Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 57


"Kenapa aku harus pergi menemanimu? Kamu biasanya pergi sendiri!" Yuli menatap kesal ke arah lelaki tiga puluh tahun ini.


Dia tiba-tiba saja masuk ke kamar dan menyodorkan pakaian yang harus Yuli pakai malam ini untuk menemaninya pergi ke ulang tahun rekan bisnisnya. Apa Jimin masih waras? Apa yang membuatnya yakin kalau Yuli akan mau pergi bersamanya?


"Apa kamu ingin aku pergi dengan sekretarisku?" Dia malah menantang.


"Apa aku terlihat peduli? Jika kamu ingin, pergi saja." Padahal, sebenernya tangan Yuli  sudah ingin sekali mencakar-cakar wajahnya.


"Tahan Yuli, kamu harus tenang." Dalam pikiran Yuli.


Jimin maju selangkah lagi, lalu kembali menyodorkan tas yang berisi pakaian baru itu. Yuli tidak tahu sejak kapan dia membelinya. Jimin menatap Yuli santai.


"Pakai sendiri atau kupakaikan?" Itu bukan pertanyaan, itu ancaman.


"Aku tidak mau memakainya!"


"Lepas bajumu sekarang atau aku yang melepaskannya?" Jimin sama sekali tidak memberi pilihan. Dia memerintah.


Yuli menatap Jimin kesal. "Aku tidak mau pergi, kenapa harus memaksa?"


"Kamu akan tahu nanti, cepat ganti pakaianmu." Jimin mengambil tangan Yuli, lalu menggantungkan tali dari kantong itu di pergelangan tangan Yuli. "Aku akan kembali kesini dua puluh menit lagi, jika kau belum memakainya. Aku benar-benar akan memakaikannya sendiri untukmu."


Yuli baru ingin protes, tapi Jimin sudah berbalik duluan. Sebenernya, Yuli sedikit memikirkan kalimatnya bahwa Yuli akan segera tahu. Apa yang akan Yuli ketahui? Kenapa Yuli harus ikut dulu ke acara itu baru bisa tahu? Sial. Yuli sangat penasaran, tapi Yuli tidak ingin pergi bersama Jimin.


Yuli menghela napas panjang. Sepertinya, dia memang dilahirkan untuk tidak punya pilihan.


★★★★★


Yuli sangat gugup. Apalagi saat dia melihat  undangan perayaan acara ulang tahun ini yang sangat mewah dengan pita amplop tebal yang berlapiskan emas. Yuli membaca nama yang berulang tahun. Kim Yeonguk. Yuli diam-diam mencari namanya di ponsel ah, iya akhirnya Yuli memakai juga ponsel pemberian Jimin.


Kim Yeonguk adalah seorang pengusaha muda yang menjalankan bisnisnya di bidang transportasi. Usianya 37thn, lebih tua 7thn dari pada Jimin. Dia juga baru melangsungkan pernikahan 2thn lalu dengan istrinya, Kim Jira, seorang wanita karier yang sukses di bisnis perhiasannya.


Yuli tidak tahu seberapa kaya orang ini. Sepertinya, dia ini memang lebih kaya dari pada Jimin yang belum lama naik jabatan menjadi CEO. Dan, pemikiran itu semakin membuat Yuli gugup karena di sana pasti banyak orang penting yang datang.


Yuli juga membaca tentang ulang tahunnya pada saat Yuli mencari namanya, bahkan kabarnya banyak penjabat negara yang datang dan juga artis-artis papan atas.


Sementara di sebelah Yuli, Jimin terlihat begitu santai selama mobil ini dibawa oleh sopir pribadi Mereka. Jimin sibuk dengan ponselnya, seperti biasa, terlihat begitu serius dengan perkerjaanya. Namun, harus Yuli akui bahwa penampilan Jimin hari ini sangat berkelas. Penampilannya hari ini bahkan dua kali lipat lebih menawan dari pada saat pernikahan mereka berdua.


"Sebentar lagi kita sampai," Jimin menutup ponselnya sambil melirik jam Rolex yang terpasang ditangannya.


Yuli diam, lebih tepatnya semakin gugup. Yuli tidak tahu harus melakukan hal apa saat berada di dalam nanti. Pastinya, yuli akan bertemu banyak orang asing.


"Jangan Khawatir, jangan jauh dariku. Kita tidak akan terlalu lama di sana."


Kenapa Jimin tidak mengerti bahwa Yuli sangat ingin pulang? Padahal, biasanya dia sangat peka.


Mobil ini mulai memasuki sebuah area yang begitu megah, bagai istana. Sebuah gerbang yang terbuka secara otomatis setelah undangan ditempelkan pada alat sensor yang terletak di depan gerbang.


Yuli melihat sebuah teman yang begitu luas. Gedung bagai istana yang indah dengan kilau warna lampu yang berpadu, membuat siapa pun yang masuk di dalamnya bagai hadir di negeri dongeng.


"Kau menyukai kemewahannya?"


Jimin membuyarkan lamunan Yuli saat Yuli baru saja keluar dari mobil. Yuli tidak menjawab, hanya diam sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jimin tersenyum hambar, sepertinya sudah terbiasa dengan ketidakacuhan Yuli. Tidak Yuli duga, Jimin meraih lengan Yuli untuk dikaitkan dengan lengannya, memosisikan Yuli seolah memegang dirinya.


"Nanti akan kubangun yang lebih mewah dari ini untukmu dan anak kita," bisik Jimin di dekat telinga Yuli.


Yuli hanya menoleh, tercengang tapi juga merasa aneh. Lalu, tersadar saat menunduk melihat tangan mereka yang sudah bersatu.


"Aku tidak mau bergandengan denganmu," ucap Yuli mencoba menarik tangannya menjauh, tapi secepat itu juga Jimin menahan tangan Yuli.


"Ini bukan tempat yang aman untukmu bisa terlepas dariku," bisik Jimin lagi, menegaskan. Jimin menoleh pada Yuli, menatap Yuli serius. "Kamu sayang dirimu dan anak kita, kan?"


"Kenapa nada bicaranya jadi terdengar misterius?" Pemikiran Yuli 


Yuli menaikan sebelah alis, bingung dengan raut wajahnya. Bola mata Jimin bahkan menoleh ke kiri dan kanan, seolah memastikan tak ada siapa pun yang mengawasinya. Setelah itu, Jimin menghembuskan napas pelan dan menatap Yuli lagi.


"Tetaplah di sisiku, ikuti permainannya."


Seketika mata Yuli melebar.


Brengsek! Jadi, dia ke sini untuk permainannya?!