
Kini sudah jam 12 malam, mumut belum bisa tidur. Ia ingin membangunkan suaminya agar di belikan sopel atau obat nyamuk.
"Mas, bangun!" mumut membangunkan Dimas sambil memukul lembut tangan suaminya.
"Hum." Dimas tidak membuka mata.
"Mas, bangun! Aku ga bisa tidur mas, banyak nyamuk. Beliin aku obat nyamuk atau sopel!"
"Apa?" tanya Dimas baru membuka mata.
"Aku ga bisa tidur mas, banyak nyamuk, beliin aku obat nyamuk atau sopel!" titah mumut dengan manja.
"Ini di desa mana ada warung jam segini masih ada yang buka. Jam sembilan malam aja udah pada tutup."
"Masa sih mas."
"Iyah. Kamu bawa handbody 'kan, pake aja handbody!"
"Udah mas, tapi tetep aja nyamuknya pada gigit."
"Pake selimut sayang!"
"Udah, nyamuknya banyak banget berisik ke telingaku, pake selimut juga kulitku kena gigit aja." ucap mumut dengan tegas sambil cemberut.
"Ya udah dari pada nyamuk yang gigi kamu, mending aku yang gigit kamu sayang." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Kamu ih, orang istri lagi kesusahan malah bercanda. Kamu gedor aja tukang warungnya mas, nanti juga keluar!"
"Sayang, kemarin ada warga yang mendengar suara orang menangis, itu gosipnya terkenal di kampung ini, jadi tukang warung ga bakalan mau ngelayanin pembeli kalo sudah tengah malam, mereka pada takut." ucap Dimas menakuti mumut, karena ia malas pergi ke warung tengah malam. Ia juga mau mengajari istrinya supaya bisa merasakan jadi orang miskin tinggal di rumah yang kumuh.
"Ko kamu malah nakutin aku mas, bilang aja ga mau." ucap mumut kembali tidur dengan menyelimuti tubuhnya, karena ia merasa takut."
"Maaf sayang." gumam Dimas dalam hati.
Suara ayam berkokok jam setengah empat subuh, Dimas segera bangun dari tidurnya untuk melaksanakan sholat tahajud dan zikir sampai waktu sholat subuh. Ia melihat istrinya yang terlelap tidur dengan di tutup selimut hanya wajahnya yang terlihat.
"Katanya ga bisa tidur, tapi ini pules banget tidurnya." gumam Dimas dalam hati.
Jam menunjukan jam setengah enam pagi, bibi siti sudah berada di dapur untuk masak sarapan. mumut menghampirinya dan membatu masak. Sebenarnya mumut masih ngantuk, tapi dia tidak enak sama bibi siti kalo tidak membantu.
"Neng ga usah! Neng di dalem aja istirahat!" titah bibi siti.
"Aku mau bantu bibi masak, ini bunga apa bi?" tanya mumut saat memegang bunga yang berwarna kuning.
"Itu bunga labu dari kebun dapet di kasih orang neng." ucap bibi siti.
"Ini untuk apa?"
"Bibi mau masak tumis bunga labu."
"Memangnya enak bi?" tanya mumut sambil mengerutkan alisnya.
"Enak neng, rasanya gurih, bibi mau pake ikan teri juga biar tambah nikmat. Kita sarapan pagi ini sama tumis bunga labu, goreng telor, sambal terasi dan nasinya itu nasi liwet." ucap bibi siti sambil tersenyum.
"Wah, aku jadi penasaran sama rasa bunga labu, seumur hidup aku belum pernah coba bi."
"Nanti coba ya! Enak banget."
"Maaf ya, mumut duluan, karena mumut penasaran dengan rasa bunga labu." ucap mumut sambil tersenyum.
"Iyah neng ga apa-apa." ucap bibi siti.
"Enak ini sayang." sahut Dimas.
"Em ... Iyah enak banget, rasanya hampir kay daun genjer, tapi lebih enak ini." ucap mumut setelah mencoba makan bunga labu.
Pagi itu sarapannya beda dari biasanya, Dimas nambah dua kali, mumut dan Rian pun ikut nambah juga. Rasa tumis bunga labu pake nasi liwet di tambah sambel terasi dan goreng telor membuat mereka bertiga nambah dua kali.
"Bibi, maaf ya, kita ngabisin nasi." ucap Rian sambil tersenyum.
"Ga apa-apa, bibi senang kalo masakan bibi di abisin."
"Iyah, ga apa-apa, ayo lanjut makan!" titah om idim.
Tak terasa kini sudah jam sepuluh pagi, meraka harus pulang, karena mobil yang di pake mereka mau di pake orang yang punya. Dimas sebenarnya masih pengen di rumah bibinya, akhirnya terpaksa Dimas pulang. Bibi siti juga belum mau Dimas pulang, ia masih rindu dengan keponakannya. Baru satu malam nginep, eh pulang lagi.
"Dim, memangnya ga bisa nginep lagi, bibi 'kan masih kangen." ucap bibi siti memohon.
"Mobilnya mau di pake orang bi, nanti Dimas kapan-kapan ke sini lagi. Dimas janji bi." ucap Dimas dengan wajah sedih.
"Memangnya ga bisa Dimas di sini aja dulu? mumut dan Rian ga apa-apa pulang."
"Bibi, Dimas 'kan sudah punya istri jadi ga mungkin Dimas biarin istri Dimas tidur sendiri di rumah."
Bibi siti pun hanya bisa pasrah ketika keponakannya akan pulang. Bibi siti menangis, dia sedih karena takut tidak bisa bertemu dengan Dimas lagi. Bibi siti sering sakit selama ini, sudah dua tahun bibi siti sering sakit. satu bulan sembuh, dua minggu sakit. Badannya tidak seperti dulu lagi yang masih sehat. padahal usia bibi siti baru empat puluh sembilan.
"Bi, kenapa bibi nangis?" tanya Dimas sambil memeluk bibinya.
"bibi takut tidak bisa bertemu Dimas lagi." ucap bibi siti sambil menangis.
"Jangan bilang giti bi! Kita nanti ketemu lagi, Dimas 'kan sudah janji." ucap Dimas sambil mengusap air mata di pipi bibi siti.
"Ini buat bibi dan ini buat om." ucap Dimas sambil memberikan uang ke tangan bibinya dan omnya. Ia memberi uang tiga ratus ribu pada bibinya dan dua ratus ribu pada omnya.
"Ga usah dim, Jangan! Bibi 'kan sudah di beri oleh-oleh yang sangat banyak." ucap bibi sempat menolak uang pemberian Dimas.
"Iyah, jangan Dim! oleh-oleh yang Dimas beri saja sudah banyak." sahut om idim.
"Tolong terima bibi, om. Dimas ingin berbagi pada bibi dan om." bibi siti dan om idim pun menerima uang pemberian Dimas.
"Ya sudah Dimas pamit bi, om." ucap Dimas lalu bersalaman atau mencium tangan bibinya dan omnya.
Mereka bertiga sudah masuk ke dalam mobil. tapi tiba-tiba bibi siti memanggil Dimas dan menghampiri mereka lalu memberikan sesuatu.
"Ini buat neng mumut bunga labu, masak ya neng!"
"Ya allah, makasih bi! Tapi buat bibi ada ga?" tanya mumut.
"Bibi udah bosan makan itu, buat neng aja." ucap bibi siti sambil tersenyum.
mereka pun pergi meninggalkan bibi siti dan om idim. Dimas di mobil melihat ke arah bibinya saja, ia merasa sedih ketika meninggalkan bibinya dan omnya yang dulu selalu baik padanya. dan Dimas pun berjanji akan kembali lagi.