapi aku pengen di antar kakak."
"Maaf fat gak bisa."
"Aku sudah pesanin ojek online bentar lagi sampai sini. Nanti kamu beres-beres aja terus langsung pulang biaya rumah sakit udah aku bayar. Aku pulang ya."
"Kak tunggu! Aku boleh minta nomer kakak, aku janji aku gak akan ganggu kakak lagi. Tapi kalo kakak lagi butuh aku kakak bisa telpon aku."
Melihat wajah fatimah yang masih lemas Dimas merasa kasian dan dia memberikan nomer hpnya pada fatimah. Fatimah sangat bahagia di beri nomer hp Dimas.
"Tapi kamu janji jangan ganggu aku ya. Nelpon dan lain-lain." ucap Dimas.
"Baik kak."
"Ya sudah aku pulang. Assalamualaikum." ucap salam Dimas.
"Waalaikumsalam." jawab salam fatimah.
Dimas sudah pulang lalu Ridwan menghampiri adiknya. Ridwan yang dari tadi sudah kesal mendengar pembicaraan adiknya yang sedang mengemis cinta pada suami orang. Ridwan juga sedih setelah tau fatimah pingsan gara-gara terlalu memikirkan Dimas.
"Hai dek, ayo kita pulang!"
"Loh, kakak kok ada di sini?"
"Iyah lah, aku selalu memantau kamu, tapi kamu malah pingsan. Ayo pulang!
"Tapi Dimas sudah memesan ojek online untuk aku kak."
"Udah lah, jangan mikirin ojek online itu! Ayo kamu pulang. Aku kesel banget liat kamu tadi ngemis cinta sama si Dimas. Kamu juga pingsan gara-gara dia."
"Gak kak, aku pingsan bukan gara-gara Dimas."
"Sudahlah fatimah, jangan bohong! Kakak sudah tau semuanya. Ayo pulang!" fatimah pun mengikuti langkah kaki kakaknya menuju parkiran dan mereka pulang.
***
Sampai di rumah fatimah langsung masuk kamar, ia juga sudah bicara pada kakaknya agar tidak cerita pada iman dan mimi. Dan Ridwan pun berjanji tidak akan cerita. Setelah satu jam fatimah di kamar, Ridwan memasuki kamar adiknya.
"Ada apa kak?"
"Apa orang yang mengambil kesucianmu Dimas?" tanya Ridwan tegas.
"Bukan kak. Dimas tidak seperti itu."
"Tapi kenapa kamu sampe tergila-gila sama dia bahkan kamu juga sampai pingsan, karena terlalu banyak mikirin dia." ucap Ridwan dengan suara keras.
"Karena di antara mantanku Dimas yang paling baik."
"Fat, kamu harus sadar dong, dia itu sudah tidak mencintai kamu lagi."
"Aku tau kak, tapi aku yakin di hati Dimas masih ada aku. Mungkin dia cinta istrinya tapi masih ada sisa untukku. aku tidak yakin seratus persen Dimas mencintai istrinya. Buktinya dia kasih nomer hpnya."
"Mungkin saja itu nomor palsu."
"Gak kak, ini beneran nomer Dimas, ini propil whatsapp nya." ucap fatimah sambil memperlihatkan poto Dimas di propil whatsapp.
"Kamu liat di propil whatsapp nya aja dia poto sama istrinya, sudah fatimah kamu jangan mengharapkan Dimas lagi."
"Kan cuma poto propil, tapi kalo hati seseorang mana tau. Aku yakin Dimas masih cinta aku."
"Gila kamu dek." ucap Ridwan sambil menggelengkan kepalanya lalu pergi dari kamar fatimah.