
Dua hari setelah pengakuan mengejutkan Jimin, yuli tidak bisa memungkiri rasanya sedikit berbeda dari yang sebelum waktu tak tahu apa-apa sama sekali. Bukan berarti dia berubah pikiran untuk tidak meninggalkannya. Mungkin Yuli butuh menenangkan lagi pikirannya, terutama tentang dia yang pernah meniduri banyak wanita.
Yuli jadi membayangkan, jika hanya tujuh yang berhasil tidur dengannya. Bagaimana dengan yang lainnya? Tidak mungkin kan lelaki sejenis Jimin tidak melakukan skinship saat berpacaran? Jadi, mungkin dia sudah berciuman lebih dari enam puluh wanita. Ya ampun, yuli yang ke berapa? Itu baru yang dia akui.
Yuli selalu kesal setiap kali membayangkannya. Pantas saja dia sangat pandai memperlakukan wanita, rupanya itu semua karena memang dia sudah sangat berpengalaman.
Yuli selalu memikirkan itu setiap kali ingin tidur dan bangun. Seperti saat ini, padahal dia sudah bangun selamat dua puluh menit tapi yuli tidak beranjak dari kasur karena masih membayangkan semua itu sambil memandang Jimin yang masih memejamkan mata di sebelahnya.
Selimut tebal masih membungkus tubuhnya hingga sebatas leher, tapi malah suhu menurun drastis hingga dini hari di Jeongseon. Mereka memang masih berada di sini, Jimin belum ingin pulang katanya. Yuli menarik napas, melihat matanya yang memejam tenang. Rambut hitamnya yang berantakan dan garis hitam dibawah matanya pertanda bahwa dia habis terjaga semalam. Dua hari disini, Jimin masih berkerja keras dan tadi malam juga tidak tidur. Dia sibuk bergelut dengan Ipad-nya.
Yuli rasa Jimin baru tidur pukul tiga dini hari. Sekarang Yuli lihat lagi wajah lelahnya, mengingat kembali bahwa dia berkerja keras karena sebuah alasan. Bukan hanya untuk menyembuhkan pikirannya, tapi juga untuk menyempurnakan segala strategi agar 'Wedding season' bisa mendapatkan seluruh penghargaan tahun ini.
Yuli mengangkat tangan hendak menyentuh pipinya, tapi yuli malah melotot karena saat tangan yuli terangkat keluar dari selimut, yuli melihat pergelangan tangannya dililit oleh sebuah dasi berwarna biru tua. Yuli menariknya lagi dan tak di duga tangan Jimin juga ikut terikat, karena ternyata lengannya juga terikat oleh dasi yang sama.
"Ah, apa-apa ini," gerutu Yuli sambil mencoba melepaskan ikatan ini. Jimin mengikat tangan Mereka berdua? Sejak kapan? Kenapa yuli tidak menyadarinya?
Karena terganggu dengan gerakan yuli, Jimin membuka matanya dan yuli tidak menduga bahwa dia langsung memegang tangan yuli yang mencoba melepaskan ikatan ini.
Yuli mengerutkan kening. "ingin bangun, tentu saja. Kenapa Oppa mengikatku?"
"Supaya kamu tidak kabur," ucap Jimin dengan suara yang serak setelah bernapas lega mendengar jawaban Yuli.
Yuli melebarkan mata saat dia justru merapatkan diri pada yuli tangannya yang sudah terlepas karena ikatan yang melonggar kini diletakan untuk meraup perut Yuli.
"Oppa....aku ingin bangun...."rengek Yuli dengan pipi yang memanas, lebih tepatnya karena saat ini kepala jimin telah ditenggelamkan di leher Yuli.
"Masih ingin bersama istriku," bisikan-nya lalu mengecup leher yuli, yuli rasa Jimin memejamkan matanya lagi.
Yuli mengeluh, sedikit mengerang dan mendesah sedikit kecupan itu berubah menjadi sedikit lumayan. Yuli khawatir Jimin akan meninggalkan bekas di sana. Tidak. Beberapa hari lagi wisuda, jangan sampai ada bekas lucu di sana. Yuli lantas menjauhkan kepala Jimin. "Oppa, aku ingin buang air kecil." Itu sebenarnya bukan sebuah kebohongan yang sengaja.
Sepertinya ampuh karena Jimin mulai melonggarkan pelukan. Bisa Yuli dengar hembusan napas jengkelnya, meskipun samar Yuli terkekeh pelan lalu Yuli menggunakan kesempatan itu untuk terbebas darinya.