
Suaranya agak serak, seperti orang yang sangat lelah karena seharian habis berkerja. Tapi anehnya saat dipadukan dengan suara rintik hujan di luar sana, suara jimin bisa menjadi sangat menenangkan.
"Aku tahu kamu mungkin masih meragukanku." jimin terkekeh pelan, menetawakan dirinya lirih. "Tapi entah kenapa aku tidak peduli dengnan semua itu. Tidak untuk saat ini."
Jimin diam, lalu mendaratkan sacu kecupan menujuh sisi leher yuli. jimin menahannya selama tiga detik, bahkn saat dijauhkan pun, tidak benar-benar jauh. Ujung hidung jimin bahkn masih menempel.
Hal yang ada dipikiran yuli. "Ya Allah kumohon buat jimin menghentikan ini!"
"Aku akan tetap selalu melindungimu dan juga anak kita. Kmu harus percaya padaku." Jimiin melayangkan jarinya untuk mengusap bawah pipi yuli. Sepertinya jimin mulai memaksa yuli untuk membuka mata.
"Yuli, kamu tidak merinduhkanku? Kamu tidak ingin melihatku?" yuli diam. Tidak tahu harus menjawab apa.
Jimin lalu mengeratkan pelukannya. "Yuli.....," ppanggil jimin lembut.
Yuli hanya mengambil napas panjang, jantung yuli bisa copot jika terus-terusan mendengar suara jimin itu.
"Apa kamu pernah berpikir bahwa aku mempertahankanmu hanya karena aku menginginkan seorang anak yang sedang kamu kandungan?"
Sialan. Bagaimana jimin bisa tahu kalau yuli pernah berpikir eperti iytu? Sepertinya tingkat kepekaan seorang pank jimin tidak bisa diragukan lagi. Padahal seingat yuli tak pernah menceritakan itu pada siapa pun. Namun kenapa jimin bisa tahu?
"Jika pernah berpikir demikian, maka kamu harus berpikir lagi, bahwa jika aku hanya menginginkan seorang anak, maka aku bisa saja menghamili wanita lain. Tak perlu menikahinya, tak perlu memberinya perhatian. Aku hanya perlu menyewa rahinya untuk melahirkan anak untukku."
Sumpah demi apa pun, yuli sangat tidak menyangka jimin akan mengatakan hal seperti itu dengan santainya, tapi di sisi lain itu memak masuk akal juga sih. Knapa harus yuli jika memang jimin ingin seorang anak.
"Mungkin awalnya aku yerkesan jahat karena memanfaatkan pernikahan kita untuk Wedding Season, tapi aku takkan mungkin menika denganmu jika tidak memiliki perasaan padamu. Aku tertarik padamu, aku menyukaimu, aku bahkan menyukai saar kamu tak melakukan apa pun selain bernapas."
"Saat aku melihatmu , aku melihat harapan baru dalam hidupku. Kamu seperti menarikku ke dalam siklus hidup yang sudah kujalani selama bertahun-tahun. Kamu adalah alasan kenapa aku memilih tujuan untuk memikirkan masa depan saat aku sendiri tidak tahu lagi apa yang diriku inginkan karena kupikir aku telah mendapatkan semuanya."
Hati yuli mendadak terasa begitu ngilu, bahkan yuli sampai tak sanggup lagi menahan pejaman ini, lebih tepatnya karena air mata yang melesak keluar menembus matanya.
Hingga perlahan yuli membukanya dan menemukan jimin yang masih menatapku dengan penuh penyesalan.
"Maafkan aku dan berilah aku satu kesempatan lagi," pita jimin dengan ibu jari yang mengusap bagian bawah pipi yuli.
"Jika aku membuatmu tersika lagi, maka aku berjanji takkan pernah memunculkan diriku di hadapanmu lagi."
Dan membayangkan itu saja sudah membuat air mata yuli mengalir deras. Apa yuli bisa hidup tanpa melihat jimin? Sedangkan, mereka berpisah dua minggu saja yuli sudah sampai seperti ini. Apakah sebesar ini cinta yuli pada jimin?
Iya, yuli memang terlalu mencintainnya.
Yuli menarik napas panjang, lalu tangan kiri yuli bergerak untuk menyentuh tangan jimin yang masih setia mengusap pipi yuli. Yuli menggenggam tangan itudengan erat, lalu menatap jimin tegar. Lalu akhirnya berkata.
"Kalau begitu berjanjilah kamu akan memenangkannya untukku. Apa pun yang terjadi."
Jimin tak bisa menyembunyikan senyumnya itu. Dia bahkan terlihat terharu, seperti tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Jimin langsung mengecup kening yuli.
"Panti, pasti akan kumenangkan ni untukmu,' ucap jimin sebelum akhirnya berjalan memeluk tubuh yuli lalu mengecup kening yuli lagi berkali-kali.