
Yuli sangat ingin mencoba memperhatikannya, tapi rasanya semuanya sia-sia. Jimin seakan berpikir bahwa pekerjaan adalah segalanya. yuli tidak tahu lagi apa yang ingin Jimin capai sebenarnya? Dia sudah memiliki segalanya tanpa harus menyiksa dirinya sendiri.
"Aku semakin ragu dengan pernikahan kalian."Suara Myura menginterupsi yuli yang sedang menikmati sinar matahari siang ini.
"Jimin lelaki yang baik." Sebenernya, itu jawaban agar membuat Myura tak berbicara lebih jauh lagi tentang Jimin.
"Aku tahu, tapi dia sangat aneh. Benar, kan?" Myura menyenggol Gojung yang tengah membaca buku.
"Hmm, sedikit." Gojung menaikan kedua bahu, lalu melanjutkan membaca bukunya lagi.
"Aneh bagaimana?" tanya yuli
"pikiranku saja, kau belum pernah mengenalnya sama sekali. kalian menjalani masa pendekatan yang cukup cepat. itu saja terlihat sangat tidak masuk akal menurutku."
"Tapi, dia sudah tidak terlalu muda lagi." Gojung membalik lembar bukunya.
"Tetap saja. Meskipun karena alasan kesehatan, tapi Jimin seolah tahu cara mencuci hati yuli." Myura lalu meremas satu bahu yuli. "Yuli, kau seharusnya curiga, mungkin saja dia seorang player. seorang lelaki dengan kehidupan dan wajah yang mendukung seperti Jimin tak akan mungkin secepat itu memberikan cintanya pada wanita yang sama sekali hidupnya bersamamu lewat pernikahan, apa itu masuk akal?"
Yuli terkekeh hambar seraya mencerna kalimat Myura. jika dipikir secara mendalam, semuanya memang benar. "Aku tidak tahu. Aku tidak punya alasan dan memang tidak pernah menemukan satu kebutuhan pun tentang Jimin." Entah mengapa, yuli mengucapkannya dengan nada yang putus asa.
"Yuli. kau harus mengenal Jimin lebih dalam lagi."
"Untuk apa aku melakukannya? Namun juga aku akan mengenalnya secara perlahan."
"Bukan soal itu. Masalahnya ini penting bagimu. jadi, semakin kau mengenalnya, semakin kau tahu apa alasanmu untuk bersamanya."
"Apa kau berpikir aku tidak mencintai Jimin?"
Seketika Yuli terdiam. Aku tidak pernah merenung sejauh ini. Kini, hatinya mendadak bimbang.
...****************...
ini seperti sebuah kejutan karena Jimin tiba-tiba menelepon Yuli dan bertanya apakah dia sudah selesai dengan bimbingannya hari ini. Yuli bilang bahwa dirinya akan selesai atau satu jam lagi dan Jimin menjawab akan segera menjemputnya kekampus.
Yuli terpaksa membatalkan niatnya untuk pergi ke toko buku. sebenernya, dia berniat membeli referensi tentang bahasan isu ekonomi internasional untuk mendukung gagasan skripsinya. Namun, ajakan Jimin yang langka ini lebih penting dari segalanya.
Yuli sedang menunggu Jimin di pelataran halaman kampus. Dia terlalu bersemangat dan menebak-nebak ke mana jimin akan mengajaknya. Apakah langsung pulang? Meminta yuli menemaninya ke suatu tempat? atau, Akan berakhir dengan jalan-jalan romantis?
"Kim hoseok yuli?"
Yuli menoleh ketika melihat seorang lelaki yang sedang berjalan ke arahnya, dia tinggi, putih, penampilan modis dengan kaus polos abu-abu dan kemeja biru. Yuli memiringkan kepala saat melihat sebuah kamera mirrorless yang tergantung di lehernya.
"Maaf?" tanya yuli sebenernya menanyakan dia siapa.
"Aku Jungkook." Dia tersenyum, memarkan lesung pipinya. "Maaf, kau pasti terkejut."
Yuli bingung sendiri harus bereaksi seperti apa. jadi, dia hannya bisa berkata."Ada apa?"
Jungkook tersenyum canggung lalu menyodorkan sebuah amplop coklat pada yuli. "Ini, aku kembalikan apa yang seharusnya tidak kumiliki."
Yuli menatap amplop coklat yang di sodorkan oleh Jungkook lalu menatapnya dengan datar.