Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 99


Mungkin Yuli akan terus menangis. Sampai akhirnya suara dehaman seorang perawat menginterupsi mereka.


"Waktu kalian sudah selesai. Tolong segera pergi."


Seungwu berancang-ancang untuk membalik kursi Yuli. Namun, Yuli menyela sebentar, "Tunggu dulu."


Seungwu menarik napas. Dia mengerti Yuli masih ingin menatap Jimin selama beberapa detik.


Yuli kembali menyentuh kaca, menjajarkan telapak tangannya dengan milik Jimin pucatnya baik-baik. Jimin tampak begitu kurus dan sangat lemah.


Ada banyak hal yang ingin Yuli sampaikan pada Jimin, tapi untuk saat ini Yuli hanya bisa menatapnya sambil menggerakkan bibir dan mengucapkan satu kalimat singkat untuknya.


"Selamat tinggal, Oppa. Aku juga sangat mencintaimu."


Seungwu akhirnya membalik kursi Yuli sampai tak Yuli tidak melihat Jimin lagi. Yuli sebisa mungkin tak menoleh lagi karena rasanya begitu berat. Apalagi setelah Yuli tahu kenyataan bahwa Jimin di prediksi tidak bisa bertahan lebih lama lagi karena setiap hari kondisinya semakin memburuk.


Yuli tidak akan menyalahkan Jimin. Itu adalah pilihannya. Yuli masih menjadi istrinya dan dia ingin Yuli merelakannya. Maka, Yuli akan menurutinya. Mungkin itu memang keputusan yang terbaik.


Benar saja. Hari itu memanglah hari terakhir Yuli bertemu dengan park Jimin.


Dua minggu setelahnya, Jimin dikabarkan tidak bisa bertahan. Jimin menghembuskan napas terakhirnya pada malam hari, di meja operasi, meski keluarganya sudah menyelamatkannya dan merujuknya ke rumah sakit terbaik di Korea. Semuanya tetap sia-sia.


Yuli sebenarnya tahu itu akan terjadi dan sudah mempersiapkan diri, tapi tetap saja sampai hari ini, Yuli masih sulit percaya bahwa Jimin benar-benar meninggalkan dunia ini dengan cara seperti ini.


Yuli tak percaya bahwa kisah mereka akan berakhir dengan cara seperti ini. Setiap pangkah jadi terasa begitu berat, tapi Yuli selalu mencoba tegar setiap kali sadar akan eksistensi bayi kecilnya yang masih sangat membutuhkan Yuli.


Seperti saat ini. Saat Yuli memeluk anaknya, menggendongnya di depan tubuh kaku Jimin sebelum esoknya dimakamkan. Ini adalah penghormatan terakhirnya. Di luar hujan deras dan tubuh kaku Jimin yang berbalut jas terbujur di dalam peti, tak bergerak sama sekali.


Penampilannya seperti ini, selalu mengingatkan Yuli tentangnya yang meminta dipasangkan dasi setiap kali ingin pergi berkerja, padahal sebenarnya Jimin sangat bisa melakukanya sendiri.


Yuli mengulurkan tangannya, menyentuh dasinya yang sedikit miring, lalu merapikannya agar pas terpasang di tengah kerah. Senyum tipis Yuli tersungging, meski terasa begitu pedih, setidaknya Yuli masih bisa membenarkan dasinya untuk yang terakhir kalinya.


"Tidak apa-apa, Oppa. Aku tidak akan marah padamu. Jangan khawatir. Aku sangat mencintaimu. Aku sudah memaafkan dan merelakanmu." Yuli sedikit menunduk, lalu berbisik di dekatnya. "Beristirahatlah dengan tenang."


Yuli gagal untuk tidak meneteskan air matanya di pipinya. Jari Yuli mengusap pipinya yang begitu dingin dan menatap anak mereka dalam gendongan Yuli yang tengah tertidur pulas.


Yuli menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil di depan tubuh kaku Jimin. "Jagan khawatir, aku akan membesarkan anak kita dengan baik."


Yuli lalu merogoh sesuatu dari dalam kantong Yuli dan mengeluarkan secarik kertas yang dilipat kecil. Yuli selipkan kertas itu ke sela-sela tangan dinginnya yang terbungkus sarung tangan putih.


Setelahnya, Yuli kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. Rasanya jauh lebih lega. Meski tak sempat mengatakan banyak hal untuk Jimin, Yuli sudah berhasil menulisnya di kertas. Meski Yuli tahu, Jimin takkan pernah mungkin membacanya lagi.