Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode.55


"Katakan sesuatu yang kasar Jimin. usiar aku seperti yang kamu lakukan setiap kali kamu marah dan hilang kendali." Yang ada di dalam pikiran Yuli sekarang.


Yuli bisa melihat Jimin masih mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Diam, Yul. jangan bicara lagi." Perintah JiminĀ  dengan lembut tapi setiap hurufnya seperti mengandung penekanan.


"Apa kamu tidak mengerti park Jimin? Aku tak ingin bersamamu lagi. Aku sudah cukup bertahan dengan semua kenyataan yang ada pada dirimu. Segala masa lalumu bukan masalah bagiku. Tapi, sekarang semuanya menjadi kacau. Aku tak tahu lagi seberapa banyak kenyataan yang harus aku terima tentangmu? Berapa banyak lagi kenyataan yang belum terungkap dan berpotensi akan menyakitiku?!" Kata Yuli yang sedikit tegas. Dan kata yang ada di pikiran Yuli. "Jangan menangis, Yuli jangan menangis"


Yuli melihat Jimin semakin berjuang menahan sesuatu yang akan meledak di kepalanya. yuli terus menyerangnya. "Oh, iya. Dan jangan khawatir untuk anakku. Aku bisa mengurusnya sendiri. Aku akan merawatnya dengan baik, aku sangat mampu memenuhi kebutuhannya dan --mpphhh."


Sialan Jimin membungkam Yuli dengan bibirnya. Yuli melebarkan matanya terkejut, gerakannya begitu cepat bagai kilat sangat tidak bisa di hindari. Yuli sontak mencoba mendorongnya, mengalihkan wajah tapi bibirnya menekan bibir yuli terlalu keras.


Yuli memukul-mukul bahu dan dadanya, mencoba mendorong saat semuanya terasa semakin menyiksa. Jimin menjauh sedikit, hanya melepaskan bibir Yuli tapi tak melepaskan jarak di antara kedua wajah mereka.


"Masih ingin berbicara?" Jimin menantang dan juga mengancam.


"Kenapa? kenapa kamu tidak melepaskanku?Kenapa kamu seolah menghindar dariku? Kamu pikir semua akan baik-baik saja? Aku tidak bisa bersa_mpphhh."


Jimin mencium yuli lagi.


Berengsek!


Kenapa seperti ini? Bahkan kali ini ciumannya lebih gila, seperti menumpahkan seluruh emosinya lewat gerakan brutal bibirnya yang menyerang yuli tanpa ampun. Tangan Jimin juga bergerak mengurung kedua rahang yuli agar tetap berada di dalam serangannya.


"Ini tidak benar. Ini begitu sakit." Yang ada di dalam Pikiran Yuli.


"Aku benci ini, sangat benci". Pikiran Yuli.


Yuli sudah berhenti memukuli tubuh Jimin dan membiarkan air matanya keluar lagi dan lagi. Mengalir melewati pipi hingga akhirnya mengenai wajah Jimin juga. Hal itu membuat Jimin sadar bahwa yuli sedang menangis. Mungkin, hal itu juga yang membuatnya mendadak diam dan perlahan menjauhkan bibirnya dari Yuli.


Jimin menatap Yuli yang sedang hancur. Untuk kesekian kalinya, jimin menatapnya dengan keadaan lemah.


"Kamu tahu kenapa aku tidak pernah ingin membiarkan ini lagi?" Jemari Jimin bergerak mengusap air mata yuli, membelai pipinya lembut lalu turun ke bibirnya yang baru saja jimin lukai.


"Karena aku tahu ini takkan ada gunanya. Aku akan selalu salah karena memang seperti itu kenyataannya." Jimin memejam sejenak, menahan sesuatu yang sesak dalam dirinya. Saat dia membuka mata, Yuli temukan Indera itu sudah mulai memerah dan berkaca-kaca.


"Aku terlalu takut karena aku tak punya apapun lagi untuk membela diriku, tak punya apa pun lagi untuk tetap menahanmu agar tidak pergi dariku." Jimin mendongak, berusaha menahan sesuatu agar dia tetap menjadi seorang laki-laki yang tegas.


Jimin menarik napas panjang." Aku menghindarimu agar aku tidak kalah, agar kamu tidak meninggalkanku." Jimin menatap Yuli intens.


Lalu perlahan dia mendekati lagi memberi yuli ciuman singkat di bibir, kali ini begitu lembut dan bodohnya yuli tak menghindar.


Jimin mengusap sisi wajah yuli. "Aku terlalu mencintaimu, teserah jika kamu tak percaya dan aku akan selalu egois untuk membuatmu tak pernah meninggalkanku. Itu yang perlu kamu tahu."


Jimin mengakhiri ucapannya membiarkan yuli diam, sampai perlahan dia menyingkirkan tubuh yuli ke samping agar dia bisa berjalan keluar, melewati pintu.


Untuk kesekian kalinya, park Jimin membuat Yuli tercengang. Dan Yuli bingung apa yang harus dia lakukan?