
Belum lama tenggelam dalam lamunan, yuli merasakan sebelah sisi ranjangnya. Dia melihat ke arah monitor Ipad-jimin, dia sedang membuka sebuah gim terbaru buatannya. Sejenis uji coba? Jari-jarinya terlihat gesit menekan-nekan bagian seperti pengaturan dalam gim tersebut.
Yuli jadi malas mengganggu jimin. Yuli menghela napas, lalu melanjutkan membaca lagi.
"Yuli," panggil Jimin pelan.
Yuli menoleh dan Jimin menatap yuli sambil melebarkan kedua kakinya, membuka sebuah ruangan kosong di antara kedua pahanya yang sudah berjauhan. Tangannya menepuk ruangan kosong itu. "Kemarilah."
Yuli mengerutkan kening. "Kenapa?" kenapa harus di sana, maksud yuli.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu," Jawab Jimin.
Yuli menggigit bibir bawah. Sedikit waspada, posisi itu terlalu rawan. Yuli kan masih sakit, jadi masih takut mendekat. Takut Jimin hilang kendali lagi.
"Tunjukkan saja, Oppa." itu bentuk penolakan halus yuli, dia harap jimin mengerti.
"Yuli, kupikir kau ingin tahu semuanya? Aku punya cara untuk memberitahumu dan ini salah satunya. Kemarilah, istriku....," ucap Jimin lembut, tapi terkesan memaksa.
Yuli masih menimbang, ragu, tapi Jimin lebih dulu mengambil buku yang kepegang. lalu menarik tangan yuli agar bergeser di dekatnya. Bahkan, jimin tidak ragu untuk memisisikan diri yuli agar seperti pada posisi yang jimin mau. Yuli hanya bisa menahan napas sebentar saja Jimin sudah berada di belakang yuli, mengurungnya ke dalam dekapan. Ujung dagu jimin di sandarkan tanpa izin ke bahu yuli, sementara kini kedua tangan Jimin yang sedang memegang iPad itu masih berada di depan yuli.
"Lihat ini," ucap Jimin meminta yuli untuk melihat layar iPad itu. Yuli terkejut saat jimin membuka sebelah gim bertema petualangan berlatar Jeongseon. Mulai dari letak rumah-rumah dan bangunan, senyannya mirip dalam versi animasinya.
Jimin tersenyum. Yuli merasakan karena bibir jimin menempel sedikit di bahu yuli. "Jadi, kau bisa menebak berapa kali aku ke sini?"
Yuli mengerutkan kening. "Yang pasti lebih dari sepuluh kali, entahlah."
"Dua kali."
Yuli nyaris tidak percaya. "Dua kali?" Itu berarti ini yang kedua kalinya jimin pergi ke sini. Namun, secepat itu juga yuli berpikir. "Oh, aku tahu. mungkin yang pertama kali, kau sampai tinggal di sini selama berbulan-bulan agar bisa memahami kondisi geografis tempat ini," tebak yuli spontan.
Jimin terkekeh lagi, tapi yuli sungguh geli. Masalahnya, setiap kali jimin tertawa, napasnya terasa di daerah leher yuli. Oke, yuli harus tenang.
"Kali pertama, aku cuma tiga hari di sini," jawab Jimin lagi.
Yuli tidak percaya. dia sedikit menoleh. "Hmm?sungguh?" Jimin mengangguk, lalu mendaratkan ciuman singkat di pipi yuli.
Jimin menarik napas. "Aku hanya butuh waktu saat melihat semua lokasi. Besoknya kutelusuri, lalu kupotret bagian-bagian pentingnya saja. Jadi, aku tak perlu kemari lagi untuk memastikan. Kau tahu? Gim yang ini memenangkan penghargaan dari lembaga kebudayaan Korea karena penggambarannya yang menarik dan sangat mirip dengan dengan lokasi aslinya. Bahkan, lorong-lorong dan suara pengiring yang kuambil dari dialog serta kesehatan masyarakatnya."
Ini pertama kalinya yuli senang mendengar jimin. "Aku berkerja keras bersama timku. kau mengingat Im jangsik?"
Bayangan lelaki paruh baya yang suka tersenyum itu muncul di kepala yuli. Dia ingat pertama kali bertemu dengannya saat yuli dan Jimin masih dalam masa pendekatan jimin pernah mengajak yuli ke kantornya untuk makan siang, saat itu yuli menjadi pusat perhatian. jujur saja, yuli sempat tidak nyaman.